SEO BLOG & TEMPLATES
Anti Thoghut »
Sirah
»
Pengkhianatan Terhadap Ahlul Bait
Pengkhianatan Terhadap Ahlul Bait
Posted by Anti Thoghut on Rabu, 03 April 2013 |
Sirah
Oleh : Abu Hanan Sabil Arrasyad
Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami
memuji-Nya, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung
kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan kejelekan amalan-amalan
kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada
yang menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka tidak
akan ada yang memberi petunjuk kepadanya.
Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak
ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja, tidak ada
sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah seorang hamba
dan utusan-Nya.
Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah
Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad
shalallahu ‘alaihi wasallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang
diada-adakan. Setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. Setiap
bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan ada di neraka.
Akan datang pada manusia tahun-tahun yang
penuh dengan penipuan, dibenarkan orang yang berdusta dan didustakan
orang yang jujur, dipercaya orang yang khianat dan dikhianati orang yang
amanah…” (HR. Ibnu Majah 4042, disahihkan al-Albani dalam Silsilah
Ahadits Shahihah 1887)
“Tanda orang-orang munafik itu ada tiga
keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila
berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah ia
mengkhianatinya” (HR. Bukhari dan Muslim)
Diantara ciri yang paling menonjol dari
orang-orang munafik adalah kebiasaan mereka berdusta dan kelakuan mereka
yang selalu mengingkari janji dan berkhianat. Dan diantara ciri khas
para penghianat adalah dia tidak membedakan bersama siapa dia berkhianat
serta bersama siapa dia dapat dipercaya. Sungguh kedustaan adalah
bagian dari penyakit nifaq yang apabila telah mengalir dalam darah
seseorang akan menjadikannya sebagai seorang penghianat, walaupun kepada
orang-orang yang paling dekat dengannya.
Orang-orang Syiah yang ghuluw
(berlebihan) dalam mencintai Ahlul bait, terutama kepada Ali bin Abi
Thalib Radhiyallahu anhu, sesungguhnya telah tampak dengan jelas
penghianatan mereka sejak periode pertama gerakan Tasyayyu’ (Menjadi
Syiah), pada saat fitnah berkobar diantara dua orang sahabat Nabi yang
mulia, Ali dan Muawiyah Radhiyallahu anhuma.
Maka ditulislah risalah ini di tengah
badai fitnah ketika sejarah Islam diselubungi kabut tebal kedustaan
(taqiyyah) pemahaman para penghianat dan pendusta yang memutar balikkan
sejarah dengan berlindung di balik kata-kata cinta kepada Ahlul bait
padahal sesungguhnya merekalah orang-orang berada dibarisan terdepan
dalam menghianati Ahlul bait.
Sikap Para Pengkhianat Terhadap Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu
Sebagian besar pendukung[1] (syiah) Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu adalah penduduk Iraq, terutama penduduj Kufah dan Bashrah. Ketika Ali berkeinginan untuk
pergi berperang bersama mereka ke Syam, setelah berhasil meredam fitnah
Kaum Khowarij (salah satu sekte pecahan syiah Ali sendiri yang malah
mengkafirkan Ali bin Abi Thalib), mereka malah meninggalkan beliau
Radhiyallahu Anhu padahal sebelumnya mereka telah berjanji untuk
membantunya dan pergi bersamannya. Tetapi dalam kenyataannya, mereka
semua membiarkannya, dan mereka mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, anak
panah kami telah musnah, pedang-pedang dan tombak-tombak kamu telah
tumpul, maka kembalilah bersama kami, sehingga kami menyediakan
peralatan yang lebih baik” Kemudian Ali Mengetahui, bahwa semangat
merekalah yang sesungguhnya sudah tumpul dan melemah, dan bukan
pedang-pedang mereka. Mulailah mereka pergi secara diam-diam dari tempat
tentara Ali Bin Abi Thalib dan kembali ke rumah mereka tanpa
sepengatahuan beliau, sehingga kamp-kamp militer tersebut menjadi kosong
dan sepi. Ketika beliau melihat hal tersebut, beliau kembali ke Kufah
dan mengurungkan niatnya untuk pergi.[2]
Ali Bin Abi Thalib mengetahui bahwa
perkara apa pun tidak dapat mereka menangkan walaupun mereka telah
berbuat adil dan beliau adalah seorang yang adil walaupun kepada para
pendukung beliau, beliau tidak dapat menyembunyikan kekesalannya dan
persaksiannya terhadap para penipu ini kemudian berkata kepada mereka,
“Kalian hanyalah pemberani –pemberani dalam kelemahan, serigala-serigala
penipu ketika diajak bertempur, dan aku tidak percaya pada
kalian…kalian bukanlah kendaraan yang pantas ditunggangi, dan bukan pula
