SEO BLOG & TEMPLATES
Anti Thoghut »
Thoghut NKRI
»
Zionis di Pemerintahan Thoghut SBY
Zionis di Pemerintahan Thoghut SBY
Posted by Anti Thoghut on Minggu, 29 Juli 2012 |
Thoghut NKRI
Pengaruh Zionis di pemerintahan SBY saat ini begitu besar, termasuk di kalangan intelijen, kepolisian dan departemen / kementerian. Hal itulah yang menyebabkan para menteri tidak mempunyai policy yg jelas.
Pemerintahan SBY telah membawa misi Yahudi Zionis. Seperti adanya privatisasi BUMN, adu domba antar pemimpin, masyarakat seperti dalam kasus bailout Bank Century, kasus Antasari Azhar & sebagainya. Hal itu dimaksudkan agar NKRI pecah sehingga sumber daya alam yang berupa barang tambang dkuasai antek-antek Yahudi Zionis.
Selain itu banyak lambang-lambang Yahudi di Indonesia seperti mata satu sebagai lambang ICW, Bintang Daud di Gedung Kementerian Keuangan, Jangka, huruf G seperti pda Global TV, lambang huruf 13 & sebagainya.
Buktinya lagi pemerintahan SBY tidak bersedia membubarkan Ahmadiyah sebagai akibat tekanan gerakan Zionisme internasional. Selain itu selalu kerjasama dengan lembaga donor internasional yang dikuasai Zionis seperti World Bank, ADB, IMF, Partnership dan sebagainya.
Kalau pemerintahan sekarang seolah-olah membela perjuangan bangsa Palestina, sesungguhnya itu hnya lips service saja, hanya untuk menyenangkan umat Islam Indonesia yang mayoritas.
Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono juga secara pribadi telah campur tangan untuk mempengaruhi jaksa dan hakim demi melindungi tokoh-tokoh politik korup dan menekan musuh-musuhnya, serta menggunakan badan intelijen negara demi memata-matai saingan politik dan, setidaknya, seorang menteri senior dalam pemerintahannya sendiri.
Dmikian kutipan informasi dari situs Wikileaks yang dilansir harian nasional Australia, The Age, yang bertajuk “Yudhoyono Abused Power” di halaman utamanya.
The Age merilis berita bocoran Wikileaks bertepatan dengan kunjungan Wakil Presiden Boediono ke Canberra, Jumat (11/3/11), untuk bertemu dengan deputi Perdana Menteri Australia, Wayne Swan, untuk mendiskusikan masalah reformasi birokrasi di Indonesia bersama para pejabat negara.
Menanggapi berita miring terkait presiden, pihak istana Kepresidenan RI mengatakan dengan tegas bahwa berita tersebut sekedar gosip. Saat ini pihak istana sedang mempersiapkan opsi untuk menanggapi pemberitaan media Australia tersebut.
“Ada beberapa opsi. Yang pasti, sejauh pantauan kita, tidak ada nilai kebenaran pemberitaan trsbut,” kata staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional, Teuku Faizasyah, kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (11/3/11).
Lebih jauh dkatakan bahwa pihak pemerintah RI sudah berkomunikasi dengan pemerintah AS dan juga Kedubes AS.
Selain itu, Faizasyah juga menegaskan bahwa pemberitaan serupa juga dialamatkan kepada negara-negara lain, namun banyak negara yang meragukan kesahihan bocoran Wikileaks.
“Lihat reaksi berbagai negara besar. Bahkan Rusia, Timur Tengah mempertanyakan kebenaran dari informasi yang terkesan mengada-ngada,” katanya.
Pemberitaan The Age mengutip Wikileaks juga menyangkut informasi penyuapan Jusuf Kalla sebesar 6 juta dollar untuk bisa memegang kendali Partai Golkar. Menyebutkan juga obsesi istri presiden SBY yang memperkaya diri memanfaatkan koneksi politik.
Nah, ketika seorang SBY mengenakan batik dengan simbol Bintang David—kita sudah tahu apa makna di balik simbol tersebut—maka tentulah itu bukan sembarangan pula. Ada pesan-pesan khusus di balik itu, entah kepada siapa hendak disampaikan. Corak batik sangat banyak, tentu bukan suatu ketidaksengajaan jika dia memilih yang ada cetakan simbol Bintang David tersebut, walau bentuknya sudah agak disamarkan.
SBY memang dekat dengan Amerika, karena dia sndiri pernah mengatakan secara terus terang jika Amerika Serikat adalah, “My Second Country”. Kedekatannya ini juga diwujudkan dalam tata ruang dan tata panggung kampanye pilpres-nya kemarin yang menjiplak habis model kampanye tim sukses Presiden AS Barack Obama.
Kita juga tahu, dibelakang SBY terdapat orang-orang yang selama ini dkenal luas sebagai orang-orang Indonesia yang berpaham Liberal. Apakah itu tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) seperti Rizal Mallarangeng, atau pun ekonom Neo-Liberal seperti Boediono (walau gak ngaku), Chatib Basri, Sri Mulyani, M. Ichsan, dan sebagainya. Sebab itu, yang tidak habis mengerti mengapa ada tokoh-tokoh yang mengaku pemimpin umat, apalagi sampai mengatasnamakan tokoh dakwah, yang mendukung mesin Liberalis ini dalam pilpres kemarin. Islam tidak akan pernah bisa bersatu dengan Kapitalisme, Liberalisme, dan juga Komunisme. Jika ada orang yang mengaku sebagai orang Islam / tokoh umat Islam, yang ternyata bisa bersatu dengan salah satu dari ketiga ideologi Dajjal itu, maka jelas Islamnya patut dipertanyakan.
Kita tentu sudah bisa membaca orientasi presiden negara kita ini sekarang. Semuanya berpulang kepada penilaian kita msing-masing. Dan kita berdoa, semoga negara dan bangsa ini selalu mendapat pertolongan dari Allah SWT agar terhindar dari banyaknya bencana seperti yang terjadi lima tahun belakangan ini. Aamiin.
Tweet

