SEO BLOG & TEMPLATES
Anti Thoghut »
Thoghut Demokrasi
»
Demokrasi Penyembahan Manusia Terhadap Manusia
Demokrasi Penyembahan Manusia Terhadap Manusia
Posted by Anti Thoghut on Minggu, 06 April 2014 |
Thoghut Demokrasi
Oleh Amir Bahar
Prakata :
“Kami datang untuk membebaskan manusia
dari penyembahan kepada sesama manusia, menuju penyembahan hanya kepada
Allah, Tuhannya manusia. Kami datang untuk mengubah penindasan manusia menjadi keadilan Islam.”(Rabi’ah ibn Amir)
Penyembahan Kepada Manusia Adalah Musyrik
Boleh jadi ada yang bertanya, ”Apakah ada
penyembahan manusia kepada manusia? Yang biasa kita lihat adalah
penyembahan manusia terhadap patung?”
Pertanyaan ini sudah pernah diajukan
kepada Nabi Muahmmad saw oleh Adiy bin Hatim, sewaktu Rasulullah saw.
membacakan ayat 31 QS At-Taubah :
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ
وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ
مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ
إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (٣١)
“Mereka menjadikan
orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah
dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka hanya
disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS At-Taubah ayat 31)
Imam At Tirmidzi meriwayatkan, bahwa ketika ayat ini dibacakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
di hadapan ‘Adiy ibnu Hatim (seorang hahabat yang asalnya Nashrani
kemudian masuk Islam), ‘Adiy ibnu Hatim mendengar ayat-ayat ini dengan
vonis-vonis tadi, maka ‘Adiy mengatakan: “Kami (orang-orang Nashrani) tidak pernah shalat atau sujud kepada alim ulama dan rahib (pendeta) kami”, Jadi maksudnya dalam pemahaman orang-orang Nashrani adalah; kenapa Allah memvonis mereka telah mempertuhankan mereka (alim ulama dan para rahib) atau mereka telah beribadah kepada mereka (alim ulama dan para rahib) padahal mereka tidak pernah shalat atau sujud atau memohon-mohon kepada mereka (alim ulama dan para rahib). Maka Rasulullah saw mengatakan: “Bukankah
mereka (alim ulama dan para rahib) menghalalkan apa yang Allah haramkan
terus kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka telah
mengharamkan apa yang Allah halalkan terus kalian ikut mengharamkannya?”. Lalu ‘Adiy menjawab: “Ya”, Rasul berkata lagi: Itulah bentuk peribadatan mereka (orang Nashrani) kepada mereka (alim ulama dan para rahib)
Dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam At
Tirmidzi di atas dapatlah diketahui bahwa ”ketaatan” itu merupakan
ibadah. Ketaatan (Ibadah) itu hanya boleh diberikan kepada Allah SWT.
Bila ketatan itu diberikan kepada manusia dalam bentuk ketaatan kepada
hukum buatan manusia yang bertentangan dengan hukum Allah maka itulah
penyembahan manusia kepada manusia lainnya.
Kerusakan agama Yahudi dan Nashrani pada
saat Rasulullah, saw. diutus adalah karena ulama dan pandeta mereka
telah menggganti firman Allah SWT dengan akal dan hawa nafsu mereka.
Jadilah kitab suci mereka sudah tercampur atau boleh jadi diganti sengan
fatwa-fatwa dari ulama dan pandeta mereka. Karena itu Rasulullah saw
diperintahkan Allah untuk mengajak mereka kepada wahyu Allah yang murni,
yaitu mentauhidkan Allah saja dan agar sebagainan manusia tidak
melakukan melakukan penyembahan kepada manusia lainnya. Allah
berfirman dalam QS An-Nisa ayat 64 :
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ
تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ
إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا
أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا
بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (٦٤)
Katakanlah: “Hai ahli Kitab, Marilah
(berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan
antara kami dan kamu, bahwa tidak kita menyembah kecuali Allah dan
tidak kita mempersekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula)
sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”.
Jjika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:
“Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada
Allah)”.(QS Ali Imran ayat 54).
Inilah misi dinul Islam, yaitu mengajak
manusia mengesakan Allah satu-satunya Tuhan yang haq untuk disembah.
Inilah yang dijelaskan Rabi’ah ibn Amir kepada Rustum Kaisar Persia
sewaktu ia mengantarkan surat Rasulullah saw. Rabi’ah ibn Amir berkata,
“Kami datang untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada
sesama manusia, menuju penyembahan hanya kepada Allah, Tuhannya manusia.
Kami datang untuk mengubah penindasan manusia menjadi keadilan Islam.”
