SEO BLOG & TEMPLATES
Anti Thoghut »
Berhala Pancasila
»
1 Juni Sudah Tidak Lagi Bertuah? Rakyat Sudah Lupa Pancasila?
1 Juni Sudah Tidak Lagi Bertuah? Rakyat Sudah Lupa Pancasila?
Posted by Anti Thoghut on Jumat, 29 Juni 2012 |
Berhala Pancasila
Selamanya ideologi yang sifatnya “man made” (buatan manusia) tak bakal dapat memberikan apa-apa bagi manusia. Meyakini ideologi “man made”, sama dengan meyakini kepalsuan dan kebohongan.
Meyakini ideologi “man made”, hanyalah membuat manusia terperosok kepada kontradiksi. Hakikatnya manusia pasti memiliki “limitasi” keterbatasan, siapapun manusia. Tidak ada yang sempurna.
Secara empirik ideologi sifatnya "man made" itu sudah
menunjukkan kegagalan. Di abad 21 ini sudah menjadi lonceng kematian
ideologi-ideologi buatan manusia. Abad ini sudah menunjukkan adanya, apa
yang disebut dengan, “the end of ideology”, yang dibuat manusia.
Secara empirik pula ideologi buatan manusia, hanya melahirkan perang,
konflik, kekacauan sosial, dan polarisasi yang sangat keras.
Ideologi-ideologi “man made” itu tidak dapat memberikan solusi apapun, bagi kehidupan manusia. Betatapun ideologi “man made” sudah sangat ilmiah, sebagai sebuah teori, tetapi faktanya tetap saja tak mampu menjadi sebuah solusi.
Di abad modern lahir ideologi yang sifatnya “man made”, dan
banyak diikuti manusia. Manusia terjerumus ke dalam polarisasi ke dalam
kotak-kotak ideologi, yang seakan-akan bisa memuaskan dan memberikan
solusi bagi kehidupan mereka. Ternyata mereka tertipu belaka. Mereka
berbondong-bondong mengikuti ideologi “man made”, dan dengan sangat fanatiknya mereka bersedia berbuat apa saja guna mewujudkan cita-cita ideologi “man made” itu.
Banyak manusia modern yang masuk terjerumus ke dalam “dinunnas”
(agama bikinan manusia), yang sebenarnya tidak bisa memberikan apapun
bagi manusia. Tetapi, manusia meyakininya sebagai sebua dogma, dan
bahkan para penganjur “dinunnas” itu, menyuruh manusia menjadikan sebagai “way of life”. Inilah yang menyebabkan terjadinya kontradiksi dalam kehidupan manusia.
Betapapun para penganjur ideologi “man made” yang sudah menjadi “dinunnas”
itu, seperti Marxisme, Komunisme, Sosialisme, Kapitalisme, dan termasuk
Pancasila, sebagai sebuah teori dogma, sudah menunjukkan kegagalannya
menyelamatkan hari depan manusia. Betapapun sebagian manusia meyakini
dogma itu, tetapi secara emperik sudah menunjukkan dan membuktikan
mereka sudah gagal.
Komunisme dan Kapitalisme sebagai teori sudah gagal, dan hanya mencampakan manusia ke dalam era “Perang Dingin”
dengan segala akibatnya. Bagaimana umat manusia dikelompokkan ke dalam
blok Komunis (Soviet) dengan blok Kapitalis (Barat), dan kemudian
diikuti dengan kehancuran blok Komunis (Soviet), dan membawa akibat dan
dampak yang sangat luar biasa bagi kehidupan manusia. Terutama
terjadinya perang dingin, dan sebagian manusia terperangkap ke dalam
blok Komunis dan Kapitalis, yang keduanya telah menghancurkan
kehidupan.
Francis Fukuyama, ilmuwan Amerika Serikat, yang menegaskan
berakhirnya Komunisme dan Soviet, menandai kemenangan Kapitalisme dan
Liberalisme, serta Demokrasi. Kemenangan dan supremasi bangsa Barat atas
Soviet, yang menganut Komunisme.
Tetapi, sekarang sejak jatuhnya Soviet, dan belum dua dekade,
Kapitalisme sudah menunjukkan tanda-tanda keruntuhannya. Bahkan, para
pakar politik Barat, menyatakan bahwa demokrasi yang merupakan anak
kandung faham Liberalisme sudah menunjukkan kegagalannya dengan
kehancuran Uni Eropa sekarang ini. Justru demokrasi telah membawa
kekacauan yang mendalam atas negara-negara Uni Eropa.
Tanda-tanda kehancuran sistem Kapitalisme sudah di depan mata, kalau
yang menjadi indikatornya adalah ekonomi. Seluruh negara-negara Barat,
sekarang menghadapi resesi yang menuju depresi ekonomi,yang sudah tidak
mungkin dapat menyelamatkan ekonomi mereka. Pertumbuhan ekonomi mereka “minus”,
dan angka pengangguran terus membengkak. Semua ahli ekonomi atau ekonom
sudah pesimis melihat situasi dan kondisi yang ada. Ini akibat
komplikasi yang lahir dari ideologi “man made” itu.
Di Wall Street, London, Paris, Roma, Athena, dan Berlin, rakyatnya
sudah tidak sabar lagi dengan sistem yang selama sudah mapan, dan
menjadi acuan dalam sistem politik dan ekonomi di negeri mereka.
