Ba’iat Mujahidin Libya kepada Khalifah Ibrahim


Shoutussalam Islamic Media
menghadirkan
Terjemah Indonesia
Ba’iat Mujahidin Libya kepada Khalifah Ibrahim

بسم الله الرحمن الرحيم

Pernyataan Bai’at Mujahidin Libya
Kepada Khalifah Muslimin Abu Bakr Al-Baghdadi
Dan Bergabungnya Mereka dengan Daulah Islam


Sesungguhnya, segala puji hanya bagi Allah. Kami memuji-Nya, meminta pertolongan-Nya dan ampunan-Nya, dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan niat kami. {Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya} [Al Kahfi: 17]. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) kecuali Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya, di antara yang telah menjangkiti umat kita adalah perpecahan, perselisihan, penindasan, dan masing-masing individu terkotak-kotak oleh pendapatnya pribadi. Karena perselisihan ini, orang-orang jahat di antara manusia memperoleh kekuasaan atas kita, orang-orang yang tidak memiliki moral memerintah kita, dan ruwaibidhah (orang yang berbicara tanpa ilmu) mulai berbicara. Kemudian malam-malam kita berubah menjadi suram oleh tahun-tahun penipuan di mana seorang pendusta dibenarkan dan seorang yang jujur didustakan, dan kita diperintah oleh pemimpin yang mengadopsi pemerintahan mereka dari Fir’aun dan menimbun kekayaan seperti Qarun. Mereka ditolong dalam penindasan mereka oleh para penyeru kepada keburukan, mereka itu dalam pandangan Allah lebih rendah daripada seekor anak keledai. Mereka menyeru kepada pintu neraka dan barangsiapa menyambut seruan mereka maka ia akan masuk ke dalamnya.

Ketika kita tenggelam dalam kesedihan yang suram, fajar Khilafah mulai terbit, kegelapan mulai berubah bercahaya, dan penghalang telah hilang. Allah memudahkan bagi mujahidin suatu urusan kebaikan, karena mereka bisa diandalkan di dalamnya. Mereka terus berjalan di atas kebenaran, sebagaimana yang kita saksikan dalam penghormatan kelompok mereka kepada Islam dan kemuliaan orang-orangnya. Kemudian juru bicara mereka memproklamasikan, “Sambutlah seruan dari Allah.” Maka di antara mereka yang meyambut seruan tersebut adalah sekumpulan batalion dan faksi mujahidin di Libya di tiga wilayah berikut – Barqah, Fazzan, dan Tarablus (Tripoli)- disebabkan firman Allah, {Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai} [Ali Imran: 103]. Dan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak ada bai’at maka dia mati dalam keadaan jahiliyah” [HR. Muslim].

Oleh karena itu, sebagai ketaatan kepada perintah Allah (‘azza wa jalla) dan ketaatan kepada Rasul-Nya (shallallahu ‘alaihi wa sallam), perintah untuk tidak berpecah belah dan berpegang teguh kepada jama’ah, kami mengumumkan bai’at (janji setia) kepada Khalifah Ibrahim ibn ‘Awwad ibn Ibrahim al Qurasyi al Husayni, bersumpah untuk mendengar dan taat, dalam kesulitan dan kemudahan, dalam suka maupun benci. Kami bersumpah tidak mencabut perkara dari pemegangnya kecuali kami melihat kekafiran yang nyata seraya kami memiliki buktinya dari Allah. Kami menyeru kepada kaum Muslimin di manapun untuk memberikan bai’at kepada Khalifah dan menolongnya, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan aktualisasi kewajiban yang diabaikan di zaman ini.

Kami bersumpah setia karena kebaikan umat ini, baik urusan agama dan duniawinya, tidak akan dapat diperoleh kecuali dengan seorang pemimpin yang memerintah manusia dengan hukum Allah, memaksa para pembangkang kembali kepada kebenaran, dan memerangi mereka yang keras kepala dan mereka yang menghalang-halangi manusia dari agama Allah. Inilah pondasi agam –kitab sebagai petunjuk dan pedang sebagai penolong. {Dan cukuplah Rabb-mu sebagai pemberi petunjuk dan penolong} [Al Furqan: 31]. Ibnu Taimiyyah (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Wajib atas manusia mengetahui bahwa kepemimpinan yang mengurus urusan manusia termasuk kewajiban agama yang paling besar, bahkan tidaklah urusan agama dan dunia akan tegak kecuali dengannya. Karena sesungguhnya mashlahat anak cucu Adam tidaklah sempurna kecuali dengannya. Ketika mereka bersatu bersama maka mereka harus memiliki pemimpin, dan syariat telah menjadikannya wajib dalam perkumpulan yang kecil, demikian itu menunjukkan bahwa hal itu juga berlaku atas berbagai perkumpulan lainnya yang lebih besar.” Selesai perkataan beliau, semoga Allah mencurahkan berkah atas beliau.

