SEO BLOG & TEMPLATES
Anti Thoghut »
Thoghut Demokrasi
»
Inilah Pendekatan Logika Kami Untuk Tidak Mencoblos
Inilah Pendekatan Logika Kami Untuk Tidak Mencoblos
Posted by Anti Thoghut on Minggu, 06 April 2014 |
Thoghut Demokrasi
Pemilu tidak dipungkiri merupakan instrumen demokratis milik para
penganutnya untuk mempertahankan eksistensi kekuasaan mereka, meski bisa
jadi alat yang dipakai tersebut belum tentu menjadi satu-satunya cara
dan belum tentu menjadi jalan yang paling penting.
Hingga saat
ini, saat kaum muslimin jatuh berkali-kali dengan takwil yang sama untuk
berpartisipasi dalam pemilu. Ternyata jurus serupa masih juga dipakai.
Hanya saja memang ada pergeseran siapa saja yang menjadi tukang promosi
mencoblos.
Jika dulu pejuang A anti mencoblos, kini giliran
pejuang B yang dulunya anggota dewan malah anti dengan politik. Yang
mengherankan, pejuang A malah getol mempromosikan dirinya untuk
dicoblos.
Faktanya, jika dianggap sebagai perjuangan yang tulus,
dasar takwil semua aktivis yang masih mengaku muslim untuk masuk ke
dalam sistem selalu dengan alasan mengambil madharat yang lebih kecil.
Namun juga sebuah fakta bahwa selama hampir 70 tahun sejak proklamasi
NKRI, takwil tersebut tak pernah menghasilkan buah yang menggembirakan.
Bahkan
yang ada hanya kehinaan-kehinaan baru yang diterima kaum muslimin, saat
ideologi pragmatis dalam menghadapi demokrasi itu dipaksakan.
Kini
saatnya menyegarkan kembali pemikiran muslimin, dengan logika yang
tidak terlalu rumit, untuk sedikit mengurai benang kusut. Bahwasanya
berpartisipasi dalam instrumen demokrasi sejenis dalam bentuk yang
paling kecil sekalipun, adalah tidak memiliki manfaat. Bahkan
menghindarinya adalah sebuah manfaat yang besar.
Berikut alasan
logis mengapa kita semua sebagai umat Islam yang sudah dikaruniakan
kesadaran lebih dalam iqomatuddin untuk tidak mencoblos.
1. Pemilu adalah bagian dari strategi ideolog demokratis internasional untuk mempertahankan hegemoninya.
Pemilu
merupakan sandiwara yang dipakai oleh ideolog-ideolog Demokrasi untuk
mempertahankan hegemoni mereka. Hegemoni itu bisa saja berupa hegemoni
ideologis, yakni bertahannya bentuk demokrasi yang plural itu sendiri,
atau bisa saja demokrasi merupakan sebuah alasan pragmatis untuk
mempertahankan kepentingan yang sebenarnya tidak idealis.
Saat
perang fisik menghabiskan tenaga, baik secara psikis maupun fisik itu
sendiri, maka pemegang hegemoni demokrasi, seperti Amerika, akan
menawarkan jalan pragmatis bagi lawan-lawan mereka.
Dan dalam
kasus penjajahan model baru yang dilakukan Amerika, termasuk di negara
berpenduduk muslimin seperti Afghanistan dan Indonesia, maka pemenang
sebenarnya dari pemilu telah diskenariokan jauh-jauh hari sebelumnya di
CIA dan Pentagon.
Pemungutan
suara hanyalah kedok untuk memperoleh hasil legitimasi yang dipandang
memuaskan semua, atau paling tidak mayoritas kalangan. Terutama saat
demokrasi di zaman kejayaan liberal saat ini, menawarkan banyak
kenikmatan duniawi bagi penduduk dunia.
Hal ini dilukiskan oleh
penjelasan Imarah Islam Afghanistan tentang kebijakan mereka
menghancurkan dan mengirhab pemilu setempat.
“Setiap orang juga
harus menyadari bahwa pemungutan suara tidak akan menghasilkan apapun,
sebab pemilihan yang sebenarnya telah terjadi di kantor CIA dan
Pentagon, dan bahwa kandidat favorit mereka telah dimenangkan di sana,”
demikian seperti diterangkan dalam rilisan pers mereka.
