SEO BLOG & TEMPLATES
Anti Thoghut »
Mujahidin
»
Biografi Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi Amir Daulah Islam Iraq Dan Syam
Biografi Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi Amir Daulah Islam Iraq Dan Syam
Posted by Anti Thoghut on Minggu, 08 September 2013 |
Mujahidin
Nama: Abu Dua, Ibrahim bin Awad bin Ibrahim Al-Badri Al-Radawi Al-Husseini Al-Samarra’i.
Beliau adalah keturunan dari suku Al-Sada Al-Asharaf Al-Badriyin
(Al-Bu’Badri) Al-Radawiya Al-Husayniyya Al-Hasimiyyah Al-Qurayshiya
Al-Nizariya Al-Adnaniya.
Status Perkawinan: Sudah Menikah
Amirul Mu’minin adalah seorang mantan guru, pendidik, dan seorang
khatib ternama. Beliau lulusan Uneversitas Islam Baghdad dan menempuh
pendidikan dalam semua level akademik (Bachelor, Master, dan Phd)
disitu. Beliau sebelumnya dikenal sebagai seorang khatib dan terpelajar
dalam bidang kebudayaan Islam, Ilmu-ilmu Syariah dan fiqh, serta juga
dikenal sebagai seorang yang ahli dalam ilmu sejarah.
Beliau
adalah seorang keturunan ningrat yang mempunyai hubungan yang luas serta
pengaruh yang kuat dan jelas terhadap anggota-anggota suku beliau di
Diyala dan Samarra sampai mereka menyatakan dengan penuh kerelaan serta
keyakinan bai’at mereka terhadap Daulah Islam Iraq dan Amirul Mu’minin
dari Daulah Islam Iraq yang pertama Abu Omar Al-Baghdadi Al-Quraysyi.
Mereka memberikan bai’at mereka terhadap Amirul Mu’minin dan Daulah
dalam awal-awal pembentukan dan kemunculannya di atas arena jihad Iraq
saat pendeklarasiannya secara resmi pada sepuluh hari terakhir di bulan
suci Ramadhan 1427 H/2006 M.
Diketahui juga bahwa DR. Ibrahim
Awad adalah sesosok figur ternama dari Salafi Jihadi. Ulama yang sangat
terkenal di Diyala dan Masjid Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah di
kota Samarra. Beliau adalah seorang lelaki dari sebuah keluarga yang
agamis. Saudara-saudara laki-lakinya serta paman-pamannya juga merupakan
Khatib-khatib dan profesor-profesor dalam bidang bahasa Arab, retorika,
dan logika. Aqidah mereka adalah aqidah para Salaf (Ahlu As-Sunnah wa
Al-Jama’ah). Bapak Beliau Syaikh Awad adalah termasuk tetua/tokoh dalam
suku mereka Al-Bu’Badri yang mencintai agamanya, mengajak kepada akhlak
mulia dan kebaikan serta mendukung kepada pelaksanaan amar ma’ruf dan
nahi Munkar. Kakek Beliau yang bernama Haji Ibrahim Ali Al-Badri dikenal
akan ketekunannya dalam melaksanakan ibadah sholat berjama’ah, berbuat
baik terhadap karib kerabat, dan sangat memperhatikan pemenuhan
kebutuhan dari keluarga-keluarga yang tidak mampu. Haji Ibrahim
meninggal beberapa tahun yang lalu di masa pendudukan setelah beliau
dikarunia hidup yang lama di dunia dalam ketaatan, berbuat baik pada
karib kerabat, dan amal perbuatan baik lainnya. Allah Rabb semesta
dengan Kemahalembutan serta Kemurahan-Nya menganugerahi kakek Amirul
Mu’minin Haji Ibrahim Ali umur yang panjang yang hampir mendekati 95
tahun. Ketiadaan rekaman audio dan video dari Amirul Mu’minin bukan
berarti beliau tidak punya kemampuan retorika atau lemah dalam segi
bahasa atau hal yang sama dengan itu. Semua itu tidak benar dikarenakan
beliau mempunyai kefasihan dalam berpidato dan kekuatan bahasa, beliau
adalah seorang yang memiliki kecerdasan nyata serta kebijakan sehingga
beliau mampu menggabungkan antara dua karakter dari para mantan Amir
Daulah saat beliau menggabungkan antara ketenangan,
ketidaktergesa-gesaan ketika melakukan sesuatu dan kehati-hatian yang
tinggi (rasa keamanan) milik Abu Omar Al-Baghdadi serta kecerdasan dan
keberanian milik Abu Ayub Al-Masri.
