Sebenarnya yang mencoreng citra Islam itu bukanlah pemotongan kepala orang-orang kafir dan penteroran mental mereka, akan tetapi yang mencoreng citra Islam itu adalah orang yang menginginkan Islam itu mengikuti cara Mandela dan Ghandi, yang tidak ada pembunuhan di dalamnya, tidak ada peperangan, tidak ada kekerasan, tidak ada darah, dan tidak ada pemenggalan leher, ini bukan ajaran Muhammad Ibnu Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus dengan pedang sebelum hari kiamat yang mana satu surat di dalam Al Qur’an dinamakan surat Muhammad sebagai Surat Al Qital (Perang). Ajaran-ajaran yang tidak ada hal-hal tadi hanyalah dien orang-orang nasrani yang mereka sendiri tidak mengambilnya, dan dien orang-orang Budha yang mana kaum Budhis berlepas diri dari sisi sikap damai di dalamnya. Islam itu agama kekuatan, agama peperangan, agama jihad, agama pemenggalan leher, dan agama penumpahan darah, bukan agama penyodoran pipi kiri kepada orang yang menempeleng pipi kananmu, akan tetapi Islam adalah agama pematahan tangan yang berani menghinakan orang muslim, siapa yang terbunuh demi membela hartanya atau jiwanya atau kehormatannya maka dia syahid.

    Islam itu dien, yang wisata kaum prianya adalah jihad di jalan Allah, dan surganya ada di bawah kilatan pedang-pedang mereka yang merupakan kunci-kunci surga, tidak ada kehidupan hakiki bagi penganutnya kecuali dengan jihad, dan tujuan para prajurit tempurnya adalah mati di jalan agama mereka, dan tidak pelenyapan bagi kesusahan dan kegundahan mereka kecuali dengan memerangi musuh mereka, sebaik-baik penghidupan mereka adalah ghanimah peperangan, sebaik-baik pria mereka adalah yang banyak membunuhi musuh-musuh yang menyerang mereka dari segala penjuru, tidak ada kenikmatan usaha bagi mereka kecuali dengan sabetan pedang, dan tidak ada keindahan kehidupan bagi mereka kecuali di atas kuda perang, dan tidak ada yang menyenangkan mereka kecuali kematian di dalam pertempuran, dan mereka tidak mati kecuali setelah banyak membunuh musuh, dan tidak akan berkumpul orang muslim dan yang membunuhnya di dalam api neraka. Parfum mereka adalah debu kaki mereka dari front pertempuran, dan perhiasan mereka adalah darah yang ditumpahkan di jalan Allah sehingga menyirami bumi, bila telah berjumpa dengan Rabb mereka, maka mereka meminta untuk kembali ke dunia sepuluh kali karena ia melihat kemuliaan yang didapatkan, mereka meletakkan pedang-pedang mereka di atas pundak-pundak mereka yang masih bercucuran darah seraya berdesakan di pintu surga, di mana dikatakan kepada mereka: Siapa mereka itu? Dikatakan: Para syuhada mereka itu hidup lagi diberikan rizqi, mereka masuk surga Rabb mereka tanpa hisab dikarenakan mereka telah disakiti dan berperang di jalan-Nya.

    Inilah Islam wahai para pemuda Islam, inilah dien yang Allah telah menjanjikan untuk memenangkannya di atas semua agama walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya: dengan dakwah bagi orang yang masih memiliki hati, dan dengan tombak bagi orang yang tidak tegak berdiri di atas jalan..barangsiapa menghadang di hadapan dakwahnya dan menghalangi tamkin dan keberkuasaannya di atas bumi serta merintangi kedaulatannya di atas semua aturan umat manusia, maka dihadapi dengan tajamnya pedang. Pemeluk dien ini diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka komitmen dengan Laa ilaaha illallaah, dan peperangan tidak berhenti sampai akhir umat ini memerangi Dajjal, dan senantiasa sekelompok dari umat ini berperang di jalan Allah, mereka tidak terganggu oleh orang yang menggembosi dan menyelisihi mereka, mereka unggul lagi menang mengalahkan musuh-musuhnya.

    Dien yang tumbuhannya adalah serpihan-serpihan badan, penyiramannya adalah darah, dan dahan-dahannya adalah leher, ia di atas dan tidak ada yang lebih atas darinya, ia menguasai dan tidak dikuasai, ia menggiring dan tidak digiring, tidak tunduk di dalam hukumnya kepada selain Rabbul ‘Ibaad (Allah).

    Dien: kaum prianya di siang hari adalah singa-singa, dan di malam harinya mereka adalah ahli ibadah, serta di dalam kehidupan adalah orang-orang yang zuhud, tidak diambil apa yang ada di atas kepala-kepala mereka kecuali dari bawah kaki-kaki mereka, mereka itu di tengah manusia adalah bintang, bagi kejayaan adalah alamat dan bagi kedaulatan adalah monumen, mereka menguasai bumi dan menjadi saksi atas manusia di hari Kiamat, mereka menggiring manusia dengan belenggu (untuk masuk surga) dan merekapun tidak menyiksa.

    وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لاَ يَعْلَمُونَ

    “Dan hanya bagi Allahlah kejayaan itu, juga bagi Rasul-Nya dan bagi kaum mu’minin, akan tetapi orang-orang munafiq itu tidak mengetahui.” (Al Munafiqun: 8)

    Wallahu A’lam

    Syaikh Husen Mahmud
    (Mas-alah Qath’ir Ru-uus Jaa-izah Bi Nashshil Qur’aan Was Sunnah Wa Fi’lish Shahaabah)


    Bismillahirrahmanirrahim

    Mu-assasah Al Furqan
    Menampilkan:

    Statement Asy Syaikh Al Mujahid “Abu Muhammad Al ‘Adnaniy Asy Syamiy
    Juru Bicara Resmi Daulah Islamiyyah -Hafidlahullah-

    Dengan Judul:

    Haadzaa Wa’dullah


    Ini Adalah Janji Allah”


    Alih Bahasa: Abu Sulaiman Al Arkhabiliy

    Segala puji hanya bagi Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi yang diutus dengan pedang sebagai rahmat bagi sekalian alam.
    Amma Ba’du:

    Allah Ta’ala berfirman:

    وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

    “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [An Nur: 55]

    Istikhlaf (pemberian kekuasaan), Tamkin (peneguhan kekusaan) serta rasa aman, adalah janji yang Allah tetapkan bagi kaum muslimin, akan tetapi dengan syarat:

    يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيْئًا

    “Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.” [An Nur: 55]

    Yaitu iman kepada Allah dan menjauhi segala pintu-pintu syirik dan ragam-ragamnya, yang disertai pemasrahan diri kepada perintah Allah di dalam hal besar dan kecil, dan ketaatan; yaitu ketaatan yang menjadikan hawa nafsu, keinginan jiwa serta kecenderungan hati tunduk mengikuti apa yang dibawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan janji itu tidak akan terealisasi kecuali dengan syarat ini; di mana dengannya diraihlah kemampuan untuk memakmurkan bumi dan melakukan perbaikan, melenyapkan kedzaliman, membentangkan keadilan, serta merealisasikan rasa aman dan nyaman, dengan itu saja terwujud Khalifah yang mana Allah ‘Azza wa Jalla telah mengabarkannya kepada malaikat. Dan tanpa hal itu, maka kekuasaan itu hanya sebagai kerajaan, pendominasian dan pemerintahan yang disertai penghancuran, pengrusakan, kedzaliman, pemaksaan dan rasa takut, serta pengrusakan moral manusia dan penjerumusan kepada perilaku-perilaku hewan, itulah hakikat istikhlaf (pemberian kekuasaan) yang karenanya Allah menciptakan kita, bukan sekedar kerajaan, pemaksaan kekuasaan, pendominasian dan pemerintahan, akan tetapi ia itu adalah penundukan itu semua dan penggunaannya di dalam membawa seluruh manusia kepada tuntutan syari’at; di dalam kepentingan-kepentingan akhirat dan dunia, yang tidak mungkin terealisasi kecuali dengan merealisasikan perintah Allah, penegakan dien-Nya dan tahakum kepada syari’at-Nya. Istikhlaf ini dengan hakikat ini: adalah tujuan yang karenanya Allah mengutus rasul-rasul-Nya, dan menurunkan kitab-kitab-Nya serta pedang-pedang jihad itu dihunus. Allah Tabaraka Wa Ta’ala telah memuliakan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, memberikan karunia terhadap mereka dan menjadikan mereka sebagai umat pilihan di antara seluruh umat; 

    كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ

    Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” [Ali Imran: 110]

    Dan Allah menjanjikan pemberian kekuasaan bagi umat ini selagi mereka berpegang teguh dengan keimanannya dan mengambil segala sebab-sebab yang diperintahkan:

    وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ

    “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa,” [An Nur: 55]

    Dan menjadikan baginya pengendalian dunia dan penguasaan bumi, selagi ia mendatangkan syaratnya:

    يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيْئًا

    “Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.” [An Nur: 55]

    Dan Allah Subhanahu telah menjadikan baginya ‘izzah (kejayaan);

    وَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ

    “Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin,” [Al Munafiqun: 8]

    Ya, sesungguhnya ‘izzah bagi umat ini adalah ‘izzah yang didapatkan dari ‘izzah Allah Tabaraka wa Ta’ala, ‘izzah yang membauri iman pada hati orang mu’min; di mana bila iman telah terpatri dan bersarang di dalam hati maka ‘izzah-pun terpatri dan bersarang pula, ‘izzah yang tidak rendah dan tidak hina, ‘izzah yang tidak membungkuk dan tidak melembek, bagaimanapun dasyatnya kesulitan atau beratnya ujian, ‘izzah yang pantas bagi umat terbaik, umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak rela dengan kehinaan selamanya, yang tidak ridlo dengan ketundukan dan perendahan diri kepada selain Allah selamanya, yang tidak ridlo dengan aniaya dan tidak ridlo dengan kedzaliman;

    وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡبَغۡيُ هُمۡ يَنتَصِرُونَ

    “Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan dzalim mereka membela diri.” [Asy Syura: 39]

    Umat yang agung lagi mulia, umat yang tidak tidur menanggung pendzaliman, dan tidak ridlo dengan kehinaan serta tidak ridlo dengan kerendahan;

    وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

    “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” [Ali Imran: 139]

    Umat yang kuat, umat yang perkasa, bagaimana tidak? Sedangkan Allah telah mengutusnya untuk mengeluarkan manusia dari peribadatan kepada makhluk menuju peribadatan kepada Sang Pencipta, bagaimana tidak sedangkan Allah yang memberikan bantuan kepadanya dan yang menyertainya, Allah-lah yang mengokohkannya dan Allah-lah yang menolongnya

    ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ مَوۡلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَأَنَّ ٱلۡكَٰفِرِينَ لَا مَوۡلَىٰ لَهُمۡ

    “Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung.” [Muhammad: 11]

    Inilah umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kapan saja ia itu merealisasikan kejujuran kepada Allah, maka Allah pasti membuktikan janjinya kepadanya.

    Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengutus Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan bangsa arab berada di dalam kejahiliyyahan yang pekat dan dalam kesesatan yang buta; manusia yang paling telanjang badannya dan paling lapar perutnya, umat yang berada di akhir masa berbagai umat, tenggelam di dalam jurang yang sangat dalam, tidak dihiraukan dan tidak diperhitungkan, ia tunduk hina kepada Kisra dan Kaisar, serta tunduk kepada pihak yang menang. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

    وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ

    “Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” [Al Jumu’ah: 2]
    Dan berfirman:

    وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ أَنتُمۡ قَلِيلٞ مُّسۡتَضۡعَفُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطَّفَكُمُ ٱلنَّاسُ

    “Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu,” [Al Anfal: 26]

    Qatadah rahimahullah berkata di dalam tafsir ayat ini: “Suku dari arab ini adalah manusia yang paling hina, paling lapar perutnya, paling bodoh dan paling telanjang, mereka itu dimakan dan tidak memakan, orang yang hidup dari mereka maka ia hidup dalam keadaan sengsara dan orang yang mati maka ia terjerumus ke dalam neraka.” Selesai ucapannya rahimahullah.

    Duta dari kalangan sahabat telah masuk menemui Kisra Yazdajirda di masa peperangan Qadisiyyah untuk mendakwahinya, maka dia berkata kepada mereka: “Sesungguhnya aku tidak mengetahui di atas bumi ini satu umat-pun yang paling sengsara, paling sedikit jumlahnya dan paling buruk keadaannya daripada kalian, sungguh dahulu kami telah mewakilkan dalam penanganan kalian kepada wilayah-wilayah pinggiran supaya mereka mencukupkan kami dari menangani kalian, supaya Persia tidak menginvasi kalian dan kalian-pun tidak memiliki keinginan untuk melawan mereka,” maka rombongan-pun terdiam, maka berdirilah Al Mughirah Ibnu Syu’bah radliyallahu ‘anhu terus ia menjawabnya, dan di antara yang dikatakan oleh Al Mughirah adalah: “Adapun apa yang kamu sebutkan tentang keburukan kondisi; maka memang tidak ada orang yang lebih buruk keadaannya daripada kami, dan adapun kelaparan kami; maka tidak ada tandingannya, di mana kami dahulu memakan serangga, kumbang-kumbang, kalajengking dan ular, kami memandang hal itu sebagai makanan kami. Adapun tempat tinggal, maka ia itu adalah tempat terbuka, kami tidak berpakaian kecuali apa yang kami tenun dari bulu-bulu unta dan kambing, agama kami adalah satu sama lain saling membunuh dan saling aniaya, dan sungguh orang di antara kami ada yang mengubur hidup-hidup putrinya karena ia tidak ingin dia memakan dari makanannya.

    Begitulah keadaan bangsa arab sebelum islam; suku-suku yang beraneka ragam yang terpecah-pecah, cerai-berai lagi saling berperang, saling membunuh, menderita kelaparan dan kekurangan segala serta diserang banyak pihak. Kemudian tatkala Allah mengkaruniakan islam kepada mereka dan mereka beriman, maka Allah mengumpulkan dengan islam perkumpulan-perkumpulan mereka, mempersatukan barisan-barisan mereka, Dia menjayakan mereka setelah kehinaan, mencukupkan mereka setelah kemiskinan serta menyatukan hati-hati mereka; sehingga dengan nikmat-Nya mereka menjadi bersaudara:

    لَوۡ أَنفَقۡتَ مَا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا مَّآ أَلَّفۡتَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيۡنَهُمۡ

    “Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” [Al Anfal: 63]

    Maka lenyaplah dari hati mereka kesumat dan kedengkian, menyatulah mereka dengan sebab keimanan, dan jadilah bagi mereka ketaqwaan itu sebagai tolak ukur; mereka tidak membedakan antara orang ajam dengan orang arab, antara orang timur dengan orang barat, antara orang berkulit merah dengan yang berkulit hitam, dan tidak pula antara orang faqir dengan orang kaya, mereka campakkan nasionalisme dan seruan kejahiliyyahan, mereka membawa panji Laa ilaaha illaallaah dan mereka berjihad di jalan Allah dengan jujur dan ikhlash, maka Allah-pun mengangkat mereka dengan dien ini, dan menjayakan mereka dengan pengembanan risalah-Nya, memuliakan mereka dan menjadikan mereka sebagai raja-raja dunia dan para pemimpin alam ini.

    Wahai umat kami yang mulia, wahai umat terbaik: Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memberikan kemenangan bagi umat ini dalam satu tahun apa yang tidak Dia berikan kepada pihak yang lain dalam waktu bertahun-tahun, bahkan berabad-abad, di mana dahulu mereka dalam waktu 25 tahun saja telah mampu menghancurkan dua imperium terbesar yang dikenal sejarah, dan mereka menyalurkan simpanan kekayaannya di jalan Allah; di mana mereka telah mematikan api Majusi selama-lamanya dan menundukkan kaum salibis dengan persenjataan paling kuno dan jumlah personil yang sangat sedikit.

    Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan di dalam Mushannaf-nya dari Hushain dari Abu Wail, berkata: “Datang Sa’ad ibnu Abi Waqqas sampai akhirnya ia turun di Qadisiyyah dengan disertai pasukan, ia berkata: “Saya tidak mengetahui sepertinya jumlah kami itu tidak lebih dari 7 atau 8 ribu atau di antara itu, sedangkan kaum musyrikin berjumlah 60 ribu atau sekitar itu yang disertai kuda-kuda. Tatkala musuh sudah tiba, maka mereka berkata kepada kami: “Kembalilah kalian, karena jumlah kalian tidak seberapa dibandingkan kami, dan kami tidak melihat kekuatan dan persenjataan yang kalian miliki, maka kembalilah.” Maka ia berkata: Kami mengatakan: “Kami tidak akan kembali,” maka mereka-pun tertawa dengan penolakan kami itu dan mengatakan: “Duk duk,” seraya mereka menyerupakannya dengan alat-alat pemintal.”.”

    Ya wahai umatku yang mulia!: Mereka itulah orang-orang yang telanjang kaki dan badan para penggembala kambing, yang tidak mengenal hal ma’ruf dari kemungkaran dan tidak mengenal hak dari kebatilan; mereka telah memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya penuh dengan kedzaliman dan aniaya, dan mereka menguasai dunia berabad-abad, sedangkan hal itu bukan bertopang kepada kekuatan dari mereka dan kepada jumlah yang banyak, dan bukan pula bertopang kepada kelihaian akal. Tidak sama sekali, akan tetapi itu hanyalah dengan sebab keimanan mereka kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan ittiba’ mereka kepada tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Wahai Ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; engkau masih sebagai umat terbaik, dan engkau masih memilik ‘izzah, dan sungguh benar-benar keberkuasaan itu akan kembali ke tanganmu, dan sesungguhnya Ilah umat ini kemarin adalah Ilah umat ini hari ini, dan sesungguhnya yang menolongnya kemarin pasti menolongnya juga hari ini, dan telah tiba saatnya! Telah tiba saatnya bagi generasi-generasi yang telah tenggelam di dalam lautan kehinaan dan yang telah menyusui dengan air susu kenistaan serta setelah lama dikuasai oleh manusia-manusia yang paling hina setelah lama masa tidurnya di dalam kegelapan kelalaian, telah tiba saatnya untuk bangkit, telah tiba saatnya bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam untuk bangun dari tidurnya; bangkit melepaskan pakaian kehinaan dan menyingkirkan debu-debu kehinaan dan kenistaan. Telah berlalu zaman ratapan dan tangisan dan telah menyingsing kembali dengan izin Allah fajar kejayaan, telah terbit matahari jihad, telah bersinar tanda-tanda kebaikan dan telah nampak kemenangan di arah ufuk serta telah nampak tanda-tanda kemenangan. Inilah Panji Daulah Islamiyyah, panji Tauhid, berkibar tinggi menjulang menaungi Halb sampai Diyala, dan penjara-penjara para thaghut telah hancur di bawahnya, bendera-benderanya berjatuhan hina, batas-batas wilayahnya dihancurkan dan bala tentaranya ada yang terbunuh, tertawan dan cerai-berai, sedangkan kaum muslimin mengalami kejayaan, dan orang-orang kafir mengalami kehinaan, Ahlussunnah menjadi pemimpin-pemimpin yang dimuliakan sedangkan Ahli bid’ah menjadi hina dan bersembunyi.