Kemunduran
psikis dan fisik dari pasukan kekafiran dalam berbagai peperangan fisik
termasuk perang salib, sudah buka merupakan rahasia lagi. Hingga
akhirnya mereka meluncurkan proyek-proyek bernada perang
pemikiran/ghazwul fikri, untuk menina bobokan ummat Islam ke dalam
perang yang tidak esensial.
Hal ini sangat dipahami oleh mujahidin
IIA. “Setiap orang menyadari bahwa Amerika dan sekutu-sekutunya
melarikan diri setelah gagal menduduki Afghanistan melalui invasi
langsung karena pengorbanan kelompok Mujahid dan bantuan dari Allah SWT,
karena itu mereka sekarang mencoba untuk memperpanjangnya melalui
metode yang tidak langsung,” terang mereka kepada publik.
Setiap
aktivis Islam yang mengaku melek politik harusnya menyadari bahwa
Indonesia dan Afghanistan sebenarnya dalam posisi yang sama, yakni
berada dalam naungan proksi-proksi Amerika. Hanya saja Taliban lebih
dalam posisi yang jelas, karena karunia medan perang tamkin yang Allah
berikan pada mereka.
“Saudaraku… Anda jangan sekali-kali memandang
remeh persoalan ini. Kolonialisme baru benar-benar sedang berjalan di
Indonesia. Bahkan ia sudah berjalan lama. Reformasi 1998 adalah pintu
masuk kaum penjajah untuk semakin mengobrak-abrik kehidupan bangsa kita.
Media TV, sepakbola, rokok, internet, musik, komedi, film, “ jelas
seorang penulis buku yang merupakan mantan aktivis Jamaah Tarbiyah,
Ustadz Abisyakir, dalam tulisannya.
Maka dengan realitas yang tak
jauh berbeda dengan Afghanistan, seharusnya pengamalan para aktivis
Islam di Indonesia bukannya berkubang mengikuti permainan penjajah.
Bahkan yang paling utama dilakukan, jika memang memiliki nyali lebih,
adalah menggunakan tangan untuk mencegah terjadinya permainan sandiwara
ini.
2. Parlemen Indonesia merupakan institusi yang berkualitas rendah.
Jika
Taliban mewanti-wanti bahwa proksi-proksi Amerika telah dikreasikan
jauh-jauh hari sebelum pencoblosan di CIA dan Pentagon, maka pembahasan
tentang pembuat undang-undang tak perlu berpikir jauh-jauh.
Memasuki
institusi parlemen di Indonesia sebenarnya merupakan perbuatan memasuki
komunitas para kriminal dan bekerja bersama dengan perampok uang
rakyat. Entah dengan niat baik atau buruk, mencalonkan diri sebagai
anggota dewan secara formalitas sama saja menyiapkan diri sebagai kader
kerusakan.
Buruknya kualitas parlemen Indonesia dikisahkan lewat
penelitian lembaga-lembaga pengamat. Saat Indonesia rakyatnya miskin dan
galau karena perut lapar, maka ketika menilai dari segi perbandingan
penghasilan mereka dengan penghasilan rakyat, DPR RI merupakan parlemen
terkaya di atas Amerika.
Data yang dilansir oleh Independent
Parliamentary Standards Authority (IPSA) dan Dana Moneter Internasional
(IMF), bahwa gaji anggota DPR RI berada di peringkat keempat terbesar di
dunia – bahkan mengalahkan Amerika – setelah Nigeria (116 kali lipat
pendapatan per kapita penduduknya ), Kenya (76 kali lipat) dan Ghana (30
kali lipat).
Lihat bagaimana kualitas DPR Indonesia yang tidak
berbeda dengan negara-negara Afrika yang sering dipandang remeh. Belum
kejahatan-kejahatan lain yang secara legal dilakukan oleh mereka, tentu
saja karena mereka pengesah peraturan itu sendiri.
Ya gaji besar tapi
kerja tidak becus. Maunya jalan-jalan dengan alasan studi banding.
Lebih memalukan lagi, para politisi Senayan juga tidak sedikit terlibat
kasus korupsi dan harus mendekam di penjara karena terbukti korupsi atau
menerima suap,” sebut Koordinator Forum Indonesia untuk Transparansi
Anggaran (Fitra) Uchok Sky Khadafi.
Ketua Pusat Pelaporan dan
Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Muhammad Yusuf mengatakan
berdasarkan riset tipologi yang dilakukan lembaganya terhadap anggota
legislatif, ditemukan bahwa periode 2009-2014 paling banyak terindikasi
melakukan tindak pidana korupsi dan pencucian uang. sebesar 42,71
persen.