orang mulia yang layak dituju. Demi Allah sejelek-jelek provokator
perang adalah kalian. Kalianlah yang akan tertipu, dan tidak akan dapat
merencanakan tipu daya jahat, dan kebaikan kalian akan lenyap dan kalian
tidak dapat menghindar” [3]
Yang anehnya lagi, para pendukung (syiah) Ali di Iraq ini tidak hanya mundur dari medan perang ke Syam bersama beliau, tetapi mereka juga takut dan
keberatan untuk mempertahankan wilayah mereka sendiri.[4] sementara
pasukan Muawiyah telah menyerang Ain At Tamr dan daerah-daerah Iraq yang lain. Mereka tidak tunduk terhadap perintah Ali untuk
mempertahankannya, sampai-sampai Amirul Mukminin Ali berkata kepada
mereka,”Wahai penduduk Kufah, setiap kali kalian mendengar kedatangan
pasukan dari Syam, maka setiap orang dari kalian masuk ke dalam kamar
rumahnya dan menutup pintunya seperti masuknya biawak ke
persembunyiannya dan hyena ke dalam sarangnya….Orang yang tertipu adalah
orang yang kalian bodohi, dan bagi yang menang bersama kalian, adalah
menang dengan bagian yang nihil. Tidak ada orang-orang yang berangkat
ketika dipanggil, dan tidak ada saudara-saudara yang dapat dipercaya
ketika dibutuhkan. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya
kepadaNya kita kembali” [5].
Sikap Para Pengkhianat Syiah terhadap Al Hasan bin Ali Radhiyallahu anhu.
Ketika Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu
anhu terbunuh oleh Ibnu Muljam (seorang khowarij yang tadinya termasuk
syiah Ali namun mengkafirkan beliau setelah itu), Al Hasan Radhiyallahu
anhu dibaiat menjadi khalifah, dan beliau yakin tidak dapat berhasil
perang melawan Muawiyah. Terutama setelah sebelumnya sebagian
pengikutnya di
Iraq telah meninggalkan ayahnya. Tetapi para para pengikut mereka di
Iraq kembali meminta Al Hasan untuk memerangi Muawiyah dan penduduk
Syam, padahal jelas-jelas sebenarnya Al Hasan berkeinginan menyatukan
kaum muslimin saat itu, karena beliau faham sekali tentang kelakuan
orang-orang syiah di Iraq ini yang beliau sendiri membuktikan hal
tersebut, Ketika beliau menyetujui mereka (orang-orang syiah di Iraq)
dan beliau mengirimkan pasukannya serta mengirim Qais bin Ubadah di
bagian terdepan untuk memimpin dua belas ribu tentaranya, dan singgah di
Maskan, ketika Al Hasan sedang berada di Al Mada’in tiba-tiba salah
seorang penduduk Iraq berteriak bahwa Qais telah terbunuh. Mulailah
terjadi kekacauan di dalam pasukan, para maka orang-orang syiah Iraq
kembali para tabiat mereka yang asli (berkhianat), mereka tidak sabar
dan mulai menyerang kemah Al Hasan serta merampas barang-barangnya,
bahkan mereka sampai melepas karpet yang ada dibawahnya, mereka
menikamnya dan melukainya. Dari sinilah salah seorang penduduk Syiah
Iraq, Mukhtar bin Abi Ubaid Ats Tsaqafi merencanakan sesuatu yang jahat,
yaitu mengikat Al Hasan bin Ali dan menyerahkan kepadanya, karena
ketamakannya dalam harta dan kedudukan. Pamannya yang bernama Sa’ad bin
Mas’ud Ats Tsaqafi[6] telah datang, dia adalah salah seorang wali dari
Mada’in dari kelompok Ali. Dia (Mukhtar bin Abi Ubaid) bertanya
kepadanya, “Apakah engkau menginginkan harta dan kedudukan? Dia berkata,
“Apakah itu?” Dia Menjawab,”Al Hasan kamu ikat lalu kamu serahkan
kepada Muawiyah” Kemudian pamannya berkata “ Allah akan melaknatmu,
berikan kepadaku anak putrinya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,
ia memperhatikannya lalu mengatakan, kamu adalah sejelek-jelek manusia”
[7]
Maka Al Hasan radhiyallahu anhu sendiri
berkata “ Aku Memandang Muawiyah lebih baik terhadapku disbanding
orang-orang yang mengaku mendukungku (Syiahku), mereka malah ingin
membunuhku, mengambil hartaku, demi Allah saya dapat meminta dari
Muawiyah untuk menjaga keluargaku dan melindungi keselamatan seluruh
keluargaku, dan semua itu lebih baik daripada mereka membunuhku sehingga
keluarga dan keturunanku menjadi punah. Demi Allah, jikalau aku
berperang dengan Muawiyah niscaya mereka akan menyeret leherku dan
menganjurkan untuk berdamai, demi Allah aku tetap mulia dengan melakukan
perdamaian dengan Muawiyah dan itu lebih baik disbanding ia memerangiku
dan aku menjadi tahanannya”
Maka para penghianat ini sebenarnya amat
benci terhadap Al Hasan bahkan keturunannya, namun mereka berusaha
menutup-nutupinya, maka mereka (syiah rafidhoh imamiyah) mengeluarkan
keturunan Al Hasan dari silsilah para Imam ma’shum versi mereka yang
mereka mengangkat Imam-Imam mereka itu bahkan diatas kedudukan para Nabi
dan malaikat terdekat dengan Allah (tulisan Khumaini dalam, al hukumah
islamiyah hal 52), walaupun demikian agar tidak terbongkar kebencian
mereka ini mereka tetap mencantumkan Al Hasan dalam deretan Imam mereka.