    Hudud ditegakkan, yaitu semua hudud Allah, tsughur dipenuhi (mujahidin), salib-salib dihancurkan, (bangunan-bangunan di atas) kuburan-kuburan dirobohkan, para tawanan dibebaskan dengan kekuatan pedang, dan manusia di seluruh wilayah Daulah bertebaran dalam kehidupan dan safar-safar mereka dengan rasa aman atas jiwa dan harta mereka, para pemimpin wilayah sudah diangkat, para qadli telah ditunjuk, jizyah telah diberlakukan, dan harta fai, kharaj dan zakat telah diambil, mahkamah-mahkamah telah ditegakkan untuk penyelesaian persengketaan dan pelenyapan kedzaliman, kemungkaran telah dilenyapkan, dan kajian-kajian serta halaqah telah diadakan di mesjid-mesjid, sehingga dengan karunia Allah ketundukan itu telah ditujukkan seluruhnya kepada Allah, DAN TIDAK TERSISA kecuali SATU HAL SAJA, yaitu kewajiban kifayah yang mana seluruh umat berdosa dengan sebab meninggalkannya, yaitu kewajiban yang terlupakan, di mana umat ini tidak pernah merasakan nikmatnya kejayaan sejak hal itu ditelantarkan, yaitu IMPIAN yang menyelimuti benak setiap muslim mu’min, HARAPAN yang berkibar di hati setiap mujahid muwahhid; YAITU KHILAFAH! Ingatlah IA itu KHILAFAH!, kewajiban masa kini yang disia-siakan, Allah Ta’ala berfirman:

    وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗ

    “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.” [Al Baqarah: 30]

    Al Imam Al Qurthubiy berkata di dalam Tafsir-nya: Ayat ini adalah pijakan dalam pengangkatan imam dan khalifah yang ditaati dan didengar; supaya umat menjadi satu kata dan dilaksanakan dengannya putusan-putusan khalifah, dan tidak ada perselisihan dalam kewajiban hal itu di antara umat ini dan tidak pula di antara para imam, kecuali apa yang diriwayatkan dari Al Ashamm; di mana dia itu tuli dari syari’at ini.” Selesai ucapan beliau rahimahullah.

    DAN ATAS dasar ini; maka Majlis Syura Ad Daulah Al Islamiyyah telah berkumpul dan mengkaji masalah ini, setelah Daulah Islamiyyah itu dengan karunia Allah memiliki semua elemen-elemen kekhilafahan yang mana kaum muslimin berdosa dengan tidak menegakkan khilafah itu, dan bahwa tidak ada penghalang atau udzur syar’iy pada Daulah Islamiyyah yang bisa menghindarkan dosa darinya di saat ia undur diri atau tidak menegakkan kekhilafahan ini, MAKA Daulah Islamiyyah memutuskan melalui Ahlul Halli wal ‘Aqdi yang ada di dalamnya yang terdiri dari para tokoh, para panglima, para umara dan Majlis Syura:

    “PENDEKLARASIAN TEGAKNYA KHILAFAH ISLAMIYYAH”


    Dan pengangkatan Khalifah bagi kaum muslimin serta pembai’atan Asy Syaikh Al Mujahid Al ‘Alim Al ‘Amil Al ‘Abid Al Imam Al Humam Al Mujaddid, keturunan keluarga kenabian, Hamba Allah: Ibrahim Ibnu ‘Awwad Ibnu Ibrahim Ibnu ‘Ali Ibnu Muhammad Al Badriy Al Qurasyiy Al Hasyimiy Al Husainiy secara nasab, As Samira-iy secara tempat lahir dan tumbuh dewasa, Al Baghdadiy dalam hal pencarian ilmu dan tempat tinggal, dan beliau telah menerima pembai’atan ini; sehingga beliau dengan itu telah menjadi imam dan khalifah bagi kaum muslimin di SETIAP TEMPAT. Dan atas dasar ini, maka nama Iraq dan Syam dihilangkan dari nama Daulah di dalam segala aktifitas dan interaksi resmi, dan cukup dengan nama “Ad Daulah Al Islamiyyah” sejak munculnya statement ini.
    Dan kami ingatkan kepada kaum muslimin: bahwa dengan pendeklarasian khilafah ini, maka telah wajib atas SELURUH kaum muslimin untuk membai’at dan membela Khalifah Ibrahim hafidhahullah, dan batallah seluruh imarah, jama’ah, wilayah dan organisasi yang berada di dalam wilayah kekuasaan Daulah dan bala tentaranya. 

    Al Imam Ahmad rahimahullah berkata di dalam riwayat Abdus ibnu Malik al ‘Aththar: “Dan siapa saja yang telah menguasai mereka dengan pedang sehingga ia menjadi khalifah dan dinamakan Amirul Mu’minin; maka tidak halal bagi siapapun yang beriman kepada Allah, dia bermalam satu malampun sedang dia tidak memandangnya sebagai imam, baik imam itu adil maupun jahat.”

    Dan sesungguhnya Khalifah Ibrahim hafidhahullah; telah terpenuhi pada dirinya seluruh syarat-syarat khilafah yang telah disebutkan oleh para ulama, dan beliau telah dibai’at di Iraq oleh Ahlul Halli wal ‘Aqdi di Daulah Islamiyyah sebagai pengganti bagi Abu Umar Al Baghdadiy rahimahullah, dan kekuasaannya telah meluas ke wilayah-wilayah yang luas di Iraq dan Syam, dan sesungguhnya negeri itu hari ini tunduk kepada perintah dan kekuasaannya dari Halb sampai Diyala, maka takutlah kalian kepada Allah wahai hamba-hamba Allah, dengarkanlah dan taatilah khalifah kalian dan belalah Daulah-nya yang hari demi hari dengan karunia Allah semakin kuat dan jaya, dan musuh-musuhnya hari demi hari semakin tersingkir dan hancur.

    Maka marilah wahai kaum muslimin! Berkumpullah di sekitar khalifah kalian, supaya kalian kembali sebagai mana dahulu menjadi raja-raja bumi, pendekar-pendekar peperangan, marilah (merapat) untuk supaya kalian hidup jaya lagi mulia, sebagai para pemimpin yang agung. Dan ketahuilah bahwa kita ini berperang demi membela agama Allah dan Allah telah menjanjikan pertolongan, dan (kita) adalah umat yang telah jadikan baginya kejayaan, keunggulan dan keberkuasaan, serta Dia menjanjikan pemberian kekuasaan dan tamkin di muka bumi baginya, maka marilah wahai kaum muslimin menuju kejayaan kalian dan kemenangan kalian. Demi Allah seandainya kalian benar-benar kufur terhadap demokrasi, sekulerisme, nasionalisme dan isme-isme lainnya yang merupakan kotoran dan sampah pikiran orang-orang Barat, dan kalian kembali kepada dien dan aqidah kalian, maka demi Allah dan demi Allah sungguh kalian akan menguasai bumi dan pasti orang-orang barat dan orang-orang timur tunduk kepada kalian, ini adalah janji Allah untuk kalian, ini adalah janji Allah untuk kalian.

    وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

    ”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” [Ali Imran: 139]

    Ini adalah janji Allah untuk kalian

    إِن يَنصُرۡكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمۡ

    “Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu;” [Ali Imran: 160]

    Ini adalah janji Allah untuk kalian

    فَلَا تَهِنُواْ وَتَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱلسَّلۡمِ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ وَٱللَّهُ مَعَكُمۡ وَلَن يَتِرَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ

    “Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.” [Muhammad: 35]
    Ini adalah janji Allah untuk kalian

    وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ

    “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa,” [An Nur: 55]

    Maka mari kalian sambut janji Rabb kalian ini,

    إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُخۡلِفُ ٱلۡمِيعَادَ

    “Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” [Ali Imran: 9]

    Dan pesan kepada seluruh kelompok-kelompok dan jama’ah-jama’ah di muka bumi ini seluruhnya, para mujahidin, para aktifis yang membela agama Allah dan yang mengangkat syiar-syiar Islam, maka kepada para panglima dan para umara kami katakan: Bertaqwalah kalian kepada Allah pada diri kalian, bertaqwalah kalian kepada Allah pada jihad kalian, bertaqwalah kalian kepada Allah pada umat kalian,

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ  وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْ

    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,” [Ali Imran: 102-103]

    Sesungguhnya kami demi Allah tidak mendapatkan bagi kalian udzur yang syar’iy di dalam sikap absen dari membela Daulah ini; maka ambillah sikap yang membuat Allah Tabaraka wa Ta’ala ridlo dengannya kepada kalian, karena sungguh tabir itu sudah tersingkap dan kebenaran itu telah nampak, dan sesungguhnya ia adalah benar-benar Daulah, ia benar-benar Daulah! Daulah kaum bagi kaum muslimin, bagi kaum mustadl’afin, untuk anak-anak yatim, para janda dan orang-orang miskin. Bila kalian membelanya, maka manfaatnya bagi kalian sendiri, dan sesungguhnya ia itu Khilafah, dan telah tiba saatnya bagi kalian untuk mengakhiri perpecahan, gontok-gontokan dan kecerai-beraian yang buruk ini, yang sama sekali bukan dari ajaran Allah sedikitpun. Dan bila kalian menelantarkannya dan memusuhinya, maka kalian tidak akan memadlaratkannya! Kalian tidak akan memadlaratkan kecuali pada diri kalian sendiri! Dan sesungguhnya ia itu Daulah! Daulah kaum muslimin, dan cukuplah bagi kalian apa yang diriwayatkan oleh Al Bukhariy rahimahullah:

    Dari Mu’awiyah radliyallahu ‘anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

    إن هذا الأمر في قريش؛ لا يعاديهم أحد إلا كبّه الله على وجهه، ما أقاموا الدين

    “Sesungguhnya urusan ini ada pada Quraisy, tidak memusuhi mereka seorangpun kecuali Allah pasti membinasakannya, selagi mereka menegakkan dien ini.”