Kehati-hatian akan
keamanan dan pengalaman kemiliteran dari Abu Dua (Abu Bakar Al-Baghdadi)
bertambah karena pengalaman dalam taktik selama perang yang sudah
berlangsung selama delapan setengah tahun. Beliau menyeru dan mendorong
untuk berperang, beliau sendiri pun ikut berperang, kemudian pernah
tertangkap lalu dibebaskan, beliau telah mengikuti banyak pertempuran,
membentuk jama’ah-jama’ah, dan berpartisipasi dalam pembentukan jama’ah
lainnya serta mendukungnya. Beliau kemudian bergabung dengan Majelis
Syuro Mujahidin Daulah Islam Iraq sebagai anggota sampai beliau dalam
deklarasi resmi Daulah Islam Iraq pada tanggal 16 Mei 2010 diangkat
sebagai Amir untuk Daulah Islam Iraq. Beliau tidaklah mencapai status
tersebut kecuali terlebih dahulu melewati beberapa tingkat tahapan
sampai beliau pantas untuk menduduki jabatan tersebut.
Pada
awalnya beliau bersama dengan beberapa kawannya mendirikan Jama’ah Jaisy
Ahli As-Sunnah wa Al-Jama’ah yang aktif secara khusus di
provinsi-provinsi Diyala, Samarra, dan Baghdad dan beliau mengepalai
komite Syariah di jama’ah tersebut. Jama’ah ini kemudian memberikan
bai’atnya dan bergabung dengan Majelis Syuro Mujahidin sepekan setelah
pendeklarasiannya. Kemudian beliau bergabung dengan Komite Syariah yang
merupakan bagian dari Majelis Syuro dan setelah itu menjadi anggota
Majelis Syuro tersebut. Setelah pendeklarasian Daulah Islam Iraq, beliau
menjadi Pengawas Umum Komite Syariah dari seluruh Wilayah dan juga
menjadi anggota dari Majelis Syuro Daulah Islam Iraq. Beliau mempunyai
pengaruh serta peran yang nyata dalam bai’at beberapa suku-suku di
Samarra kepada Abu Omar Al-Baghdadi, beliau juga berpartisipasi dalam
bai’at sukunya dan para pemuda sukunya kepada Daulah. Dan setelah
beberapa tahun berlalu maka adalah logis bahwa Abu Omar Al-Baghdadi
Al-Husseini Al-Quraysyi (Hamid Al-Zawi) memilih beliau untuk
menggantikannya. Tidak ada keraguan dalam hal tersebut karena Abu Mahmud
(panggilan untuk Abu Omar Al-Baghdadi) memiliki tingkat kehati-hatian,
kecermatan yang tinggi dan memiliki perhitungan-perhitungan serta
mempertimbangkan semua kemungkinan-kemungkinan kemudian merekomendasikan
DR. Abu Dua (Abu Bakar Al-Baghdadi) menjadi penggantinya.
Biografi ini dikumpulkan untuk mendukung dan berlaku adil terhadap
Amirul Mu’minin Abu Bakar Al-Baghdadi ketika seseorang yang mereka
kritik dengan lidah yang tajam dan melupakan semangatnya, kebulatan
tekadnya, serta dukungannya kepada rakyat Suriah dengan harta dan jiwa
meskipun berada dalam kekurangan. Salinan Biografi ini juga dikirimkan
kepada mereka-mereka yang tidak mengenal orang-orang yang berada dalam
jihad, mengenai kebaikan hati dan kesungguhan mereka. Jadi tidak
inginkah orang-orang yang suka berteori untuk duduk manis di dalam rumah
mereka saja kemudian menahan lisan-lisannya dari mengkritisi
mereka-mereka yang berada dalam jihad???!!!
Unjustmedia
Sumber: Ahya Al Islam
(Abu Jundi/MI-News)
Tweet
