Ulama Syu’ Berbondong-Bondong Menghadap Penguasa Thoghut

Hari ini susah membedakan mana ulama, mana selebriti. Semua tampil di depan umum, berlomba-lomba menghadirkan tawa dan senyum penonton. Keduanya sama-sama tampil sebagai penghibur. Sama-sama dijaring dan dibentuk melalui sebuah kontes. Bedanya, kalau yang satu terang-terangan mengumbar aurat dan kata-kata jorok, yang satunya masih bisa mendalil dan berfatwa.

Sementara di tempat lain, sekelompok orang dengan titel yang sama sibuk  menjadi tukang stempel pemerintah.  Apapun yang keluar dari penguasa, meski jelas-jelas kemungkaran, selalu saja ada dalil untuk membelanya. Meski sibuk berkampanye kewajiban taat kepada ulul amri versi mereka. Tanpa pernah mau tahu siapa dan bagaimana klasifikasi Ulul Amri sesungguhnya.

Seperti itulah potret sekelompok orang yang sering dipanggil ulama atau da’i. Karenanya, semakin bertambah banyak jumlah mereka, tak membuat kemungkaran dan kemaksiatan surut. Justru sebaliknya.

Padahal, kehadiran ulama adalah parameter baik-buruknya sebuah bangsa. Apakah karena justru keadaan ulama seperti itu merupakan sebuah kemungkaran dan kemaksiatan tersendiri ?

Itulah  sebagian penggalan dari perbincangan bedah buku  berjudul “Potret Ulama Antara Yang Konsisten & Penjilat”  Buku  ini  ditulis Abu Hafs  Sufyan Al- Jazairy dengan  dengan judul asli “Ashnaful  ‘Ulama Wa Aushafuhun”  setebal  232 halaman.

Bedah buku itu berlangsung  di Masjid Muhammad Ramadhan, Jl. Raya Palau Ribung, Perumahan Galaksi, Pekayon, Bekasi Selatan, Ahad ( 18/3.12), dengan menampilkan nara sumber Ustadz Abu Rusydan dan  ustadz Mashadi.
Ustadz  Abu Rusydan

Menurut Ustadz Abu Rusydan, dibalik gemerlapnya fitnah,  dunia ini masih menyisakan segelintir ulama-ulama yang lurus.  Namunya tak pernah tenar, karena komitmenya terhadap kebenaran, tak bisa dibeli. Saat mendalil dan berfatwa, tak pernah mengkhawatirkan apa reaksi dan kata orang. Mereka menjaga predikat pewaris Nabi dengan pertaruhan segalanya.

Abu Rusydan, memaparkan bagaimana pasang surut ulama sejak  masa khulafaurrasayidin, tabiittabiin, hingga masa sekarang.

Diungkapkan ada tiga katerogi ulama. Yang pertama adalah  ulama kondang.  Ulama ini alim tapi  menjadi hamba publik. Ceramahnya bagaimana kehendak jemaahnya. Yang kedua, ulama  pegawai pemerintah. Ulama ini orangnya alim tapi budak penguasa. Dan yang ketiga adalah ulama agama. Ulama ini  orangnya alim dan penegak agama.

Menurut Abu Rusydan, Ulama kodang adalah ulama yang menuruti  pendapat dan pikiran mayoritas  manusia. Dia bekerja keras untuk memenuhi keinginan  mereka dan senantiasa berusaha untuk mewujudkan  apa yang diinginkan oleh orang banyak. Ia merasa nyaman dengan banyaknya pengikut yang menggemarinya. Dengan begitu, ia selalu berusaha untuk tidak menyelisih keinginan penggemarnya meskipun hal itu harus ia bayar dengan mengorbankan aturan agama yang benar.

Ulama yang kedua kata Abu Rusydan adalah ulama pegawai pemerintah. Mereka itu adalah orang-orang alim yang  gemar memberikan fatwa sesuai pesanan penguasa. Mereka itu adalah  ulama syu’, yang lebih rendah dari seekor lalat dan lebih bodoh dari orang yang bodoh.

Kebanyakan ulama bertipe seperti ini  katanya mengikuti pendapat nyeleneh dan ganjil, atau bahkan kekeliruan dan kekurangan yang dimiliki beberapa ulama lainnya. Tujuannya adalah untuk memutarbalikkan  fakta dan menyamarkan sebuah konsep manhaj agar tampak  bahwa mereka hanya mengekor dan mengikuti para ulama sebelumnya. Mereka memilih pendapat ganjil itu karena sesuai dengan kemauan hawa nafsunya.

Ulama yang ketiga adalah ulama  agama. Mereka adalah ulama robbani  yang konsisten  dalam mengikuti dalil. Ia mengamalkan ilmunya demi mencari ridho Allah.   Ia ulama yang selalu berusaha untuk  mengetahui kebenaran. Kelompok mereka tidak pernah habis  sepanjang zaman.

Sementara ustadz Mashudi, mengemukakan bahwa sekarang ini telah terjadi degradasi ulama.

Dikatakan, pada masa khulafaurrasyidin, sampai tabittabiin,  pantang untuk mendatangi umara. Padahal masa itu umaranya masih menjalankan syariat Islam. Tapi sekarang banyak ulama yang antri dan berbondong-bondong  untuk mendatangi umara. Padahal  umara sekarang adalah pemimpin yang menolak syariat Islam.  Akibatnya para ulama itu nasibnya semakin hina dihadapan umara.

Jika dahulu ulama menjauhi  thaghut,  sekarang kita melihat banyak ulama yang mengatakan  kepada penguasa kalau penguasa  yang nyata-nyata thaghut tapi mereka katakan tidak thaghut.

Muncul lagi sebuah gerakan (harakah),  yang sebelumnya terkesan  untuk menegakkan syariat Islam,  tapi belakangan malah menjadi pendukung penguasa yang thaghut.

“Kalau sudah demikian, tunggulah kehancuran. Sebab kehancuran sebuah negeri  karena ulama tidak berani lagi memperingatkan penguasa” kata Mashudi. (dakta.com/Inas).



Top