    Dan adapun kalian wahai junud kelompok-kelompok dan tandhim-tandhim (organisasi-organisasi); maka ketahuilah bahwa setelah tamkin dan tegaknya khilafah ini, maka gugurlah kesyar’iyyah (keabsahan) jama’ah-jama’ah dan tandhim-tandhim kalian, dan tidak halal bagi seorangpun di antara kalian yang beriman kepada Allah dia bermalam semalam saja sedangkan dia tidak menganut loyalitas kepada khalifah. Dan bila umara kalian itu memberikan bisikan buruk kepada kalian bahwa ia itu bukan khilafah; maka memang mereka itu selama ini yang selalu membisiki kalian bahwa ia itu bukan Daulah, bahwa ia itu hanyalah wahmiyyah kartuniyyah (khayalan kartun) sampai datang kepada kalian beritanya yang meyakinkan, dan bahwa ia adalah Daulah, dan sungguh benar-benar akan datang kepada kalian kabarnya bahwa ia adalah khilafah dengan izin Allah walaupun setelah saat nanti. Dan ketahuilah bahwa yang paling memperlambat dan menangguhkan kemenangan itu adalah keberadaan tandhim-tandhim ini; dikarenakan ia adalah sebab perpecahan dan perselisihan yang melenyapkan kekuatan, sedangkan perpecahan itu sama sekali bukan termasuk ajaran Islam:

    إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗا لَّسۡتَ مِنۡهُمۡ فِي شَيۡءٍ

    “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka.” [Al An’am: 159]

    Dan ingatlah bahwa umara kalian itu tidak akan menemukan untuk menghalang-halangi kalian dari jama’ah dan khilafah serta kebaikan yang agung ini kecuali dua alasan yang batil lagi lemah:

    Pertama: Adalah sama dengan apa yang dituduhkan dahulu kepada Daulah; bahwa ia itu Daulah Khawarij dan tuduhan-tuduhan lainnya yang sudah jelas nampak kebatilannya dan nampak kepalsuannya di dalam kota-kota yang diperintah oleh Daulah.

    Kedua: Bahwa umara kalian akan menghayalkan kepada diri mereka sendiri dan kepada kalian bahwa ia (Daulah Khilafah) itu hanya sekedar gejolak yang akan padam dan angin puyuh yang muncul tiba-tiba yang tidak akan langgeng, dan bangsa-bangsa kafir tidak akan membiarkannya eksis dan mereka akan bersekongkol terhadapnya sampai ia lenyap dengan segera, dan orang yang selamat dari kalangan bala tentaranya maka ia akan menyingkir ke puncak-puncak gunung, dasar-dasar lembah, tengah-tengah padang pasir dan kegelapan penjara-penjara, dan saat itulah kita kembali kepada jihad Nukhbah (orang-orang pilihan), sedangkan kita tidak memiliki kekuatan dengan jihad Nukhbah, jauh dari hotel-hotel dan konferensi-konferensi, kita tidak memiliki kekuatan dengan jihad nukhbah ini, dan kita ingin memimpin umat dalam jihad umat!

    Enyahlah bagi para umara itu! Dan enyahlah bagi umat yang ingin mereka kumpulkan; umat sekuler, demokrat dan nasionalime, umat murji’ah, ikhwan dan sururiyyah,

    يَعِدُهُمۡ وَيُمَنِّيهِمۡۖ وَمَا يَعِدُهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا

    “Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” [An Nisa: 120]

    Dan sesungguhnya ia itu dengan izin Allah tetap eksis (baqiyah), dan silahkan tanya kelompok-kelompok di Iraq dan para panglimanya, betapa seringnya mereka itu menginginkan agar Daulah ini lenyap, sedangkan mereka itu lebih dasyat kekuatannya dan lebi banyak personilnya daripada mereka itu,

    أَوَ لَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَيَنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ

    “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka?” [Ar Ruum: 9]

    sedangkan mereka itu lebih dasyat kekuatannya daripada mereka.

    Dan adapun kalian, wahai junud Daulah Islamiyyah, maka selamat bagi kalian, selamat bagi kalian atas penaklukan yang besar ini, selamat bagi kalian atas  kemenangan yang agung ini, hari ini orang-orang kafir merasa dongkol dengan puncak kedongkolan, dan hampir saja banyak dari mereka mati karena kedongkolan yang tidak bisa dilampiaskan. Hari ini kaum mu’minin berbahagia dengan pertolongan Allah dengan kebahagian yang agung, pada hari ini kaum munafiqin bersembunyi, dan terhinakan pula kaum rafidlah, shahawat dan murtaddin, pada hari ini para thaghut di timur dan di barat gemetaran karena takut dan cemas, pada hari ini bangsa-bangsa kafir di Barat diliputi rasa takut, pada hari ini jatuh hinalah panji-panji setan dan golongannya, pada hari ini menjulang tinggilah panji tauhid dan ahlinya, pada hari ini kaum muslimin dimuliakan!, pada hari ini kaum muslimin dimuliakan! Inilah khilafah kalian telah kembali, walaupun leher-leher dihinakan, inilah khilafah kalian telah kembali walaupun banyak pihak tidak suka, inilah khilafah kalian telah kembali, kami memohon kepada Allah Ta’ala semoga menjadikannya di atas minhaj Nubuwwah, inilah harapan telah terwujud, inilah impian telah menjadi kenyataan, selamatlah bagi kalian, sungguh kalian telah berkata terus kalian jujur, dan kalian telah menjanjikan terus kalian telah memenuhi janji.

    Wahai bala tentara Daulah Islamiyyah; sesungguhnya di antara nikmat Allah Tabaraka wa Ta’ala yang paling besar atas kalian adalah Dia menyampaikan kalian kepada hari ini dan menjadikan kalian sebagai saksi atas kemenangan ini yang tidak datang kepada kalian setelah karunia Allah Tabaraka wa Ta’ala kecuali di atas darah-darah dan serpihan-serpihan daging saudara-saudara kalian terdahulu, dari kalangan manusia pilihan, kami kira demikian dan Allah-lah yang menilainya dan kami tidak menganggap suci seorang-pun di hadapan Allah, mereka telah memikul panji ini dan telah berkorban dengan segala hal di bawahnya, dan mereka mengerahkan segalanya termasuk nyawa mereka, untuk menyampaikan panji ini kepada kalian dengan kejayaan dan mereka telah berbuat, semoga Allah merahmati mereka dan memberikan balasan kebaikan atas jasanya kepada Islam ini.

    Maka hendaklah kalian menjaga amanah yang berat ini, dan pikullah panji ini dengan segenap kekuatan, siramilah dengan darah kalian dan angkatlah di atas serpihan-serpihan badan kalian, dan matilah di bawahnya, sampai kalian menyerahkannya in Syaa Allah kepada Isa Ibnu Maryam ‘alaihissalam.

    Wahai bala tentara Daulah Islamiyyah; Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memerintahkan kita untuk berjihad dan menjanjikan kemenangan bagi kita dan Dia tidak membebani kita dengan kemenangan itu. Dan pada hari ini Allah Tabaraka Wa Ta’ala telah memberikan karunia kemenangan kepada kalian, maka kita mengumumkan khilafah dalam rangka merealisasikan perintah Allah Tabaraka wa Ta’ala. Kita mengumumkannya, dikarenakan kita ini dengan karunia Allah telah memiliki pilar-pilarnya, dan dengan izin Allah kita mampu terhadapnya, maka kitapun merealisasikan perintah Allah Tabaraka wa Ta’ala dan kita diudzur in Syaa Allah, dan setelah itu kita tidak peduli apapun yang terjadi walaupun ia itu hanya eksis satu hari atau satu jam, dan hanya milik Allah saja segala urusan itu sebelum dan sesudahnya.

    Bila Allah Tabaraka wa Ta’ala melanggengkannya dan ia bertambah kuat, maka itu adalah dengan karunia dan nikmat-Nya saja, karena kemenangan itu hanya berasal dari sisi-Nya. Dan bila ia itu lenyap atau melemah, maka ketahuilah bahwa itu berasal dari keteledoran diri kita dan akibat ulah kita, maka kita in Syaa Allah akan melindunginya selagi ia ada dan selagi ada sisa satu orang di antara kita, dan kita in Syaa Allah akan mengembalikannya di atas minhaj An Nubuwwah.

    Aku terheran dengan orang yang punya tombak dan pedang tajam***Namun dia terpental dengan keterpentalan pedang yang tumpul.

    Siapa yang memiliki jalan kepada kemuliaan***Maka jangan ia tinggalkan tunggangan tanpa pundakan.

    Dan aku tidak melihat sesuatupun pada aib manusia***Seperti kekurangan orang-orang yang mampu untuk menyempurnakan.


    Wahai bala tentara Daulah Islamiyyah, sesungguhnya kalian ini akan menghadapi peperangan yang mengerikan yang membuat anak-anak kecil beruban, berbagai ujian dan cobaan yang beraneka ragam, ujian-ujian dan goncangan-goncangan, yang tidak akan selamat darinya kecuali orang yang dirahmati Allah, tidak teguh di dalamnya kecuali orang yang Allah kehendaki, dan di antara fitnah terbesar itu adalah fitnah dunia, maka hati-hatilah kalian jangan sampai berlomba-lomba di dalamnya, hati-hatilah, dan selalu ingatlah besarnya amanah yang kalian pikul di atas pundak-pundak kalian, di mana kalian sekarang telah menjadi pelindung barisan Islam dan kalian telah menjadi benteng-bentengnya, dan kalian tidak akan bisa menjaga amanah itu kecuali dengan taqwa kepada Allah dalam kondisi rahasia dan terang-terangan, kemudian dengan pengorbanan-pengorbanan, kesabaran dan pengorbanan darah.

    Siapa orangnya yang kemuliaan adalah cita-cita tertingginya***Maka segala yang dilalui di dalamnya adalah disukainya.

