Jihad Melawan Hawa Nafsu itu Jihad Kecil, Jihad Perang Itulah Yang Terbesar


Ini adalah hadits Shohih:

Dari Abi Sa’id al-Khudri r.a. ia mengatakan, ‘Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ia harus mengubahnya dengan TANGANNYA. Jika ia tidak bisa maka ia harus mengubahnya dengan LIDAHNYA. Jika ia tidak bisa maka ia harus mengubahnya dengan HATINYA (dengan membenci kemungkaran). Dan itu adalah selemah-lemah iman.’” (H.R. Muslim) 

Ada sebuah hadits dhoif yang menyatakan Nabi dan tentera Islam baru pulang dari sebuah peperangan kemudian Nabi mengatakan jihad perang hanyalah jihad kecil, manakala jihad nafsulah jihad yang besar. 

Kesan Hadits ini ialah:

1_Umat Islam hilang semangat jihad.

2_Umat Islam tidak mau berperang meskipun Palestina memerlukan kita untuk berperang

3_Umat Islam mengabaikan kekuatan pertahanan dan memberikan peluang kepada musuh untuk menyerang negara Islam

4_Musuh-musuh senantiasa mempercanggihkan teknologi perang untuk menyerang Islam, manakala umat Islam mengabaikan persiapan perang

5_Bumi umat Islam seperti Palestina, Afghanistan dan Iraq takkan dapat dibebaskan dan dipertahankan dari penjajahan Amerika dan Israel 

Penjelasan:
1. Hadits ini tidak boleh dibuat hujjah karena dhoif menurut ahli hadtis. Ia bagi saya adalah hadits maudhu' karena sanadnya bersambung dengan seorang perawi yg kadzdzab. Selain itu, hadits ini tidak logis karena memperkecilkan pengorbanan, kesungguhan, dan penderitaan para mujahid di medan perang, kemudian memuliakan orang yang tidak berperang dan tidak menanggung kesusahan jihad di medan perang. Selain itu, terdapat banyak ayat Al-Quran dan Hadits-hadits Nabi yang menyuruh kita berperang. Hadits ini bertentangan dengan ayat Al-Quran dan Hadits-hadits Nabi yang senantiasa menggalakkan kita berjihad serta mengobarkan semangat jihad.

Antaranya:

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar."(At-Taubah:111)

"...Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (PERINTAH) PERANG, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pengsan kerana takut mati, dan KECELAKAANLAH BAGI MEREKA" (Muhammad:20)

“Hai nabi, kobarkanlah semangat orang-orang mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantara kamu, mereka dapat mengalahkan seribu dari orang kafir, sebab orang-prang kafir itu tidak mengerti." (A;-Anfal: 65)

Hadits Shohih>>

Dari Abu Hurairah ra., ditanyakan, Wahai Rasulullah, amal apa yang menyamai pahala jihad di jalan Allah?" Beliau menjawab, "Kalian tidak mampu melakukannya." Maka diulangilah pertanyaan itu dua kali atau tiga kali. Setiap pertanyaan itu dijawabnya, "Kalian tidak mampu melakukannya." Kemudian berkata, "Mujahid di jalan Allah itu seumpama orang yang berpuasa, yang mengerjakan shalat, dan yang membaca Qur'an, dimana ia tidak berhenti dari puasa dan shalatnya, sehingga sang mujahid pulang dari medan pertempuran." (HR. Bukhari, Muslim, Nasa'I, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi)

Hadits Shohih>>

Dari Abdullah bin Abu Aufa ra., sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda, "Ketahuilah bahwa surga itu berada di bawah kilatan pedang." (HR. Bukhari-Muslim dan Abu Dawud)

Hadits Shohih>>

Dari Abu Hurairah ra., dari Rasulullah saw. Bahwa beliau besabda, "Barangsiapa mati (dalam keadaan) belum pernah berperang dan tidak terbesit dalam benaknya keinginan berperang, maka ia mati dalam keadaan munafik." (HR. Muslim dan Abu Dawud.) 

Perlu pembaca ketahui, banyak di kalangan manusia takut berperang karena itu mereka cenderung kepada hadits dhoif itu untuk dijadikan hujjah mereka agar mereka boleh meningggalkan peperangan fi sabilillah. Sedangkan hadits dhoif tidak boleh dijadikan hujjah.

2. Rasulullah sendiri terlibat lebih dari 60 peperangan kecil dan besar serta baginda tidak pernah mengabaikan tuntutan berperang. Rasulullah juga menghantar pasukan tentara untuk berperang menegakkan Islam

3. Sekiranya umat Islam mengutamakan jihad nafsu semata-mata apa yang akan terjadi dengan negara umat Islam yang ditindas seperti Palestina? Sejarah sendiri telah mengajar kita cara untuk membebaskan Baitul Maqdis ialah dengan berperang seperti Saidina Umar Al-Khattab dan Solahuddin Al-Ayubi

Jadi, sidang pembaca sekalian! Bersedialah untuk berperang:

"Siapkanlah untuk menghadapi mereka (yaitu untuk berperang dengan musuh-musuh ALLAH seperti Amerika, Zionist dan konco-konconya) kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yaitu keperluan perang yang hebat) (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian serta orang-orang selain mereka yang tidak kalian ketahui sedangkan Allah mengetahuinya" (QS al-Anfal [8]: ayat 60)..

Jadi, sidang pembaca sekalian! Kejarlah mati syahid:

Dari Abu Umairah ra. Berkata, bersabda Rasulullah saw., "Terbunuh di jalan Allah itu lebih aku sukai daripada aku memiliki (kerabat) orang-orang kota dan orang-orang desa." (HR. Nasa'i)

Jadi, Sidang Pembaca sekalian! Jadikanlah jihad perang itu sebagai matlamat jihadmu tertinggi:

Kata Imam Hassan Al-Banna:"Serendah-rendah jihad ialah kamu membenci kemungkaran, pertengahan jihad ialah kamu berdakwah dan setinggi-tinggi jihad ialah kamu berperang"

Jadi, Sidang Pembaca Sekalian! Jadikanlah Mati Syahid sebagai jalan pintas ke syurga:

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan kepada mereka dan mereka bergembira hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka yang belum menyusul, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati ." (Ali Imran: 169-170)



Top