SEO BLOG & TEMPLATES
Anti Thoghut »
Risalah Tauhid
»
Siapa Golongan Yang Gemar Mengkafirkan, Pembela Tauhid Atau Aparat Thoghut?
Siapa Golongan Yang Gemar Mengkafirkan, Pembela Tauhid Atau Aparat Thoghut?
Posted by Anti Thoghut on Jumat, 21 Maret 2014 |
Risalah Tauhid
Siapakah Golongan yang Gemar ‘Mengkafirkan’ (Takfiri)?[1]
Oleh: Syaikh Abu Muhammad ‘Ashim Al-Maqdisi
Alih Bahasa: Ganna Pryadha
Salah seorang penyidik di kantor General Intelligence Directorate (Direktorat Intelijen Umum) Yordania menemui saya (Syaikh Abu Muhammad ‘Ashim Al-Maqdisi, Penj.)
- Dia lantas bertanya, “Apakah Anda golongan takfiri (gemar mengkafirkan)?”
- Saya (Syaikh) pun balik bertanya, “Apa maksudnya takfiri?!”
- Penyidik: “Suka mengkafirkan manusia!”
-
Syaikh: “Jika yang Anda maksud dari ‘manusia’ adalah kaum muslimin,
maka saya tidak mengkafirkan ‘manusia’. Saya justru mengkafirkan
orang-orang yang gemar membuat manusia menjadi kafir.”
- Penyidik: “Bagaimana maksudnya?”
-
Syaikh: “Sederhana saja. Dengan kekuatan kalian dan kekuatan
pihak-pihak yang kalian angkat sebagai mitra penolong kalian; baik pihak
Amerika dan lain sebagainya, kalian senantiasa berusaha sekuat tenaga
menghalangi kaum muslimin untuk bisa berhukum dengan syariat Allah.
Bahkan, kalian memerangi dan berkonspirasi bersama mereka beserta para
pemerintahan bangsa Arab dan pemerintahan asing lainnya untuk menjegal
siapa saja yang berupaya untuk berhukum dengan syariat Allah. Kemudian
kalian memaksa manusia agar mematuhi segenap undang-undang (UU) dan
peraturan buatan kalian yang bertentangan dengan syariat Allah. Kalian
memaksa manusia agar berhukum dengan UU positif. Dengan demikian, kalian
sama saja memaksa manusia agar menjadi kafir. Sedangkan kami berusaha
sekuat tenaga mencegah manusia agar tidak jatuh ke dalam jurang
kekafiran yang kalian ciptakan. Bahkan kami harus membayar ‘ongkos’
mahal atas upaya-upaya yang kalian lakukan untuk membuat manusia menjadi
kafir; melalui umur kami yang hilang di tiang-tiang gantungan, di
penjara-penjara, dan di ruang-ruang penyiksaan.”
- Penyidik: “Itu tidak benar. Kami tidak pernah memaksa manusia untuk menjadi kafir.”
-
Syaikh: “Kenapa tidak benar?! Bukankah UU positif kalian membolehkan
riba dan memperkenankan orang-orang mengonsumsi riba?! Bukankah UU
kalian membolehkan minuman keras, serta memperkenankan orang-orang untuk
mengonsumsinya?! Bukankah UU kalian melarang dan melakukan
kriminalisasi terhadap kaum muslimim yang berjihad fi sabilillah melawan
kaum Yahudi dan Salibis; para penjajah negeri-negeri kaum muslimin?!
Bukankah UU kalian melarang kaum muslimin untuk berhukum dengan syariat
Allah, dan melarang mereka menganulir UU positif, serta bahkan kalian
bahkan menganggap mereka sebagai pelaku kriminal dan teroris?! Bukankah
UU kalian membolehkan ateisme, tindak kekafiran, dan zina atas nama
kebebasan berekspresi dan dalih-dalih lainnya?! Dengan demikian,
orang-orang yang menerima, mendukung, dan membela UU tersebut, adalah
orang-orang yang kalian paksa untuk menjadi kafir. Dan mereka yang tidak
rela kepada UU tersebut, maka kalian akan memaksa mereka agar mematuhi
dan menerimanya, baik melalui cara persuasif maupun kekerasan. Lalu
jika ada orang yang menentang kalian atas UU positif tersebut, maka
kalian akan memenjarakan dan membunuhnya. Renungkanlah hal tersebut!