    Kemudian ketahuilah:
    Bahwa di antara sebab terbesar kemenangan yang Allah Tabaraka wa Ta’ala karuniakan kepada kalian itu adalah: kerjasama kalian dan tidak adanya perselisihan di antara kalian, ketaatan dan kesetiaan kalian kepada umara kalian, serta kesabaran kalian terhadap mereka, maka ingatlah selalu sebab ini dan jagalah, bersatulah dan jangan berselisih, kerjasamalah dan jangan bertikai, dan jangan sekali-kali kalian memecah belah barisan, dan lebih baik orang di antara kalian disambar kematian daripada dia memecah barisan atau ikut andil di dalam hak itu. Dan barangsiapa ingin memecah belah barisan, maka pecahkanlah kepalanya dengan peluru dan keluarkanlah apa yang ada di dalam kepalanya, siapa saja dia itu, dan tidak ada nilainya dia itu. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

    ومَن بايع إمامًا فأعطاه صفقة يده وثمرة قلبه: فليطعه إن استطاع، فإن جاء آخر ينازعه: فاضربوا عنق الآخر

    “Dan barangsiapa telah membai’at imam terus ia memberikan kesetiaannya dan kepatuhannya, maka hendaklah ia mentaatinya bila dia mampu. Kemudian bila ada datang orang yang menyainginya, maka penggallah leher dia itu.” (Riwayat Muslim dari Abdullah Ibnu ‘Amr radliyallahu ‘anhuma).

    Dan dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

    مَن أطاعني: فقد أطاع الله، ومَن عصاني: فقد عصى الله، ومَن يطع الأمير: فقد أطاعني، ومَن يعصِ الأمير: فقد عصاني، وإنما الإمام جُنّة؛ يُقاتل مِن ورائه ويُتّقى به؛ فإن أمر بتقوى الله وعدل: فإن له بذلك أجرًا، وإن قال بغيره: فإن عليه منه

    “Barangsiapa yang mentaatiku maka ia telah taat kepada Allah, dan siapa yang maksiat kepadaku maka ia telah maksiat kepada Allah, dan barangsiapa yang mentaati amir maka dia telah mentaatiku, dan barangsiapa yang maksiat kepada amir maka dia telah maksiat kepadaku, dan imam itu hanyalah dijadikan sebagai perisai, dilakukan perang di belakangnya dan berlindung di baliknya, kemudian bila dia memerintahkan untuk taat kepada Allah dan berbuat adil, maka sesungguhnya dia itu mendapatkan pahala dengan hal itu, dan bila ia mengatakan selain itu, maka atas dialah dosanya.” (Riwayat Al Bukhariy).

    Wahai bala tentara Daulah Islamiyyah; masih ada satu hal yang ingin saya ingatkan kalian kepadanya; orang-orang akan mencari celah-celah untuk mencela kalian, dan mereka akan mengatakan kepada kalian banyak syubhat; bila mereka mengatakan kepada kalian: Bagaimana kalian mengumumkan khilafah sedangkan umat itu tidak sepakat kepada kalian? Sedangkan fashail dan jama’ah-jama’ah yang lain tidak menerima kalian, juga kataib, liwa-liwa, saraya, partai-partai, firqah-firqah, felix-felix, perkumpulan-perkumpulan, dewan-dewan, lembaga-lembaga, ikatan-ikatan, koalisi-koalisi, bala tentara, jabhah-jabhah, pergerakan-pergerakan dan tandhim-tandhim itu juga tidak sepakat dengan kalian, maka katakanlah kepada mereka:

    وَلَا يَزَالُونَ مُخۡتَلِفِينَ  إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ

    “Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu.” [Hud: 118-119]

    Mereka itu tidak pernah sepakat terhadap suatu urusanpun pada suatu haripun, dan mereka tidak akan sepakat terhadap suatu urusan selamanya kecuali orang yang dirahmati Allah, kemudian sesungguhnya Daulah itu mengumpulkan orang-orang yang mau berkumpul.

    Dan bila mereka mengatakan kepada kalian: “Kalian telah lancang terhadap mereka! Kenapa kalian tidak meminta pendapat mereka sehingga kalian memberikan alasan kepada mereka dan kalian menarik hati mereka?” Maka katakanlah kepada mereka: Sesungguhnya urusannya lebih butuh cepat dari itu,

    وَعَجِلۡتُ إِلَيۡكَ رَبِّ لِتَرۡضَىٰ

    “Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku).” [Thaha: 84]
    Dan katakan kepada mereka: Siapa yang kami harus ajak musyawarah?! Sedangkan mereka itu tidak mengakui bahwa ia itu Daulah, padahal Amerika, Inggris dan Prancis telah mengakui bahwa ia adalah Daulah! Siapa yang harus kami ajak musyawarah?! Apakah kami harus mengajak musyawarah orang yang telah menggembosi kami?! Ataukah kami harus mengajak musyawarah orang yang telah mengkhianati kami?! Ataukah kami harus meminta pendapat orang yang telah bara’ dari kami dan telah memprovokasi manusia terhadap kami? Ataukah kami harus meminta pendapat orang yang memusuhi kami? Ataukah kami harus meminta pendapat orang yang memerangi kami? Siapa yang harus kami ajak musyawarah? Dan terhadap siapa kami telah lancang?!.

    Dan sesungguhnya suatu yang ada di antaraku dengan anak bapakku dan dengan sepupuku adalah sangat berbeda.

    Dan mereka itu tidak hadir untuk menolongku, dan bila mereka***mengajakku kepada pertolongan maka aku mendatangi mereka dengan segera.

    Dan bila mereka mengatakan kepada kalian: “Kami tidak menerima pendirian oleh kalian.” Maka katakanlah kepada mereka: Sungguh dengan karunia Allah kami telah mampu mendirikannya, maka kami wajib melakukan hal itu, dan kami segera melaksanakannya sebagai perealisasian perintah Allah Tabaraka wa Ta’ala.

    وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡ

    “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” [Al Ahzab: 36]

    Dan katakanlah kepada mereka: Karenanya kami telah menumpahkan sungai-sungai dari darah-darah kami, kami menyirami tanamannya, kami rintis pondasi-pondasinya dengan tengkorak-tengkorak kami, kami bangun pilar-pilarnya di atas serpihan-serpihan badan kami, dan kami bersabar terhadap pembunuhan, pemenjaraan, penyiksaan, pemotongan anggota badan bertahun-tahun, dan kami juga mengecap rasa pahit dalam memimpikan hari ini, maka apakah kami harus menangguhkannya sejenak padahal kami sudah sampai kepadanya?

    Dan katakanlah kepada mereka:

    Kami telah mengambilnya secara paksa dengan ketajaman pedang***kami telah mengembalikannya dengan cara kemenangan dan perampasan.

    Kami telah mendirikannya walaupun banyak pihak tidak suka***dan leher-leher mereka telah dipukul keras dengan pedang.

    Dengan pemboman, peledakkan dan penghancuran***Dan dengan bala tentara yang tidak menganggap susah suatu yang susah.

    Dan dengan para singa dalam peperangan yang kehausan***sedang mereka telah meminum banyak darah orang-orang kafir.

    Sungguh khilafah kita telah kembali secara yakin***dan telah tegak Daulah kita dengan bangunan yang kokoh.

    Telah lega dada kaum mu’minin***dan hati orang-orang kafir telah dipenuhi rasa ketakutan.

    Dan terakhir:

    Kami ucapkan selamat kepada kaum muslimin dengan datangnya bulan Ramadlan yang penuh berkah, kami memohon kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala agar menjadikannya sebagai bulan kemenangan, kejayaan dan tamkin bagi kaum muslimin, dan agar menjadikan hari-harinya dan malam-malamnya sebagai bencana bagi Rafidlah, Shahawat dan murtaddin.

    وَٱللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰٓ أَمۡرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ

    “Dan Allah Maha Kuasa terhadap urusan-Nya, akan tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui.”


    Penterjemah berkata: Selesai dialihbahasakan pada tanggal 2 Ramadhan 1435H
    oleh Abu Sulaiman Al Arkhabiliy di LP Kembang Kuning Nusakambangan.




    Ayo boikot produk kafir dan antek-anteknya…..!!!!! Ungkapan itu nyaris keluar dari setiap aktivis muslim ketika terjadi penyerangan kafir dan anteknya kepada dunia Islam. Namun sungguh ironis dan merupakan suatu kelalaian yang nyata, kalau ideologi, paham, pemikiran atau apapun bahasanya yang dianut oleh kafir dan antek-anteknya tidak diboikot, bahkan dibiarkan hingga menjadi berhala yang dijaga, dipelihara dan disembah. Bahkan cinta kepadanya melebihi cintanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena lebih mengutamakannya. Ia adalah Demokrasi, sebuah kata yang tak asing lagi ditelinga setiap orang, yang menjadi tren pujaan hampir semua negara maju dan menjadi cita-cita negara berkembang serta sebagai indikator perkembangan politik suatu Negara bahkan menjadi “agama” baru yang dianut dunia.

    Kata demokrasi berasal dari dua kata yaitu demos yang berarti rakyat dan kratos/kratein yang berarti pemerintahan, sehingga demokrasi lebih dikenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu Negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga Negara) atas Negara untuk dijalankan oleh pemerintah Negara tersebut. Istilah demokrasi berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM yang secara etimologi mempunyai akar bahasa asing Yunani yaitu hukum rakyat yang berarti rakyatlah yang berhak mengatur dirinya sendiri. Sistem ini berdasar pada teori bahwa kekuasaan politik harus mencerminkan kehendak bangsa. Kehendak ini yang memberikan kekuasaan bagi pemerintah untuk melaksanakan pemerintahan. Negara Yunani tersebut biasanya dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan pergantian masa, dan definisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18. bersamaan dengan perkembangan sistem demokrasi di banyak Negara.

