SEO BLOG & TEMPLATES
Anti Thoghut »
Risalah Jihad
»
Beginilah Seharusnya Daulah (Negara) Islam
Beginilah Seharusnya Daulah (Negara) Islam
Posted by Anti Thoghut on Selasa, 12 Maret 2013 |
Risalah Jihad
Dalam ceramahnya, yang kemudian
dijadikan sebuah buku, Syekh Abu Hamzah
Al-Muhajir-rahimahullah-memberikan penjelasan tegas dan lugas tentang
hakikat Daulah Islam dan bagaimana seharusnya keberadaannya.
Ceramah beliau, yang kemudian menjadi
sebuah buku, dengan judul Daulah Nabawiyah (Negara Nabi) berisikan
bagaimana negara Islam pertama yang didirikan di masa Rasulullah SAW.,
dan kemudian direfleksikan beliau kepada Daulah Islam Iraq, dimana
beliau dahulu pernah berada di dalamnya.
Dalam kata pengantarnya, beliau menuturkan ;
Segala puji bagi Allah Sang Pemilik
Kerajaan, Yang disucikan dari kezaliman, Yang Maha Besar, Yang Maha
Kekal, Yang Maha Mendengar setiap keluhan, Yang Menghilangkan segala
musibah. Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad, yang diutus
dengan membawa bukti-bukti yang jelas, argument yang tak terbantahkan,
sebagai pemberi kabar gembira, pemberi peringatan, dan penyeru kepada
Allah dengan izin-Nya dan sebagai pelita penerang.
Amma ba’du ..
Setiap muwahhid (orang yang bertauhid)
harus mengetahui bahwa semua millah (agama) kufur dengan berbagai macam
aliran, manhaj dan kepentingan yang bertentangan, mereka semua mengerti
bahwa sampainya jihad di tempat tertentu pada tataran kekuasaan dengan
sudah mulai menerapkan hukum Allah di muka bumi dan mengembalikan
khilafah Islamiyah, adalah suatu hal yang membahayakan dimana ketika
sudah seperti itu keadaannya jihad pasti telah memakan darah.
Ini merupakan persoalan yang mereka
semua bersepakat tidak mungkin membiarkannya begitu saja atau gencatan
senjata dalam hal itu. Karenanya mereka menggunkan semua sarana yang
memungkinkan untuk menghabisinya, dengan mengabaikan prinsip-prinsip
etika dan norma. Dimana telah sekian lama mereka selalu membohongi
hamba-hamba Allah yang tertindas dengannya.
Dan karena kita –sangat disayangkan-
adalah suatu generasi yang dilahirkan dan tumbuh berkembang di bawah
naungan kehinaan dan ketundukkan dan terjauhkan dari nilai-nilai
ketinggian dan kemuliaan. Kita telah lupa kebesaran kita dan sejarah
bangunannya. Karena itu kita harus kembali sebentar kepadanya, terutama
kepada tema yang berkaitan konsep Daulah Nabawiyah (Negara Nabi) dan
situasi dan kondisi di awal perkembangannya. Hal itu disebabkan karena
banyak dari kita memahami bahwa konsep Daulah Isalmiyah sama dengan
konsep Daulah Thaghutiyah (Negara Thaghut) yang diciptakan oleh
perjanjian Six Piccot, semisal negara Saddam Husein, Hafizh Al-Asad dan
Husni (Yang Tidak) Mubarak.
Bagaimanakah Seharusnya Sebuah Negara Islam?
Beliau kemudian melanjutkan, ;
Sebagian kita salah memahami bahwa
konsep Negara yang seharusnya berdiri dan dideklarasikan adalah Negara
seperti di zaman Harun Al-Rasyid, dimana situasi dan kondisinya aman,
mangambil emas laksana air, mengirim pasukan dimana yang terdepan ada di
tempat musuh dan yang paling belakang ada di Baghdad.
Mari kita menuju Madinah Nabawiyah untuk
mengamati, meskipun hanya sedikit, tentang gerakan merintis Daulah
Nabawiyah. Apakah dulu Madinah satu-satunya tempat berlindung yang aman,
tempat berlindung kaum mukminin yang tertindas (mustadh’afin), ataukah
justru periode baru pengorbanan dengan nyawa dan harta serta episode
lain dari episode-episode kefakiran, ketakutan, kelaparan, kekurangan
harta benda, jiwa dan buah-buahan?
Kita ingin mengetahui, apakah di awal
berdirinya Daulah Nabawiyah sudah dalam keadaan kuat dan kokoh yang
tidak tergoncangkan oleh tiupan angin dan berbagai fitnah, ataukah
justru kaum mukminin mengalami ketakutan yang begitu besar sampai
berpurbasangka kepada Rabb mereka?
Apakah pertanian kaum mukminin subur,
perdagangan berjalan lancar dan anggota mereka bertambah, ataukah justru
malah para pemuda, orang-orang tuanya terbunuh fi sabilillah (di jalan
Allah) dan perdagangan mereka macet dan pertanian mereka kering
kerontang?
Apakah negeri itu airnya dingin segar, udaranya enak, ataukah negeri yang penuh wabah penyakit dan airnya kering?
Apakah pasukan Nabi memiliki prajurit
dan perlengkapan yang banyak, ataukah sebagaimana yang digambarkan Allah
dalam firman-Nya,
(وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ )
(Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah (QS Ali Imaran (3) : 123)
berada dalam keterbatasan jumlah pasukan dan perlengkapan serta kesulitan hidup?
Terakhir, pendorong tadzkirah tentang
konsep Negara ini adalah bahwa kami yang ada di Iraq, setiap muwahhid
yang bersama kami merasa gembira dan bahagia. Beberapa hari ke depan
kita akan melewati peringatan tahun kedua berdirinya Daulah Islam di
negeri dua aliran sungai ..
Ya, waktu itu umur Daulah Islam Iraq
memang baru dua tahun, dan atas idzin Allah, kini usia negeri yang
diberkahi tersebut telah berjalan 6 tahun lebih, Alhamdulillah!
Beliau melanjutkan :
Dua tahun bersabar, teguh pendirian, dan pengorbanan ..
Dua tahun, Daulah Islam Iraq masih bisa
eksis. Kami memanen kepala-kepala penjajah dan antek-anteknya.
Kami
membuat orang-orang kafir marah dan membuat hati kaum mukminin lega.
Dua tahun, kami jalankan bahteranya dengan darah-darah kami dan dengan tengorak-tengkorak kami, kami tinggikan bangunannya ..
Dua tahun, para pemuda Islam Iraq teguh
di atas perintah Allah, meskipun berbagai ujian, fitnah dan tuduhan
batil menikam punggung mereka dari kawan-kawan di hari kemarin. Dulu
mereka mengatakan: Tikaman yang tidak mematikan justru akan memperkuat.
Alhamdulillah, sekarang kami lebih kokoh
dan yakin dengan pertolongan Allah. Lebih gembira dan kuat dalam
memegang teguh daulah kami. Allah Ta’ala berfirman,
(وَلَمَّا رَأَى
الْمُؤْمِنُونَ الأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ
وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلاَّ
إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا) .
“Dan tatkala orang-orang mukmin
melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah
yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan
Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka
kecuali iman dan ketundukan.” (QS Al Ahzab : (33) : 22)
Wallahu’alam bis showab!
M Fachry
(sumber : al-mustaqbal.net)
Tweet