Demokrasi Adalah Menyembahan Kepada Manusia.
Demokrasi yang berasal dari bahasa Latin, demos berarti rakyat, dan kratos berarti hukum atau kekuasaan.
Jadi demokrasi berarti kekuasaan atau hukum yang berasal dari rakyat,
atau kedaulatan yang berasal dari rakyat. Ungkapan yang mereka
dengungkan adalah, ”Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.”Ungkapan lain yang juga agungkan adalah,”Suara rakyat suara Tuhan”.
Melalui demokrasi, rakyat melakukan
pemilihan umum untuk mengangkat wakil-wakil mereka untuk duduk di
lembaga legislatif. Sekelompok kecil orang inilah yang membuat hukum
yang harus dipatuhi oleh seluruh rakyat secara paksa. Tidak seorang
rakyat pun bisa terlepas dari hukum buatan manusia ini.
Dalam ilmu sosiologi hukum dan filsafat
hukum yang dipelajari di Perguruan Tinggi telah dijelaskan bahwa lembaga
legislatif itu adalah ”the rulling clas” atau kelompok elite
(minoritas) yang membuat aturan (hukum) untuk kepentingan mereka, yang
diberlakukan untuk orang banyak. Maka secara sosiologis hukum itu
bagaikan dewa Yanus, yang tertawa terhadap golongan atas, dan menangis
terhadap golongan bawah. Adalah tidak mungkin bahwa golongan atas(elite) akan
membuat aturan yang merugikan mereka. Boleh jadi aturan yang mereka
buat itu seolah-olah untuk kepentingan rakyat, namun pada hakikatnya
adalah untuk kepentingan mereka.
Dengan demikian demokrasi adalah ”sihir”
sebagai alat penjajahan manusia terhadap manusia, atau penyembahan
manusia terhadap sebahagian kecil manusia. Mereka mengeluarkan produk
perundang-undangan yang bertentangan dengan hukum Allah. Karena itu
mereka tidak perduli lagi dengan hukum Allah, meski pun Allah sudah
mengatakan bahwa dinul Islam adalah din yang sempurna, yang tidak
memerlukan lagi produk perundang-undangan buatan manusia.
Demokrasi adalah produk pemikiran
orang-orang musyrik yang ditawarkan dan dipaksakan kepada negeri-negeri
Islam. Dengan demokrasi itu mereka menipu ”ulama-ulama jahat”
seolah-olah demokrasi itu sama dengan syura. Pada hal demokrasi itu
tetap dalam bentuk aslinya yaitu musyrik dengan ”baju menyerupai Islam”.
Masuk demokrasi itu bagaikan memasuki
sebuah perpustakaan, apa pun yang dibawa pengunjungnya harus
ditinggalkan di tempat penyimpanan. Memasuki demokrasi harus
meninggalkan aqidah. Sebelum menduduki lembaga legislatif harus menjadi
musyrik dulu dengan bersumpah untuk setia dan taat kepada hukum buatan
manusia. Bersumpahnya menyebut nama Allah, namun ketaatannya diberikan
kepada Tuhan-Tuhan selain Allah. Na’uzubillah.
Boleh jadi ada yang menjadi anggota
legislatif dengan niat untuk melakukan dakwah dari dalam? Berarti dia
sudah siap untuk murtad dulu. Setelah itu dia akan menyampaikan ayat
Allah untuk menegakkan syariat. Maka anggota legislatif dari
musyrikin yang KTP-nya tidak Islam (termasuk juga yang ber KTP Islam)
akan berkata, ”Ini bukan forumnya Bung..!. Apa yang anda sampaikan
bertentangan dengan sumber dari segala sumber hukum yang kita sepakati.”
Na’zubillahi.
Renungkanlah wahai orang yang beriman.
Ketahuilah bahwa Islam datang untuk membebaskan manusia dari penyembahan
manusia terhadap manusia lainnya. Allah memerintahkan manusia hanya
untuk menyembah Allah saja. Melakukan penyembahan terhadap Allah SWT,
dan juga melakukan penyembahan kepada selain Allah itulah kemusyrikan.
Karena itu tinggal demokrasi. Jangan
ikut mencoblos. Selamatkan diri dan keluarga kita dari api neraka.
Pilihlah Islam satu-satunya pilihan hidup kita.
Allah berfirman :
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ (١٩)
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. (QS Ali Imran ayat 19).
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (٨٥
Barangsiapa mencari agama selain agama
Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya,
dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi. (QS Ali Imran ayat
85)
Wallhu A’lam.
Catatan : Penulis adalah alumni S1 Fakultas Hukum UI, dan S2 MMA IPB
(sumber :Al-mustaqbal.net)
Tweet
