Umar bin Khattab Di Mata Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma


Tentunya kita ingin sekali mengetahui bagaimana sebenarnya pandangan Imam Ali bin Abi Thalib terhadap Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma, di tengah deras-nya fitnah kaum rafidhah nawashib yang selalu menggambarkan bahwa Umar adalah musuh Ahlul Bait, Umar dituduh membakar rumah Ahlul Bait, Umar menyakiti Fathimah hingga janin-nya keguguran, Umar bersama Abu Bakar telah merampas hak kekhalifahan ahlul bait dan lain-lain.

Ada satu riwayat yang shahih yang cukup untuk menjadikan mereka, yaitu orang-orang rafidhah yang sok berpegang pada hadits-hadits sunni menggigit jari mereka, satu riwayat yang singkat tetapi lebih dari cukup untuk mengetahui penilaian Imam Ali terhadap Umar bin Khattab. Permasalahannya adalah apakah orang-orang yang sok berpegang kepada hadits-hadits Sunni ini mau mengakui hal ini dan mengikuti Imam yang mereka mengaku mencintai dan mengikutinya? Atau kah cinta mereka terhadap Ahlul Bait adalah palsu dan merekalah sebenarnya yang pantas disebut Nashibi? 

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ وُضِعَ عُمَرُ عَلَى سَرِيرِهِ فَتَكَنَّفَهُ النَّاسُ يَدْعُونَ وَيُصَلُّونَ قَبْلَ أَنْ يُرْفَعَ وَأَنَا فِيهِمْ فَلَمْ يَرُعْنِي إِلَّا رَجُلٌ آخِذٌ مَنْكِبِي فَإِذَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَتَرَحَّمَ عَلَى عُمَرَ وَقَالَ مَا خَلَّفْتَ أَحَدًا أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أَلْقَى اللَّهَ بِمِثْلِ عَمَلِهِ مِنْكَ وَايْمُ اللَّهِ إِنْ كُنْتُ لَأَظُنُّ أَنْ يَجْعَلَكَ اللَّهُ مَعَ صَاحِبَيْكَ وَحَسِبْتُ إِنِّي كُنْتُ كَثِيرًا أَسْمَعُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَهَبْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَدَخَلْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَخَرَجْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ 

Bukhari : 180/3409. Telah bercerita kepada kami ‘Abdan telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah telah bercerita kepada kami ‘Umar bin Sa’id dari Ibnu Abu Mulaikah bahwa dia mendengar Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; Setelah jasad ‘Umar diletakkan di atas tempat tidurnya, orang-orang datang berkumpul lalu mendo’akan dan menshalatinya sebelum diusung. Saat itu aku ada bersama orang banyak, dan tidaklah aku terkaget melainkan setelah ada orang yang meletakkan siku lengannya pada bahuku, yang ternyata dia adalah ‘Ali bin Abu Thalib. Kemudian dia memohonkan rahmat bagi ‘Umar dan berkata; Sama sekali tidak engkau tinggalkan seorangpun yang lebih aku sukai agar Allah berikan pembalasan sesuai keistimewaan amalnya daripadamu. Dan demi Allah, sungguh aku yakin sekali bahwa Allah akan menjadikan kamu bersama kedua sahabatmu (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakr) dikarenakan aku sering kali mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Aku berangkat (bepergian) bersama Abu Bakr dan ‘Umar. Aku masuk bersama Abu Bakr dan ‘Umar. Aku keluar bersama Abu Bakr dan ‘Umar. 

Beberapa faidah dari hadits di atas:
  1. Kesaksian Ibnu Abbas mengenai penghormatan Ali terhadap Umar
  2. Do’a Ali untuk Umar
  3. Menurut Ali, Umar memiliki keistimewaan amalan dimana orang yang ditinggalkannya tidak ada yang menyamainya
  4. Keyakinan Ali bahwa Allah akan menjadikan Umar bersama dengan kedua sahabat-nya yaitu Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan Abu Bakar Ash Shiddiq, dan kenyataannya Umar kemudian dimakamkan bersebelahan dengan makam Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan Abu Bakar.
  5. Kesaksian Ali akan kedekatan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dengan Abu Bakar dan Umar di saat mereka masih hidup.
Inilah pengakuan yang tulus dari seorang Imam Ahlul Bait yang terpercaya, bukan hanya sekedar ucapan, bahkan di saat Umar masih hidup, Imam Ali telah menikahkan putri beliau dengan Umar. Sungguh penilaian dan tindakan yang bertolak belakang dengan orang-orang yang mengaku mengikuti beliau dan mengaku menjadikan beliau pedoman bagi umat.

Wassalam.



Top