    Demokrasi menganut prinsip Trias Politica dari JJ. Rosseau yaitu pembagian kekuasaan politik menjadi tiga yaitu eksekutf, yudikatif dan legislatif. Prinsip ini muncul karena adanya kekuasaan absolut pemerintah yang seringkali menimbulkan pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan tidak mampu membentuk masyarakat yang adil dan beradab. Rosseau dengan bukunya Le Contret Social dianggap seperti Injil oleh para pemimpin Revolusi Perancis, sebuah revolusi yang melahirkan dunia barat modern, yang jauh dari agama karena sejak awal munculnya demokrasi adalah ingin memberontak kepada agama yang pada waktu itu terjadi kesesatan dan penyelewengan didalamnya yang pada akhirnya membentuk ideologi sosial pada masa itu bahwa agama harus berpisah diri dari pemerintahan. Namun ada pendahulunya yang lebih konkrit dan menyeluruh sebagai sebuah sistem pemerintahan atau politik dan bahkan sebagai dasar pijakan kehidupan atau kehidupan itu sendiri. Ia adalah Islam sebagaimana yang diakui oleh seluruh manusia muslim maupun kafir. Kecuali segelintir orang yang mengatasnamakan diri mereka sebagai pembaharu. Para orientalis pun mengakui bahwa Islam bukan hanya semata agama namun sebagai sistem politik (Fitzgerald), Negara (Nallino), teori perundang-undangan dan politik (Schacht), berdirinya sebuah masyarakat yang independent yang mempunyai system pemerintahan, perundang-undangan dan institusi (Gibb). Pendapat-pendapat ini semuanya berasal dari para orientalis, sehingga amat sangat disayangkan jika aktivis muslim lebih mementingkan demokrasi daripada sistem Islam. Apakah aktivis muslim sudah kehilangan tauhidnya?

    Demokrasi merupakan perselisihan yang terjadi pada inti aqidah, dimana agama dibangun diatasnya. Perselisihan ini –sejarah mencatat- disebabkan kelalaian (tafrith) atau tidak mengerti terhadap masalah yang telah ditetapkan oleh nash atau karena berlebihan (ifrath) dan melampai batas (Ghuluw) terhadap yang telah ditetapkan oleh nash yaitu dengan menambah makna syar’i yang ada atau menambahi jumlahnya atau dengan menggabungkan hukum dan syariat yang baru dan buatan sendiri ke dalam nash-nash yang tetap dalam syariat. Sungguh amat sangat murahan jika Islam digadaikan bahkan digantikan oleh sampah fatamorgana demokrasi. Memimpikan sebuah Negara modern berdasarkan angan-angan. Bahkan di barat sendiri tidak ada konsensus yang pasti tentang makna dan bagaimana demokrasi itu bisa diterapkan sebagai sebuah model sistem pemerintahan yang paling ideal. Tidak ada kesepakatan antara kaum teoritis dan praktis apakah demokrasi memang benar sebuah bentuk pemerintahan atau hanya merupakan term yang digunakan untuk menggambarkan suatu masyarakat sebagai masyarakat yang menganut nilai-nilai demokrasi. Masihkah aktivis muslim menerima sesuatu yang tidak ada kejelasan dan kepastian?

    Dalam sejarah tidak pernah tercatat meski dengan tinta getah bunga bangkai sekalipun bahwa demokrasi tegak berdiri bagaikan gunung yang kokoh. Kontrak sosial (politik) yang dicetuskan oleh JJ. Roseau tidak lebih dari sebuah hipotesis kerena dia memformulasikan teori kontraknya berdasarkan kondisi yang dia bayangkan pada abad-abad yang lalu. Dan tidak ada bukti sejarah yang mendukungnya. Sedangkan teori kontrak Islam berdasarkan pada masa lalu yang bersejarah yang benar-benar ada dan terjadi. Banyak aktivis muslim mengatasnamakan rakyat (yang merupakan inti dasar setiap kekuasaan, dalam berideologi maupun berkehendak. Mereka adalah tuan bagi diri mereka sendiri) dalam setiap kampanyenya, namun pada kenyataanya bukan rakyat tapi hanyalah kepentingan segelintir orang saja. Karena rakyat adalah kumpulan manusia yang terbatas pada lingkup territorial, geografis tertentu yang disatukan oleh ras, darah, bahasa, tradisi dll. Sangat jauh berbeda dengan umat yang merupakan kumpulan manusia dengan ikatan tempat, darah, bahasa dan yang paling utama adalah ikatan aqidah shahihah. Hal ini sering dan mungkin sengaja dinafikan oleh aktivis muslim, sehingga mereka menganggap sama antara rakyat dan umat.



    Maka dalam sistem demokrasi dikenal adanya partai dimana sekelompok manusia yang dikumpulkan oleh kepentingan bersama, atau kemaslahatan menyeluruh yang didasari ikatan keyakinan maupun keimanan atau atas dasar kekufuran dan kefasikan serta kemaksiatan atau atas dasar ikatan tanah kelahiran atau kabilah dan nasab tertentu atau karena profesi dan bahasa atau apa saja bentuknya dari berbagai ikatan maupun sifat kemaslahatan yang mengharuskan manusia berkumpul atasnya dan mendukungnya. Tanpa memperhatikan dasar yang fundamental yaitu tauhid. Membiarkan pluralisme berkembang dalam tubuh muslim dengan dalil persatuan dan kesatuan. Dengan adanya multi partai, niscaya terdapat tatanan social yang saling bertentangan. Perpecahan menjadi asas dasar dari kepartaian yang seharusnya dihindari oleh muslim, akan tetapi malah sebaliknya. Bahkan orang yang memecah belah agama (mengganti dengan mengimani sebagian dan mengkafiri sebagian) dan mereka menjadi beberapa golongan adalah bentuk kemusyrikan (baca : Ar Ruum, 31-32). Partai juga dibangun atas dasar ambisi dan pesaingan.

    Apakah kita takut dijuluki “teroris” karena anti demokrasi? Dan kemudian kita membelanya sampai mati? Sejarah Iran telah menggambarkan bahwa para pelajar mati saat membela demokrasi. Dan ini merupakan kesuksesan besar Washington dalam menciptakan generasi yang siap mempertahankan demokrasi hingga mati. Dan keberhasilanya dalam meniupkan apa yang disebut pembaharuan dalam Islam yang berujung pada membongkar fondasi dan struktur bangunan agama. Tugas renovator (pembaharu) adalah memperjelas yang kabur dan menjernihkan yang keruh, mengangkat yang terabaiakan dan memurnikan yang tercemar. Namun mereka mencuci otak setiap muslim dengan racun ideologi (termasuk demokrasi) yang bertentangan dengan Islam. Perang pemikiran ini bukan perang dalam dataran ijtihadi (sebagaimana yang diakui oleh sebagain ulama) namun ini adalah perang ideologi, keyakinan, keimanan antara yang hak dan batil, antara yang ma’ruf dan munkar. Dan tidak ada peperangan dalam Islam kecuali karena aqidah sebagaimana yang terjasi dalam sirah nabawiyah.

    Sebuah kesalahan yang sangat fatal jika Islam disamakan atau bahkan diidentikan dengan demokrasi. Ada tiga hal yang sangat penting untuk diketahui sebagai perbedaan yang sanat fundamental, yaitu :

    1.    Rakyat atau bangsa
    Rakyat dalam demokrasi adalah rakyat yang terbatas pada lingkup wilayah territorial geografis, yang hidup dalam suatu daerah tertentu dan disatukan oleh ikatan-ikatan darah, ras, bahasa, dan tradisi yang sama. Artinya demokrasi adalah sinonim-secara pasti-dengan pemikiran nasionalisme atau rasialisme yang dipenuhi kecenderungan fanatisme kelompok. Sedangkan menurut Islam, umat adalah kumpulan yang disatukan bukan oleh kesatuan tempat, darah, atau bahasa, karena itu adalah ikatan sintetik, sementara dan sekunder, ikatan yang utama adalah kesatuan aqidah atau dalam pemikiran dan emosi.

    2.    Tujuan
    Tujuan demokrasi adalah kehidupan dunia dan materi. Namun tujuan Islam adalah kemaslahatan dunia dan akhirat.

    3.    Kekuasaan rakyat
    Kekuasaan rakyat dalam demokrasi adalah mutlak. Rakyat yang menetapkan undang-undang dan menghapusnya. Keputusan yang dikeluarkan majlis menjadi hukum yang harus ditaati sekalipun melanggar aturan moral atau bertentangan dengan kepentingan universal manusia. Sedangkan kekuasaan mutlak dalam Islam hanya milik AllahSubhanahu Wa Ta’ala. Kekuasaan rakyat terikat oleh syari’at Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga seseorang tidak bisa berbuat sewenang-wenang.

    Sebagai uraian akhir, Islam akan hilang dari tubuh seorang muslim bersama hilangnya ideologi Islam ketika ideologi lain (demokrasi-pemilu-hizbiyah (partai) dan yang berhubungan denganya) sudah menjadi dasar berpijak pemikiranya. Maka solusi bagi fatamorgana ini adalah revolusi yang fundamental dalam tubuh muslim dari system demokrasi (pemilu dll) menjadi system Islam, boikot seluruh ideologi kafir (demokrasi dll) dalam tubuh umat Islam, eksplorasi solusi konstruktif edukatif dari sistem Islam untuk permasalahan global (dunia) dan jangan gadaikan ideology Islam dengan ideologi hizbiyah kafir laknatullah. Wa Allahu a’lam Bi al Shawab. 

