Beginilah Seharusnya Daulah (Negara) Islam


Dalam ceramahnya, yang kemudian dijadikan sebuah buku, Syekh Abu Hamzah Al-Muhajir-rahimahullah-memberikan penjelasan tegas dan lugas tentang hakikat Daulah Islam dan bagaimana seharusnya keberadaannya. 

Ceramah beliau, yang kemudian menjadi sebuah buku, dengan judul Daulah Nabawiyah (Negara Nabi) berisikan bagaimana negara Islam pertama yang didirikan di masa Rasulullah SAW., dan kemudian direfleksikan beliau kepada Daulah Islam Iraq, dimana beliau dahulu pernah berada di dalamnya.

Dalam kata pengantarnya, beliau menuturkan ;
Segala puji bagi Allah Sang Pemilik Kerajaan, Yang disucikan dari kezaliman, Yang Maha Besar, Yang Maha Kekal, Yang Maha Mendengar setiap keluhan, Yang Menghilangkan segala musibah. Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad, yang diutus dengan membawa bukti-bukti yang jelas, argument yang tak terbantahkan, sebagai pemberi kabar gembira, pemberi peringatan, dan penyeru kepada Allah dengan izin-Nya dan sebagai pelita penerang.

Amma ba’du ..

Setiap muwahhid (orang yang bertauhid) harus mengetahui bahwa semua millah (agama) kufur dengan berbagai macam aliran, manhaj dan kepentingan yang bertentangan, mereka semua mengerti bahwa sampainya jihad di tempat tertentu pada tataran kekuasaan dengan sudah mulai menerapkan  hukum Allah di muka bumi dan mengembalikan khilafah Islamiyah, adalah suatu hal yang membahayakan dimana ketika sudah seperti itu keadaannya jihad pasti telah memakan darah.

Ini merupakan persoalan yang mereka semua bersepakat tidak mungkin membiarkannya begitu saja atau gencatan senjata dalam hal itu. Karenanya mereka menggunkan semua sarana yang memungkinkan untuk menghabisinya, dengan mengabaikan prinsip-prinsip etika dan norma. Dimana telah sekian lama mereka selalu membohongi hamba-hamba Allah yang tertindas dengannya.

Dan karena kita –sangat disayangkan- adalah suatu generasi yang dilahirkan dan tumbuh berkembang di bawah naungan kehinaan dan ketundukkan dan terjauhkan dari nilai-nilai ketinggian dan kemuliaan. Kita telah lupa kebesaran kita dan sejarah bangunannya. Karena itu kita harus kembali sebentar kepadanya, terutama kepada tema yang berkaitan konsep Daulah Nabawiyah (Negara Nabi) dan situasi dan kondisi di awal perkembangannya. Hal itu disebabkan karena banyak dari kita memahami bahwa konsep Daulah Isalmiyah sama dengan konsep Daulah Thaghutiyah (Negara Thaghut) yang diciptakan oleh perjanjian Six Piccot, semisal negara Saddam Husein, Hafizh Al-Asad dan Husni (Yang Tidak) Mubarak. 

Bagaimanakah Seharusnya Sebuah Negara Islam? 

Beliau kemudian melanjutkan, ;

Sebagian kita salah memahami bahwa konsep Negara yang seharusnya berdiri dan dideklarasikan adalah Negara seperti di zaman Harun Al-Rasyid, dimana situasi dan kondisinya aman, mangambil emas laksana air, mengirim pasukan dimana yang terdepan ada di tempat musuh dan yang paling belakang ada di Baghdad.

Mari kita menuju Madinah Nabawiyah untuk mengamati, meskipun hanya sedikit, tentang gerakan merintis Daulah Nabawiyah. Apakah dulu Madinah satu-satunya tempat berlindung yang aman, tempat berlindung kaum mukminin yang tertindas (mustadh’afin), ataukah justru periode baru pengorbanan dengan nyawa dan harta serta episode lain dari episode-episode kefakiran, ketakutan, kelaparan, kekurangan harta benda, jiwa dan buah-buahan?

Kita ingin mengetahui, apakah  di awal berdirinya Daulah Nabawiyah sudah dalam keadaan kuat dan kokoh yang tidak tergoncangkan oleh tiupan angin dan berbagai fitnah, ataukah justru kaum mukminin mengalami ketakutan yang begitu besar sampai berpurbasangka kepada Rabb mereka?

Apakah pertanian kaum mukminin subur, perdagangan berjalan lancar dan anggota mereka bertambah, ataukah justru malah para pemuda, orang-orang tuanya terbunuh fi sabilillah (di jalan Allah) dan perdagangan mereka macet dan pertanian mereka kering kerontang?

Apakah  negeri itu airnya dingin segar, udaranya enak, ataukah negeri yang penuh wabah penyakit dan airnya kering?

Apakah  pasukan Nabi memiliki prajurit dan perlengkapan yang banyak, ataukah sebagaimana yang digambarkan Allah dalam firman-Nya, 

(وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ ) 

(Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah (QS Ali Imaran (3) : 123) 

berada dalam keterbatasan jumlah pasukan dan perlengkapan serta kesulitan hidup?

Terakhir, pendorong tadzkirah tentang konsep Negara ini adalah bahwa kami yang ada di Iraq, setiap muwahhid yang bersama kami merasa gembira dan bahagia. Beberapa hari ke depan kita akan melewati peringatan tahun kedua berdirinya Daulah Islam di negeri dua aliran sungai ..

Ya, waktu itu umur Daulah Islam Iraq memang baru dua tahun, dan atas idzin Allah, kini usia negeri yang diberkahi tersebut telah berjalan 6 tahun lebih, Alhamdulillah!

Beliau melanjutkan :

Dua tahun bersabar, teguh pendirian, dan pengorbanan ..

Dua tahun, Daulah Islam Iraq masih bisa eksis. Kami memanen kepala-kepala penjajah dan antek-anteknya.

Kami membuat orang-orang kafir marah dan membuat hati kaum mukminin lega.

Dua tahun, kami jalankan bahteranya dengan darah-darah kami dan dengan tengorak-tengkorak kami, kami tinggikan bangunannya ..

Dua tahun, para pemuda Islam Iraq teguh di atas perintah Allah, meskipun berbagai ujian, fitnah dan tuduhan batil menikam punggung mereka dari kawan-kawan di hari kemarin. Dulu mereka mengatakan: Tikaman yang tidak mematikan justru akan memperkuat.

Alhamdulillah, sekarang kami lebih kokoh dan yakin dengan pertolongan Allah. Lebih gembira dan kuat dalam memegang teguh daulah kami. Allah Ta’ala berfirman, 

(وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلاَّ إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا) .

“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS Al Ahzab : (33) : 22)

Wallahu’alam bis showab! 

M Fachry

(sumber : al-mustaqbal.net)



Top