SEO BLOG & TEMPLATES
Anti Thoghut »
Thoghut NKRI
»
Sepandir Inilah Pemimpin di Republik Ini: Singkong Saja Harus Impor
Sepandir Inilah Pemimpin di Republik Ini: Singkong Saja Harus Impor
Posted by Anti Thoghut on Kamis, 26 Juli 2012 |
Thoghut NKRI
JAKARTA – Sudah sangat keterlaluan
pemimpin di negeri ini. Produk rakyat yang seharusnya diproteksi, justru
diimpor dari luar negeri. Yang sangat memalukan lagi, singkong yang
dikenal sebagai makanan rakyat kecil saja harus impor.
Seperti diketahui, singkong atau ketela pohon, merupakan makanan
favorit rakyat. Singkong juga merupakan makanan pokok ketiga di
Indonesia setelah beras dan jagung. Dengan bahan baku singkong, kita
bisa mengelolanya menjadi kolak, keripik, gaplek, tiwul dan makanan
tradisional lainnya. Bagi masyarakat Indonesia, singkong adalah
pengganti nasi. Sampai pemerintah Kota Depok membuat program One Day No
Rice.
Seperti lagunya Koes Plus, kata orang tanah kita tanah surga, tongkat
kayu pun menjadi tanaman. Di Indonesia, tanaman singkong tumbuh subur.
Dengan kata lain, stok singkong di negeri ini melimpah ruah. Namun, kita
terkejut, ternyata diam-diam, negeri ini malah mengimpor singkong dari
Cina, Vietnam hingga Italia. Aneh bin ajaib.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dari Januari hingga Juni
2011, Indonesia mengimpor ubi kayu dengan total 4,73 ton dengan nilai
21,9 ribu dolar AS. Negara Italia merupakan negara dengan nilai terbesar
yaitu 20,64 ribu dolar AS dengan berat 1,78 ton. Sedangkan Cina
merupakan negara penyuplai ubi kayu impor terbesar yaitu 2,96 ton dengan
nilai 1.273 dolar AS.
Sedangkan data BPS pada bulan April dan Mei 2012, sebanyak 5.057 ton
singkong asal China dengan nilai US$ 1,3 juta masuk ke Tanah Air. Pada
Mei impor singkong dilakukan dari negara Vietnam. Sebanyak 1.342 ton
singkong dengan nilai US$ 340 ribu masuk ke Indonesia.
Dengan masuknya impor singkong dari Italia, Vietnam, dan China
tersebut, menandakan bahwa pemerintah tidak mampu melindungi petani
dalam negeri dan meningkatkan kesejahteraannya.
Perlu diketahui, alokasi APBN untuk petani masih sangat kecil, setiap
tahun rata-rata hanya 1,3 persen dari total APBN. Di tahun 2012 hanya
Rp 17,8 triliun saja. Pemerintah tidak memiliki political will terhadap
pembangunan pertanian. Dengan dana sekecil itu bagaimana pemerintah akan
merealisasikan program Swasembada Pangan 2014, yang meliputi beras,
jagung, kedelai, daging, gula, dan garam?
Ketua Dewan Hortikultura Nasional Benny Kusbini mengatakan hampir
setiap tahun, Indonesia impor Singkong baik dari China, Vietnam dan
Thailand."Sudah bertahun-tahun Indonesia impor Singkong dari China,
Vietnam dan Thailand," kata Benny kepada wartawan.
Kenapa hal ini terjadi? Menurut Benny, saat ini pemerintah tidak
memiliki blue print atau cetak biru terkait perencanaan kedepan pada
sektor pertanian. Meskipun sempat menghentikan impor singkong pada
semester II-2011, saat ini kembali terjadi proses impor singkong dari
China dan Vietnam pada 2 bulan terkahir tahun 2012 ini.
Impor Garam
Disamping singkong, kita juga mengimpor garam. Meskipun memiliki
Pulau Garam, Indonesia rupanya masih impor garam dari negara Kangguru.
Impor garam dari Australia dari Januari hingga Juni 2011 mencapai 1,04
juta ton dengan nilai 53,7 juta dolar AS.
Impor garam juga dilakukan dengan India yaitu sebesar 741,12 ribu ton
dengan nilai 39,84 juta dolar AS. Ada juga dari Singapura, Selandia
Baru, Jerman sehingga total impor garam sampai Juni 2011 mencapai 1,8
juta ton dengan nilai 95,42 juta dolar AS. Indonesia juga mengimpor
daging ayam dari Malaysia. Sepanjang semester I tahun 2011 ini, impor
daging ayam mencapai 9 ton dengan nilai 29,24 ribu dolar AS.
Indonesia juga mengimpor teh sebanyak 6,54 ribu ton dengan nilai 11
juta dolar AS selama enam bulan pada tahun ini. Negara pengimpor teh
terbesar adalah Vietnam, yaitu 3,24 ribu ton dengan nilai 3,68 juta
dolar AS. Kemudian Kenya, sebanyak 1,07 ribu ton teh diimpor dengan
nilai 3,32 juta dolar AS, dan dari negara Argentina, India, Cina, dan
lain-lain.
Kabarnya, banyaknya impor singkong tersebut lebih dikarenakan
tergusurnya areal tanam singkong oleh perkebunan kelapa sawit. Petani
banyak yang beralih juga jadi petani kelapa sawit, lahan-lahan yang
biasanya buat tanam singkong, jagung, kedelai dan lainnya banyak berubah
jadi perkebunan sawit karena pemerintah memang sedang menggenjot
produksi sawit di Indonesia.
Lucunya, Kementerian Perdagangan belum mengetahui kebenaran Indonesia
mengimpor singkong dari China dan Vietnam. Sepandir inikah pemimpin
republik ini yang gagal melindungi petani dan mensejahterakannya. (Desastian/voa-islam.com)
Tweet