Kami bersumpah setia karena tidak ada solusi bagi perselisihan selain Khilafah. Oleh karenanya, kami menyeru kepada setiap Muslim kepada kebaikan ini, karena sesungguhnya, hal ini lebih membuat geram musuh-musuh Allah. Demi Allah, berkumpulnya kita di bawah seorang pemimpin lebih berat bagi musuh-musuh Allah daripada seribu kemenangan di medan tempur. Dan jangan terperdaya dengan pembelotan orang yang membelot. Ibnu Hazm (rahimahulla) berkata, “Dan bagi mereka yang berkata bahwa imamah tidak valid kecuali dengan persetujuan seluruh pembesar umat dari berbagai negeri, maka hal ini keliru, karena hal ini menuntut sesuatu yang tidak mungkin, di luar kemampuan seorangpun, dan merupakan beban yang paling berat, padahal Allah tidak membebani seorangpun di bawah kemampuannya. Allah berfirman, {Dan Dia tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesulitan pun} [Al Hajj: 78].” Selesai perkataan beliau, semoga Allah mencurahkan berkah atas beliau.

Sedangkan untukmu, wahai orang-orang murtad, termasuk orang-orang sekuler, parlemen, dan penolong-penolong mereka dari kalangan polisi, tentara dan sahawat, demi Allah kami telah mempersiapkan untuk kalian minuman paling pahit, kematian paling buruk, peperangan paling menghancurkan, dan tentara paling agresif dengan izin Allah. Wahai pengekor penyembah salib, wahai laki-laki, kalian yang memulai ini, tetapi kamilah –dengan izin Allah- yang akan menyelesaikannya. Kalianlah yang menghancurkan rumah-rumah keluarga mujahidin. Demi Allah, demi Allah, kami akan menunjukkan kepada kalian wajah peperangan dan pertempuran yang sengit.

Jika sebuah kaum menyerangku, aku balas menyerang mereka,

Maka apakah aku, -wahai keluarga Hamdan- orang yang dzalim?

Jika kalian tidak memiliki hati yang cerdas dan sebuah pedang,

Dan semangat dan menantang, hak-hakmu akan meninggalkanmu. (Syair)

Sebagai seruanku kepada suku-suku yang baik dan diberkahi aku berkata, wahai orang-orang yang berjiwa kesatria dan memiliki rasa cemburu, wahai orang-orang yang memiliki nasihat dan kekuatan, wahai keturunan Tariq bin Ziyad dan Uqbah bin Nafi’, wahai orang-orang dengan garis keturunan mulia, kami adalah putra-putramu mujahid. Kami tidak datang kepadamu dari langit, tidak juga datang kepadamu dari dalam bumi. Melainkan kami berasal dari suku-suku tersebut. Kami dikandung dalam rahim yang suci, dan dirawat di atas martabat, kemuliaan, jiwa kesatria, dan rasa cemburu dari sumber yang sama dengan yang kalian minum. Kami datang untuk menolong agama Allah, dan untuk melihat kalian dimuliakan karenanya dan memerintah dengannya di antara kalian, tetapi ada beberapa orang yang berdiri menghalang-halangi tercapainya tujuan ini, dan sangat disayangkan, mereka berasal dari suku-suku kami. Maka tahanlah pelanggaran mereka dan beritahulah mereka untuk berhenti, atau lepaskan tanganmu dari mereka dan kami akan menyelesaikan sendiri urusan kami dengan mereka untuk kalian dan membela kalian dari mereka, dengan pertolongan Allah. 

{Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya} [Yusuf: 21].


Audio:
Video:
Transkip Bahasa Arab:
Transkip Bahasa Inggris:
Transkip Bahasa Indonesia:


-----------------------------------
[singa/shoutussalam]

 




Top