    Oleh : AM. Efendi, M.Si.
    Ketua Bidang Pendidikan Kader PC Pemuda Muhammadiyah Blimbing Sukoharjo, Guru Unit MTs dan SMA PonPes Imam Syuhodo Sukoharjo

    Maraji’:
    1.        Al Hakayamah, Muhammad Khalil, 2008, Usthurah Al Wahm, Kasyf Al Qina”an Al Istikhbarat Al Amrikiyyah Al Qaeda Membongkar Intelijen Amerika, alih bahasa Irwan Raihan, Solo: Media Islamika

    2.        Al Imam, Asy Syaikh Muhammad Bin ‘Abdillah, 2009, TanwirAzh Zhulumat Bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al Inyikhabat Menggugat Demokrasi dan Pemilu Menyingkap Borok-Borok Pemilu Dan Membantah Syubuhat Para Pemujanya, alih bahasa Abu MUqbil Ahmad Yuswaji dan Abu Nizar Arif Mufid, Banyumas: Pustaka Salafiyah

    3.        Al Maqdisi, Syeikh Abu Muhammad Ashim, 2008, Ad Dimuqrathiyah dinun Agama Demokrasi,alih bahasa Abu Musa Ath Thayar, Klaten: Kafayeh

    4.        Al Mubarakfuri, Syaikh Syafiyurrahman, 2008, Al Ahzab As Syiyasiyah Fil Islam Islam dan Partai Politik Membedah system Politik dan Demokrasi, alih bahasa Ahmad Mulyono, Jakarta: Pustaka At Tazkia

    5.        Arif, Syamsuddin, DR., 2008, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani

    6.        Black, Anthony, 2006, The History Of Islamic Political Thought: From The Prophet to The Present Pemikiran Politik Islam Dari Masa Nabi HIngga Masa kini, alih bahasa Abdullah Ali dan Mariana Ariestyawati, Jakarta: Serambi

    7.        Grey, Jerry D, 2007, Demokrasi Barbar Ala Amerika, Depok: Sinergi

    8.        Ibn Katsir, Abu Fida, 2006, Tafsir Al Qur’an Al ‘Adhim, Lebanon: Daar al Kutub al ‘Alamiah

    9.        Jaiz, Hartono Ahmad, 2003, Aliran dan Paham Sesat Di Indonesia,Jakarta: Pustaka Kautsar

    10.    Rais, M. Dhiaudin, DR., 2001, Al Nadhariyat Al Syiyasiyah Al Islamiyah Teori Politik Islam, Jakarata: Gema insani press

    11.    Saikal, Amin, 2006, Islam and West, conflik, or coperatian Islam dan Barat Konflik atau kerjasama, alih bahasa Abdul Halim Mahalli, Jakarta: Sanabil puastaka


    Umat Islam saat ini tidak membutuhkan seorang Presiden, tapi membutuhkan seorang Khalifah. Presiden adalah kepala negara dari sebuah sistem kafir dan batil, yakni demokrasi. Sementara itu, Khalifah adalah kepala negara tuntunan syariat Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dimana Khalifah akan memimpin umat Islam di seluruh dunia di bawah sistem Khilafah Ala Minhajin Nubuwah.

    Khilafah adalah sebuah sistem kenegaraan dan kepemimpinan umat Islam seluruh dunia. Syekh Ad Dumaiji dalam bukunya Al Imamatul ‘Uzhma ‘inda Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mengatakan bahwa Khilafah, Imamah, dan Imaratul Mu`minin adalah sinonim alias sama.

    Umat Islam saat ini tidak membutuhkan calon Presiden dan juga calon Wakil Presiden, yang lahir dari sistem pemerintahan batil Republik. Dalam sistem Republik, pilarnya adalah demokrasi dimana kedaulatan berada di tangan rakyat.

    Umat Islam saat ini hanya membutuhkan seorang Khalifah, yang lahir dari sistem Islam Khilafah, dimana dalam sistem khilafah, kedaulatan berada di tangan syara’, bukan di tangan rakyat juga bukan di tangan khalifah.

    Sistem pemerintahan Islam atau Khilafah berbeda dengan sistem pemerintahan sekuler atau Republik. Sistem Republik berdiri di atas pilar sistem demokrasi, yang kedaulatannya ada di tangan rakyat. Rakyatlah yang memiliki hak untuk memerintah serta membuat aturan, termasuk rakyatlah yang kemudian memiliki hak untuk menentukan seseorang untuk menjadi penguasa, dan sekaligus hak untuk memecatnya. Rakyat juga berhak membuat aturan berupa undang-undang dasar serta perundang-undangan, termasuk berhak menghapus, mengganti serta mengubahnya.

    Sementara sistem pemerintahan Islam atau Khilafah berdiri di atas pilar aqidah Islam, serta hukum-hukum syara’. Dimana kedaulatannya di tangan syara’, bukan di tangan umat. Dalam hal ini, baik umat maupun Khalifah tidak berhak membuat aturan sendiri. Karena yang berhak membuat aturan adalah Allah SWT. Sedangkan Khalifah hanya memiliki hak untuk mengadopsi hukum-hukum untuk dijadikan sebagai undang-undang dasar serta perundang-undangan dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Begitu pula umat tidak berhak untuk memecat Khalifah. Karena yang berhak memecat Khalifah adalah syara’ semata. Akan tetapi, umat tetap berhak untuk mengangkatnya. Sebab Islam telah menjadikan kekuasaan di tangan umat. Sehingga umat berhak mengangkat siapa saja yang mereka pilih dan mereka bai’at, untuk menjadi wakil mereka. 

    Adakah Seorang Khalifah Untuk Umat Islam Saat Ini? 
    Umat Islam memang telah lama tidak memiliki seorang pemimpin umat, seorang Khalifah. Sejak diruntuhkan pada tanggal 3 Maret 1924, umat Islam hidup tanpa naungan sistem Khilafah dan seorang Khalifah.

    Alhamdulillah, pasca perjuangan panjang kaum Muslimin, dengan dakwah dan jihad yang konsisten, dengan darah serta keringat Mujahidin, cikal bakal sistem Khilafah telah muncul dan seorang calon Khalifah telah hadir di tengah-tengah umat.

    Adalah Daulah Islam Iraq Dan Syam yang lebih dikenal dengan sebutan ISIS (Islamic State of Iraq and Sham), yang tidak bisa disangkal lagi merupakan cikal bakal Khilafah Ala Minhajin Nubuwah yang dijanjikan Rasulullah SAW.

    ISIS kini menjadi harapan seluruh umat Islam yang rindu hidup di bawah naungan khilafah. Sebaliknya, ISIS menjadi duri yang menyakitkan di tenggorokan bagi musuh-musuh Islam dan antek-anteknya.

    Melalui calon Khalifah-nya, Syekh Abu Bakar Al-Baghdady, ISIS giat dan gencar beerjuang menegakkan Khilafah di Bumi Syam. Syekh Abu Bakar Al-Baghdady sebagai calon Khalifah juga memiliki banyak keistimewaan, diantaranya adalah Beliau (Syekh Abu Bakar Al-Baghdady) keturunan Quraisy, seorang yang faqih dalam agama, ahli ibadah yang zuhud, dan tentunya seorang Mujahid, panglima tentara-tentara dien ini yang berada di garis depan perjuangan Islam.

    Syekh Abu Bakar Al-Baghdady tidak hanya berjihad untuk menggulingkan rezim Bashar Assad di Suriah, melainkan juga sedang menjalankan rencana seluruh umat Islam sedunia, yakni menegakkan Khilafah Islam ala minhajin nubuwah.

    Wallahu’alam bis Showab!
    (M Fachry/Al-Mustaqbal.Net)



    Realita Di Parlemen, Kisah Nyata Seorang Ulama Yang Menjadi Wakil Rakyat

    Berikut adalah cuplikan dari makalah Dr. Ahmad Ibrahim Khidir yang dimuat di Majalah Al-Bayan No. 66 yang dikeluarkan oleh Al-Muntada Al-Islami di London, yang kemudian dimasukkan sebagai suplemen dalam buku Agama Demokrasi karya Syekh Al-Maqdisi terbitan Al-Fajr Media. Semoga menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pandangan.

    Aku tidak pernah menyangka bahwa apa yang telah ditetapkan Allah di dalam kitab Nya dan melalui lidah Rasul Nya memerlukan persetujuan dari hamba hamba Allah. Akan tetapi aku terkejut ketika firman Allah SWT Rabb yang maha tinggi itu akan tetap berada dalam mushaf- yang mempunyai kesucian di dalam hati kita – sampai ia mendapat persetujuan dari hamba hamba Allah di parlemen untuk menjadi sebuah undang undang. Dan apabila keputusan hamba hamba Allah di parlemen itu berbeda dengan hukum Allah di dalam Al Quran, maka keputusan hamba hamba Allah lah yang dijadikan undang undang yang berlaku, meskipun undang undang tersebut bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah.

    Sebagai bukti, di dalam hal ini, adalah diharamkannya khomer oleh Allah, namun parlemen justru membolehkannya. Bahwasanya pula Allah memerintahkan untuk menegakkan hokum “hudud”, tetapi hal itu diabaikan oleh parlemen. Hasil dari contoh-contoh ini adalah apa yang ditetapkan oleh parlemen. Maka, ia menjadi undang-undang, meskipun menyelisihi Islam.

    Kata kata ini adalah kesimpulan dari salah seorang ulama Islam setelah menjadi wakil rakyat di parlemen. Ulama tersebut sebelumnya memandang perlu untuk berbicara di mimbar mimbar dan menulis di berbagai surat kabar. Setelah lama ia bergelut dengan cara seperti itu, dia semakin bertambah yakin dengan manfaatnya, akan tetapi dia merasa dengan begitu saja tidak cukup untuk mengadakan perubahan di dalam masyarakat dan pemerintahan. Maka, dia pun mendaftarkan diri untuk menjadi anggota parlemen dalam rangka mencari cara baru untuk menegakkan kalimatullah dengan melaksanakan syariat Islam, untuk menyelamatkan manusia dari kesesatan, untuk membebaskan mereka dari kebatilan, dan untuk mengembalikan mereka ke dalam pangkuan Islam.

    Maka, ulama tersebut sukses menjadi anggota parlemen dengan motto,” Berikan suaramu kepadaku supaya aku perbaiki dunia dengan din.” Manusia pun memberikan suara mereka kepadanya karena percaya kepadanya, meskipun terjadi berbagai penyimpangan, dia terus menjadi anggota wakil rakyat selama dua periode berturut turut. Setelah itu dia mengatakan, “Sesungguhnya, retorika Islam sulit memperoleh gaung yang logis selama dua periode ini.”