Itulah cara dan memang tabiat mereka untuk menipu kaum muslimin.
Mengapa mereka tidak mencantumkan
keturunan Al Hasan dalam imam-imam mereka? Apa keturunan Al Hasan bukan
keturunan ahlul bait? Jawabnya adalah karena Al Hasan berdamai dengan
Muawiyah dan menyatukan kaum muslimin saat itu, sehingga tercelalah
keturunannya dan tidak layaklah mereka menjadi imam mereka, itulah
hakikat tabiat sejati seorang penghianat yang tidak pernah menginginkan
perdaimaian dan persatuan diantara kaum muslimin.
Sikap Para Pengkhianat Syiah terhadap Husain bin Ali Radhiyallahu anhu
Setelah wafatnya Muawiyah Radhiyallahu
anhu pada 60 H yang sebelumnya beliau menunjuk Yazid[8] untuk menjadi
pemimpin yang niat beliau agar tidak terjadi lagi perpecahan diantara
kaum muslimin dalam masalah kekuasaan. Maka berpalinglah para utusan
ahli dari Iraq kepada Husain bin Ali Radhiyallahu anhu dengan penuh
antusias dan simpati, Lalu mereka berkata kepada Husain,“Kami telah
dipenjara hanya demi engkau, dan kami juga tidak mengikuti shalat jum’at
bersama penguasa yang ada, sehingga datanglah Sang Imam (Al Mahdi)
kepada kami“
Di bawah tekanan mereka, terpaksa Husain
memutuskan untuk mengirim anak pamannya, Muslim bin Aqil untuk
mengetahui keadaan yang terjadi, maka keluarlah Muslim pada bulan Syawal
tahun 60 H.
Ia tidak mengetahui telah tibanya
penduduk Iraq sehingga mereka datang kepadanya, maka mulailah mereka
berbaiat kepada Husain. Disebutkan, bahwa jumlah mereka yang berbaiat
sebanyak dua belas ribu orang, kemudian penduduk Kufah pun mengirim
utusan utnuk membaiat Husain dan semuanya berjalan dengan baik.