Bukankah keadaan kalian tidak berbeda dengan golongan yang telah disebutkan Allah di dalam Al-Quran: “Dan
orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang
menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan
siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami
kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya,”(Saba`: 33) Allah juga berfirman, “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka,” (An-Nisaa`: 89)Dengan
demikian, kami tidaklah mengkafirkan manusia. Bahkan kami justru
berusaha untuk menyelamatkan mereka dari proses usaha kalian yang ingin
membuat mereka kafir.”
- Penyidik: “Kami tidak pernah menyuruh manusia untuk mengangkat tandingan-tandingan bagi Allah.”
-
Syaikh: “Kalian justru telah melakoninya. Namun permasalahannya,
kalian mengira bahwa makna ‘tandingan’ hanyalah berupa batu-batu
berhala semata. Kalau saja Anda tahu, Al-Quran menerangkan bahwa
‘tandingan-tandingan’ Allah pun bisa berwujud sosok manusia.”
- Penyidik: “Mana di dalam Al-Quran yang menerangkan bahwa ‘tandingan’ Allah bisa berupa manusia?”
- Syaikh: “Sangat banyak. Bukankah Allah berfirman, “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy-Syuura: 21) Di ayat ini, siapakah yang mensyariatkan? Manusia atau batu berhala? Allah juga berfirman, “Mereka
menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan
selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam,
padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan,” (At-Taubah: 31)
Terkait
ayat ini, terdapat satu hadits shahih melalui sejumlah jalur
periwayatan, yang mana di dalamnya Nabi Muhammad menegaskan bahwa
ketaatan kepada para rahib dalam syariat (baca: UU) yang tidak
diizinkan Allah adalah suatu bentuk peribadatan mereka. Dengan
demikian, mereka telah mengangkat sejumlah rabb (pengatur/legislator) selain Allah.Allah berfirman lagi, “Sesungguhnya
syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah
kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi
orang-orang yang musyrik,” (Al-An’am: 121) Sebab
turunnya ayat ini; adalah ketika ketaatan setan terhadap setan-setan
lainnya dari golongan manusia atau jin dalam satu persoalan penetapan
hukum (tasyri’) yang tidak diizinkan Allah. Tindakan seperti
ini adalah sebuah kesyirikan dan sama saja mengangkat
tandingan-tandingan bagi Allah. Ayat-ayat seperti ini sangatlah
banyak.”
- Penyidik: “Jadi, Anda memvonis saya masuk neraka?!
-
Syaikh: “Saya tidak akan pernah memvonis Anda masuk neraka, kecuali
jika Anda memang mati dalam kondisi melakoni profesi Anda saat ini.”
- Penyidik: “Maksudnya; jika saya mati sebagai pegawai dinas intelijen, maka saya masuk neraka?!
-
Syaikh: “Ya. Saya meyakini bahwa apabila Anda mati sebagai pegawai
dinas intelijen, Anda tidak bertaubat dan tidak meninggalkan profesi
tersebut sebelum meninggal dunia, maka Anda akan kekal di Neraka
Jahanam. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan
menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat
sejauh-jauhnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan
kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan
tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke
neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang
demikian itu adalah mudah bagi Allah,” (An-Nisaa`: 167-169)Allah berfirman lagi, “Sesungguhnya
orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah
mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada
bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun,” (Al-Maa`idah: 72)
- Penyidik: “Berarti Anda seenaknya membagi-bagi manusia mana yang masuk surga dan mana yang masuk neraka?!”