Sistem idelogi “man made”, hanyalah melahirkan diskriminasi,
polarisasi, dan disparitas (kesenjangan), antara yang kaya dengan
miskin. Seperti yang diteriakkan para aktivis di Wall Street, di mana
yang 1 persen menguasi hajat hidup yang 99 persen. Kaum buruh dan kelas
pekerja hanya menjadi budak para pemilik modal, yang sebagian besar
mereka para “baron” Yahudi.
Dan, sejatinya semua idelogi "man made" itu, hanyalah ciptaan para
teoritikus Yahudi, yang memang bertujuan ingin menghancurkan kehidupan
manusia. Mengkotak-kotakan manusia, membuat mereka konflik, saling
membunuh, menghancurkan, dan mereka menjadi sangat lemah. Kemudian, kaum
Yahudi menguasai seluruh kehidupan mereka. Itulah tujuan akhir dari
ideologi "man made".
Di Indonesia, setiap 1 Juni diperangti sebagai hari lahirnya
Pancasila, yang menjadi ideologi negara. Tetapi, ideologi Pancasila
tidak pernah dipraktekkan secara nyata oleh para pemimpin Indonesia.
Mereka berteriak bahwa Pancasila itu sebagai: “harga mati”. Pancasila sebagai falsafah bangsa, sebagai “rulers of conduct”, dan bahkan pernah disebut sebagai : “way of life”, yang posisinya sejajar seperti agama. “Dinunnas” itu disejajarkan dengan “Dinullah”.
Soekarno yang menjadi penggagas dan pencetus Pancasila, tak pernah
mempraktekkannya. Malah Soekarno menjadi pengikut Komunisme. Soekarno
memeras ajaran Pancasila menjadi “Ekasila”, yaitu Gotong
Royong, dan tak lebih sebuah idiom Komunis. Diujung akhir hidupnya
sebagai penguasa, Soekarno masuk ke dalam barisan Komunisme, yang
waktu itu ingin menegakkan ideologi kerakyatan.
Politik luar negeri Indonesia di bawah Soekarno anti Barat, dan
berkiblat ke Moskow dan Peking, dan membuktikan bahwa sejatinya
Soekarno, tak lain menjadi satelit Moskow dan Peking. Jadi, Soekarno
bukan seorang Pancasilais.
Di zaman Soeharto sama saja. Tak berbeda. Soeharto yang ingin menjadikan Pancasila sebagi “way of life”, tetapi Soeharto tak pernah mewujudkan Pancasila.
Soeharto adalah bagian dari kepentingan Barat, dan menjadi sekutu
utama Barat. Karena itu, sejak Orde Baru, Soeharto sudah memposisikan
dirinya sebagai “kacung”nya Barat. Ekonominya murni ekonomi Kapitalis, yang menjadi dasar kebijakannya.
Di era reformasi ini, sudah menjadi lebih jauh lagi, Indonesia masuk
ke dalam jebakan Kapitalisme. Bukan hanya ekonomi, politik, semata.
Tetapi, Kapitalisme sudah masuk ke sungsum-sungsum para penguasa dan
rakyatnya.
Mereka sudah tidak ada lagi peduli dengan Pancasila yang selama ini digembar-gemborkan. Ideologi “man made”
itu sudah masuk kotak, ungkap tajuk Kompas (1/6/2012). Sikap penguasa
dan rakyatnya sudah tidak ada lagi yang mengamalkan Pancasila, dan itu
sangat nampak dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Memang waktu itu, Mohammad Natsir, Pemimpin Masyumi, berpidato di
Konstituante, yang memperdebatkan tentang dasar negara, antara Islam dan
Pancasila, di tahun l957, dan dengan kata yang sangat jelas, Natsir
mengatakan, bahwa Pancasila itu ideologi : "la diniyah"
(sekuler). Kala itu, Partai PNI, PKI, Sosialis, Murba, dan Partai
Katolik/Krisen mendukng Pancasila. Sedangkan, Partai Islam, seperti
Masyumi, Syarikat Islam, NU, dan lainnya mendukung Islam sebagai dasar
negara.
Sekarang, sesudah Indonesia mengadobsi Ideologi Pancasila, perilaku
para pemimpin dan rakyatnya, sudah menjadi pengikut materialisme global.
Karena, Pancasila itu, juga ideologi "la diniyah" sekuler.
Karena itu, kehidupan di Indonesia semakin kacau, dan penuh dengan
kontradiksi. Tanpa solusi. Karena mereka menyakini sesuatu yang bathil,
dan tidak dapat memberikan apa-apa.
Sama seperti zaman jahiliyah di mana manusia kafir jahiliyah,
menyembah patung Lata dan Uza, yang tidak memberikan manfaat apapun
bagi manusia. Tetapi, mereka meyakininya, dan terus menjadikannya
sebagai sesembahan mereka. Tak pernah memberikan apapun Lata dan Uza
bagi kehidupan manusia.
Maka hanya dengan Islam manusia dapat hidup dengan penuh berkah, dan
jauh dari berbagai kesesatan, penyelewengan, kezaliman, kedurhakaan, dan
kekufuran. Maka kembalilah ke jalan Islam, sebagai dinul-haq.
Wallahu’alam.(voa-islam.com)
Tweet