Tetapi sayang, Husain radhiyallahu anhu
tertipu oleh penghianatan mereka. Husain pergi menemui mereka walaupun
sudah diperingatkan oleh para sahabat Nabi dan orang-orang yang terdekat
dengan beliau agar tidak keluar menemui mereka, hal itu karena mereka
telah mengetahui penghianatan yang selama ini telah dilakukan oleh kaum
Syiah Iraq. Sampai-sampai Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata kepada
Husain , “Apakah engkau akan pergi ke kaum (golongan) yang telah
membunuh pemimpin mereka, merampas negeri mereka, dan memusnahkan musuh
mereka, walaupun mereka telah melakukan hal itu, apakah kamu tetap pergi
kepada mereka? Mereka mengajakmu kesana, sedang penguasa mereka
bersikap tiran terhadap mereka, apa yang mereka lakukan hanya untuk
negara mereka saja, mereka hanya mengajak anda menuju medan perang dan
pembantaian, dan anda tidak akan aman bersama mereka, mereka akan
mengkhianati, menipu, membangkang, meninggalkan, dan berbalik memerangi
kamu dan nanti mereka menjadi orang yang sangat keras permusuhannya
kepadamu..“
Begitu juga Muhammad bin Ali bin Abi
Thalib yang populer dengan gelar Ibnu al-Hanif, sudah menasehatkan
kepada saudaranya al-Husein radhiyallahu ‘anhum seraya mengatakan:
“Wahai saudaraku, penduduk Kufah sudah Anda ketahui betapa pengkhianatan
mereka terhadap bapakmu Ali radhiyallahu ‘anhu dan saudaramu al-Hasan
radhiyallahu ‘anhu. Saya khawatir nanti keadaanmu akan sama seperti
keadaan mereka sebelumnya!”[9]
Dengan jelas tampaklah pengkhianatan
Syiah ahli Kufah, walaupun mereka sendiri yang telah mengharapkan akan
kedatangan Husain, hal itu sebelum Husain sampai kepada mereka. Maka
penguasa Bani Umayyah, Ubaidillah bin Ziyad ketika mengetahui sepak
terjang Muslim bin Aqil yang telah membaiat Husain dan sekarang berada
di Kufah, ia segera mendatangi Muslim dan langsung membunuhnya,
sekaligus terbunuh pula tuan rumah yang menjamunya Hani bin Urwah Al
Muradi. Dan kaum Syiah Kufah tidak akan memberikan bantuan apa-apa,
bahkan mereka mengingkari janji mereka terhadap Husain Radhiyallahu
anhu, hal itu mereka lakukan karena Ubaidillah bin Ziyad memberikan
sejumlah uang kepada mereka.
Ketika Husain Radhiyallahu anhu keluar
bersama keluarga dan beberapa orang pengikutnya yang berjumlah sekita 70
orang laki-laki dan langkah itu ditempuh setelah adanya
perjanjian-perjanjian dan kesepakatan, kemudian masuklah Ibnu Ziyad
untuk menghancurkannya di medan peperangan, Maka terbunuhlah Al Husain
Radhiyallahu anhu dan terbunuh pula semua sahabatnya termasuk ketiga
saudara dari Husain sendiri Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib, Umar bin
Ali bin Abi Thalib, dan Ustman bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
‘anhum , ketiga anak Ali bin Abi Thalib selain Hasan, Husain dan
Muhammad Ibn Hanafiyyah radhiyallahu ‘anhum.
Ketika Husain Radhiyallahu anhu keluar
bersama keluarga dan beberapa orang pengikutnya yang berjumlah sekitar
70 orang laki-laki, dan langkah itu ditempuh setelah adanya
pernjanjian-perjanjian dan kesepakatan, kemudian masuklah Ibnu Ziyad
untuk menghancurkannya di medan peperangan, maka terbunuhlah Al Husain
Radhiyallahu anhu dan terbunuh pula semua sahabatnya. Ucapannya yang
terakhir sebelum wafat adalah “Ya Allah berikanlah putusan di antara
kami dan diantara orang-orang yang mengajak kami untuk menolong kamu
namun ternyata mereka membunuh kami“.[10]
Bahkan doanya atas mereka (syiah) sangat
terkenal, beliau mengatakan sebelum wafatnya, “Ya Allah, apabila Engkau
memberi mereka kenikmatan, maka cerai beraikanlah mereka, jadikanlah
mereka menempuh jalan yang berbeda-beda, dan janganlah restui pemimpin
mereka selamanya, karena mereka telah mengundang kami untuk menolong
kami, namun ternyata kemudian memusuhi kami dan membunuh kami“.[11]Maka
terungkap jelaslah kelakuan para penghianat yang menjadikan tameng dan
mereka bertopeng dibalik ungkapan kecintaan mereka kepada Ahlul bait
yang mereka jadikan kecintaan tersebut sebagai alasan memusuhi setiap
orang yang mereka benci, padahal sungguh merekalah penghianat
sesungguhnya yang menyimpan kebencian dendam kepada Islam yang dibawa
oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam beserta Ahlul Bait dan para
sahabatnya. Yang selama ini mereka putarbalikkan sejarah dengan
riwayat-riwayat palsu mereka yang itu memang tabiat dan ajaran agama
mereka sesungguhnya dengan Taqiyyah (kedustaan) yang selalu mereka
lakukan.
Maka wajib bagi kita mengambil ibroh dan
pelajaran dari sejarah ini, penghianatan yang berulang-ulang mereka
lakukan kepada orang-orang yang dikatakan mereka cintai (ahlul bait)
mereka berkhianat, apalagi kepada kaum muslimin secara umum, ditipunya
Syaikh Syaltut (tokoh lembaga darut taqrib: lembaga pendekatan
sunni-syiah) oleh mereka, digantungnya Syaikh Ahmad Mufti Zaddah tahun
1993 (tokoh lembaga darut taqrib dari kalangan ahlussunnah di iran).