Dari hasil analisis itu ditemukan juga bahwa anggota dewan
paling banyak, 69,7 persen terindikasi melakukan tindak pidana korupsi,
sedangkan ketua komisi yang terindiksi melakukan tipikor sebanyak 10,4
persen. Dan kebejatan-kebejatan lain yang rakyat sendiri sudah muak
sebelum cerita itu mengalir.
Maka mencalonkan diri atau orang lain
yang dipandang sebagai alim tersayang sebagai anggota dewan, sama saja
mencampakkan mereka ke dalam kehinaan. Jika keberadaan alim-alim ini
bermanfaat, maka keberadaan sosok-sosok bergelar LC, yang telah makan
bangku halaqoh bertahun-tahun seharusnya bisa mencegah
keburukan-keburukan macam di atas untuk semakin membusuk dan membusuk.
3. Tidak memasuki demokrasi adalah salah satu cara menghancurkan demokrasi
Mungkin ini adalah salah satu alasan yang akan terdengar non-mainstream
bagi sejumah islamis. Namun kehancuran demokrasi sebagai akibat dari
tidak pluralnya elemen-elemen pemerintahan adalah hasil analisa yang
dipaparkan Ikrar Nusa Bakti, pakar politik dari LIPI.
“Lembaga survei Pol-Tracking antara
lain menyatakan 4 parpol Islam tergusur dari DPR, yaitu PKS, PPP, PAN,
PKB. Ini sungguh meresahkan, malapetaka demokrasi kita karena Islam
tidak terepresentasikan dalam politik formal,” kata pengamat politik
dari LIPI Ikrar Nusa Bhakti, dalam diskusi di MPR, Senin (24/03/2014).
Tentu saja pluralisme, bhinneka tunggal ika,
merupakan kultur yang dibangun untuk mencitrakan diri sebagai sistem
organisasi yang demokratis. Jika Islam tidak lagi terwakilkan, maka ada
yang kurang greget dari sistem tersebut. Maka tugas umat Islam justru adalah menggembosi sistem yang seharusnya jamak warna ini.
“Ini
akan jadi malapetaka politik di Indonesia, karena partai akan kesulitan
dalam menentukan koalisi jika partai Islam tidak ada, realistis saja
satu hal yang harus kita pikirkan bersama jangan sampai empat partai
Islam ini menghilang,” lanjutnya.
Di atas merupakan beberapa pendekatan logika yang anti-mainstream. Namun kesadaran tidak berdemokrasi hendaknya dibangun dari pendekatan ilmiah syar’i, bukan logika semata.
Tidak
mencoblos, demikianlah inti pesan yang disampaikan Ustadz Abu Bakar
Baasyir, pria tua yang telah banyak memakan asam garam dalam iklim
politik di Indonesia. Dari zaman Natsir hingga zaman Hamzah Haz telah
dirasakannya. Maka tausiyah siyasi dari beliau sangat layak didengarkan.
“Umat
perlu tau, mengikuti Pemilu itu sama saja dengan memilih Tuhan baru,”
jelas ustadz Ba’asyir dihadapan puluhan aktivis Islam yang membezuknya
di LP Super Maximum Security (SMS) Pasir Putih Nusakambangan Cilacap
Jateng, Selasa (1/4/2014), seperti dikutip dari Kompas Islam.
Ulama
yang terkenal tegas dalam menyampaikan dakwah tauhid inipun kemudian
menyitir beberapa ayat Al Qur’an tentang keharaman manusia dalam membuat
dan menetapkan hukum yang sebetulnya hal itu merupakan hak khusus Allah
SWT, diantaranya;
أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“… Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al A’raaf 7 : 54)
إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ أَمَرَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ ذَلِكَ
الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
“…
Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar
kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Yususf 12 : 40)
Demikian
pula, Imarah Islam Afghanistan menyitir firman Allah yang melarang
pencoblosan bagi kaum muslimin, sebagai bentuk kecondongan terhadap
kezaliman.
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى
الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ
اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang
menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada
mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak
akan diberi pertolongan.” (Hud: 113)
Kaab As-Sidani
Editor in Chief
Shoutussalam Islamic Media
Shoutussalam Islamic Media
05/06/1435
(sumber:shoutussalam.com)
Tweet