-
Syaikh: “Tidak begitu. Saya tidak membagi-bagi mereka, dan saya tidak
melakukan intervensi untuk membagi mereka antara surga dan neraka. Tapi
kalian tahu sendiri bahwa kalian memerangi agama Allah, kalian
mengangkat musuh-musuh Allah sebagai penolong dan pembela kalian, lalu
kalian menentang syariat-Nya, memaksakan manusia agar mematuhi UU
positif buatan kalian, maka dengan demikian kalian sama saja menggiring
diri kalian menuju neraka. Kalian juga sama saja menggiring para
penolong dan pembela kalian untuk ikut masuk neraka. Allah berfirman, “kepada
Fir’aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikut perintah
Fir’aun, padahal perintah Fir’aun sekali-kali bukanlah (perintah) yang
benar. Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu memasukkan
mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang
didatangi,” (Huud: 97-98)
Allah juga berfirman, “Mereka
mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan
izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya)
kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran,” (Al-Baqarah: 221)
Terakhir,
saya ingin katakan kepada Anda bahwa perdebatan yang Anda lakoni
secara batil, dan atasan-atasan yang telah mengindoktrinasi Anda untuk
melakukan debat ini, sekali-kali tidak akan pernah berguna ketika suatu
saat malaikat maut mendatangi Anda. Sekali-kali tidak akan pernah
berguna, tatkala nanti Anda menemui Allah pada Hari Kiamat kelak. Anda
berada dalam front untuk menentang syariat Allah dan memusuhi agama-Nya.
Semua rintangan yang kalian terapkan untuk menghalangi agama Allah,
dan kekuatan yang kalian galang untuk menjegalnya, maka semua itu kelak
akanjadi penyesalan bagi kalian. Allah berfirman, “Sesungguhnya
orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi
(orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian
menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam
Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.supaya Allah
memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan
(golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu
kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam.
Mereka itulah orang-orang yang merugi.”(Al-Maa`idah: 36-37)
Saya mengajak Anda untuk memikirkan keadaan Anda dan keadaan kita semua. Kita ini, sebagaimana difirmankan Allah: “Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka,” (Al-Hajj: 19) Kami
dan kalian saling memusuhi dan bertengkar mengenai Allah. Kalian tidak
mau berhukum dengan syariat Allah, sedangkan kami ingin dan berjihad
demi syariat Allah.Kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan kaum Salibis
yang menjajah negeri-negeri kami sebagai para pembela dan
pelindung.Sedangkan kami memerangi mereka, dan kalian malah memerangi
kami yang sedang memerangi mereka.Kaliam membunuhi kami yang tengah
memerangi mereka.Kalian memenjarakan kami yang berjihad memerangi
mereka.Kalian menganggap jihad tersebut sebagai tindak kriminal dan
terorisme.Maka kami katakana kepada kalian; bertakwalah kepada
Allah.Haramkanlah riba, minuman keras, perzinaan.Kalian malah menolak
hal demikian, serta mengizinkan, membolehkan, melestarikan, dan
menetapkan UU untuk semua itu.
Renungkanlah, siapa di
antara kita yang berjalan di atas kebenaran? Siapakah yang akan
mendapatkan keridhaan Allah? Siapakah yang akan mendapatkan
kemurkaan-Nya? Karena pasti hanya salah satu di antara kita yang berada
di atas kebenaran, dan satu lagi berada di atas jalan batil.Allah
berfirman, “maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?”(Yunus: 32) Allah memerintahkan kami untuk berkata kepada kalian, “dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata,” (Saba`: 24)
Pikirkanlan
kondisi kalian dan kami.Pasti hanya salah satu di antara kita yang
berjalan di atas petunjuk Allah, sedangkanlah satu yang lainnya terjebak
dalam jurang kesesatan nyata. Apakah masuk akal jika pihak yang
memerangi syariat dan petunjuk Allah, serta menentang agama dan
hukum-hukum-Nya, akan mendapat petunjuk dari Allah?
Tapi apabila yang kalian inginkan hanyalah perdebatan, maka kami katakana kepada kalian, “Katakanlah:
“Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi
keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan
lagi Maha Mengetahui,” (Saba`: 26)
Abu Muhammad Al-Maqdisi
Sel No. 32
Penjara Direktorat Intelijen Umum Yordania, 1428 H
[1] Diterjemahkan dari artikel berjudul Man Huwa At-Takfiri?!, dari situs Mimbar Tauhid dan Jihad www.tawhed.ws, 2013.
Sumber : shoutussalam.com
Tweet