Sudah cukup menjadi bukti pengkhianatan adalah tabiat dan kelakuan
mereka yang sudah mendarah daging dan patut kita waspadai.
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah
belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak
ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka”Sesungguhnya urusan
mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan
memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. (Q.S.
Al-An’am: 159)
Semoga shalawat dan salam senantiasa
Allah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu alaihi
wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya radiyallahu anhum ajmain
dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman.
Ya Allah, tunjukkanlah kebenaran itu
sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta
tunjukkanlah kebatilan itu sebagai sebuah kebatilan, dan berilah kami
kekuatan untuk menjauhinya.
Maha Suci Engkau Ya Allah, dan dengan
memuji-Mu, saya bersaksi bahwa tiadaTuhan yang berhak disembah melainkan
Engkau, saya memohon ampun danbertaubat kepada-Mu.
Wallahu A’lam
------------------------------------
1.Tidak semua pendukung Ali bin Abi
Thalib fanatik, yang dimaksudkan disini adalah para pengikut Abdullah
bin saba ((yahudi yg pura-pura masuk Islam) yang memang mengkultuskan
Ali bin Abi Thalib bahkan sampai menuhankannya
2.Tarikh Ath Thabari : Tarikh Al Umam wa Al Muluk, 5/89-90. Ibnul Atsir, Al kamil fi at Tarikh, 3/349.
3.Tarikh Ath Thabari, 5/90. Al Alam Al Islami fi ashri Al Umawi hal 91.
4. Mirip seperti kelakuan Syiah rafidhoh
(faksi hizbullah) di masa ini yg katanya ingin membela palestina namun
hanya bertahan di libanon saja mempertahankan wilayahnya.
5.Tarikh Ath Thabari 5/135. Al Alam Al Islami Fi Ashri Al Umawi hal 96.
6.Mukhtar bin Abi Ubaid Ats Tsaqafi
inilah yang menentang Daulah Umawiyah dan mengaku sebagai pengikut Ahlul
Bait serta menuntut kematian Al Husain.Itu semua tidak lain hanyalah
topeng dan kedok untuk bersembunyi dari kerakusannya terhadap kekuasaan.
7.Tarikh Ath Thabari, 5/195. Al Alam Al Islami fi Ashri Al Umawi. Hal 101.
8. Yazid menurut ulama dan Imam-imam kaum
muslimin adalah raja dari raja-raja islam Mereka tidak mencintainya
seperti mencintai orang-orang shalih dan wali-wali Allah dan tidak pula
melaknatnya. Karena sesungguhnya mereka tidak suka melaknat seorang
muslim secara khusus (ta yin). Di samping itu kalaupun dia sebagai orang
yang fasiq atau dhalim, Allah masih mungkin mengampuni orang fasiq dan
dhalim. Lebih-lebih lagi kalau dia memiliki kebaikan-kebaikan yang
besar.Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dari Ummu Harran binti
Malhan radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:Tentara pertama yang memerangi Konstantiniyyah akan diampuni.
(HR. Bukhari) Padahal tentara pertama yang memeranginya adalah di bawah
pimpinan Yazid bin Mu’awiyyah dan pada waktu itu Abu Ayyub al-Anshari
radhiyallahu ‘anhu bersamanya
9. Al-Luhuuf; oleh Ibn Thawus; hal. 39.
Asyuura’; oleh al-Ihsa-i; hal. 115. Al-Majaalisu al-Faakhirah; oleh Abdu
al-Hu-sein; hal. 75. Muntaha al-Amaal; (1/454). Alaa Khathi al-Hu-sain
hal.96.110) Al-Majaalisu al-Faakhirah; hal.79. ‘Alaa Khathi al-Husain;
hal 100. Lawaa’iju al-Asyjaan; oleh al-Amin; hal. 60. Ma’aalimu
al-Madrasatain (3/62).
10. Tarikh Ath Thabari, 5/389
11. Al Irsyad, hal 241. I’lam Al Wara li
Ath Thibrisi, hal 949. (doa Husein Radhiyallahu anhu ini terjawab syiah
sampai saat ini berpecah belah sedemikian rupa setiap kewafatan imam
mereka, mereka berpecah belah satu dan lainnya, dan diantara mereka
saling kafir mengkafirkan satu dengan lainnya).
Tweet