    Apa yang dia simpulkan setelah lamanya bergelut di parlemen ? “Islam tidak dipandang perlu dalam sistem demokrasi parlemen ini !!!

    Maka hati ulama ini menjadi membara , dan ulama yang menjadi wakil rakyat itu mempersiapkan kata kata yang membekas dan  berdiri di podium dan mengatakan kepada seluruh anggota parlemen :

    “Wahai para wakil rakyat yang ku hormati, aku bukanlah penyembah jabatan dan aku bukan orang yang tamak dengan kursi semata. Dahulu motto yang aku gunakan untuk orang orang di daerah pemilihanku adalah : Berikan suaramu kepadaku supaya kami memperbaiki dunia dengan Din. Dahulu aku mengira bahwa cukup untuk merealisasikan tujuan tersebut dengan cara mengajukan berbagai rancangan undang undang Islam, namun ternyata majelis ini menunjukkan kepadaku bahwa majelis ini tidak memberikan hak hukum kepada Allah, kecuali harus melalui hawa nafsu partai kalian , dan partai partai kalian tidak mungkin untuk membiarkan KalimatuLLah tinggi…

    Sungguh aku telah mendapatkan jalanku berjuang bersama kalian telah buntu, oleh karena itu , aku nyatakan pengunduran diriku dari parlemen, tanpa sedikitpun menyayangkan sedikitpun status keanggotaanku hilang dalam parlemen.

    Ulama yang pernah menjadi wakil rakyat itu pun pulang ke rumahnya pada bulan April 1981, dia meninggalkan parlemen, kemudian ia meninggalkan seluruh dunia ini beberapa tahun kemudian, dan parlemen pun tetap menetapkan, membuat, dan menjalankan hukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah.(sumber : al-mustaqbal.net)

    Makna syirik

    Syirik artinya menyekutukan Alloh Subhanahu wa ta’ala dalam beribadah  dengan salah satu diantara makhluknya 

    Sebab-sebab syirik
    1. Pengagungan, pemuliaan dan penghormatan yang berlebihan. Pengagungan dalam syariat islam ada dua, macam:  yang pertama, Pengagungan yang sampai batas-batas tertentu dibolehkan bahkan diwajibkan (thobi’i), seperti anak kepada ayahnya (QS 17/23-24), terhadap nabi dan Rasul as (QS 4/64, 24/63, 49/2-3). Yang kedua, pengagungan yang berlebihan dan sampai pada tingkat taqdis (pengkultusan) kepada siapapun adalah terlarang, walaupun terhadap Nabi As (QS 3/144), malaikat (QS 43/19), jin (QS 37/158-159), ulama dan orang shalih (QS 71/21-23) benda-benda langit (QS 41/37)
    2. Bersandar kepada sesuatu yang dapat diketahui oleh panca indera saja dan meremehkan yang diluar panca indera (QS 2/55, 7/138, 20/87-88)
    3. Mengutamakan hawa nafsu (QS 31/21, 19/59, 28/50, 25/43, 3/14)
    4. Bersikap sombong (QS 43/51-52, 40/56, 2/258)
    5. Ridha kepada para pemimipin yang menindas manusia dan tidak berhukum  kepada hukum Alloh swt dan rasulNya (QS 5/44-47, 7/65-66, 7/73-76, 34/31-33).

    Bentuk-bentuk syirik

    Syirik dalam al-Qur’an dan as-Sunnah bukan hanya sujud kepada berhala saja, sujud kepada berhala merupakan salah satu dari bentuk-bentuk syirik yang sangat banyak bentuknya, diantaranya:

    1. Meyakini bahwa ada yang memiliki kekuatan atau dapat member manfaat dan mudharat selain Alloh SWT(QS 2/102)
    2. Mendekatkan diri dengan memuja kepada sesuatu dengan keyakinan  bahwa dengan sesuatu itulah ia dapat mendekatkan dirinya kepada Alloh SWT (QS 39/3)
    3. Memohon pertolongan kepada orang mati, ruh, atau jin untuk memudahkan urusannya(QS 10/18, 72/6)
    4. Cinta (mahabbah) dan loyalitas (wala’) yang salah. Cinta dan loyalitas hanya boleh diarahkan kepada Alloh SWT, dan rasul SAW, dan orang-orang yang beriman dan bertaqwa, dan tidak boleh diarahkan kepada  orang-orang yang menentang agama Alloh SWT (QS 58/22) dan orang-orang yang mengejek hukum-hukum Alloh SWT(QS 5/57). Jika ia mencinta sesuatu yang dilarang oleh Alloh SWT atau karena lebih mencintai sesuatu sehingga ia berani melanggar hukum Alloh SWT, maka ia telah syirik (QS 2/165, 9/24)
    5. Beranggapan bahwa aturan/hukum buatan manusia lebih baik dari hukum Alloh SWT dan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal (QS 9/31, 16/35, 42/21, 4/65).
    6. Sihir (QS 10/81). Dari Bujalah bin ‘Abdah berkata bahwa Umar ra telah mengirim surat kepada gubernurnya untuk menghukum mati para tukang sihir.
    7. Perdukunan (QS 6/59, 27/65), barang siapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad. (HR.Abu dawud).
    8. Bersumpah dengan selain Alloh: “Barang siapa bersumpah dengan selain Alloh, maka ia telah syirik”. (HR Tirmidzi).
    9. Menggantungkan jimat, “Barangsiapa menggantungkan jimat (tamimah), maka ia telah syirik”.(HR.Ahmad)
    10. Mantera dan jampi-jampi. Sesungguhnya bermantera (ar-ruqa’) dan jimat (tama’im) dan pekasih/pelet (at-tiwalah) adalah syirik. (HR.Ibnu Majah)
    11. Menyembelih untuk selain Alloh. Bersabda Nabi SAW : “ada seorang yang masuk naar karena lalat dan seorang lainnya yang masuk jannah karena lalat”. Maka para sahabat ra bertanya: “bagaimana bisa begitu ya rasulullah?”, maka jawab nabi SAW: “dua orang lelaki lewat pada suatu kaum yang memiliki berhala yang tidak boleh dilewati tanpa berkorban sesuatu, maka kaum itu berkata kepada lelaki yang pertama: Sembelihlah kurban!, jawab lelaki tersebut : aku tidak punya sesuatu untuk dikorbankan, maka kata kaum tersebut: Berkurbanlah walau hanya dengan seekor lalat!, maka lelaki itu melakukannya dan ia bias lewat dengan selamat, tetapi ia masuk naar. Maka hal yang sama terjadi pada lelaki yang kedua, saat diminta berkurban, ia menjawab:aku tidak akan berkurban kepada sesuatupun selain kepada Alloh Azza wa jalla, maka lelaki yang kedua ini dipenggal kepalanya oleh mereka dan ia masuk jannah “ (HR.Ahmad)
    12. Merasa sial karena sesuatu apapun: kata nabi SAW: ”barangsiapa yang tidak jadi melakukan sesuatu karena merasa sial, maka ia telah syirik”, maka para sahabat ra bertanya: ”lalu bagaimana kafarat dari hal tersebut wahai Rasulullah?”, maka jawab  nabi SAW: “katakanlah : Allohumma la khaira illa khairoka wala thiyara illa thiyaraka wala ilaha ghoiroka” (HR.Ahmad)
    13. Syirik kecil, yaitu riya’ (QS 18/110): merasa senang saat orang lain melihat perbuatan baiknya dan menambahinya,dan merasa malas saat tak ada yang melihatnya dan menguranginya. Kata nabi : “yang paling aku takutkan terjadi atas kalian adalah syirik kecil”, maka para sahabat bertanya: “apakah syirik kecil itu wahai rasululloh?”, jawab nabi SAW : “Riya’”. (HR.Ahmad dan Abu Dawud)

    Dampak syirik
    1. Memadamkan cahaya fithrah yang bersih. Manusia dilahirkan berada dalam fithrah tauhid yang suci, maka orang tua, lingkungan, dan hawa nafsunyalah yang memadamkan fithrah tersebut dari tauhid yang lurus (QS 30/30)
    2. Mematikan kesucian jiwa. Jiwa yang bertauhid takkan tenggelam dalam lumpur hawa nafsu, karena hawa nafsu bersifat menurunkan jiwa manusia kebumi sementara ruh mengangkat ke langit dan melihat ke alam malakut. Maka jiwa yang melakukan syirik akan jatuh ke jurang kerendahan dan kehinaan (QS 22/31)
    3. Menghilangkan sifat ‘izzah (kemuliaan). Karena membuat jiwa menjadi tunduk kepada sesuatu selain Alloh SWT yang rendah dan hina. Kemuliaan itu hanya milik Alloh, RosulNya, dan orang beriman (QS 63/8). Seseorang yang berbuat syirik takkan pernah memiliki kemuliaan dan takkan pernah merasakannya karena ia telah bersandar kepada sesuatu yang rendah dan hina (QS 22/73)
    4. Menggugurkan semua amal baik (QS 63/8). Dosa yang paling besar dan paling dahsyat bahayanya adalah syirik, karena syirik langsung menyentuh nilai-nilai tauhid yang paling mendasar dan aspek ketuhanan yang paling penting dalam agama Islam, yaitu pengakuan syahadah dan ke-Maha Esa-an Alloh SWT dari segala sekutu dan tandingan.
    5. Kekal dan abadi di naar (QS 4/116-121) maka sebagai hukumannya pun paling berat yaitu kekal di naar, dan tidak mendapatkan kesempatan pengampunan sama sekali dari Alloh SWT, padahal Ia adalah yang Maha Penyayang (karena pelanggaran ini adalah kesalahan yang memang tidak dapat dan tidak boleh dimaafkan).

    Allohumma inna na’uudzu bika min an nusyrika bika syai’an na’lamuh wa nas taghfiruka limmaa laa na’lamuh…


Top