SEO BLOG & TEMPLATES
Anti Thoghut »
Mujahidin
»
Shalahuddin Al-Ayyubi, Pahlawan Perang Salib
Shalahuddin Al-Ayyubi, Pahlawan Perang Salib
Posted by Anti Thoghut on Senin, 14 Mei 2012 |
Mujahidin
Shalahuddin Al-Ayyubi dilahirkan di Tikrit (wilayah Irak). Ibnu Khaldun berkata : “Para sejarawan bersepakat bahwa ayah dan keluarga Shalahuddin Al-Ayyubi berasal dari daerah Dawin dan bahwa mereka berasal dari suku Kurdi Rawadiyah.
Ibnu Khalkan menukil dari Ibnu Katsir : “Asaduddin Syirkuh (saudara Shalahuddin Al-Ayyubi) dan Najmuddin Ayyub adalah anak sulung. Keduanya lahir di Dawin dan asal usul keduanya dari suku Kurdi Ar-Rawadiyah.”
Dimanapun terlahirnya Shalahuddin Al-Ayyubi dan darimanapun asal-usul sukunya menjadi tidak penting lagi bagi kaum muslimin. Kaum muslimin mengenal Shalahuddin Al-Ayyubi sebagai seorang muslim yang ta’at pada agamanya dan istiqomah. Ia mengetahui hak-hak tanah airnya dan kemudian mempertahankannya. Ia tahu hak-hak saudara muslimnya, kemudian menunaikan hak-hak tersebut dengan sebaik-baiknya.
Shalahuddin Al-Ayyubi berkiprah pertama kali ketika mempertahankan wilayahnya, Iskandariyah, yang saat itu berada di bawah kekuasaanya sebagai seorang wali (gubernur), dari serangan Pasukan Kristen yang bersekutu dengan seorang penghianat muslim, bernama Syawar bin Mujiruddin. Pada saat itu Shalahuddin Al-Ayyubi dan pasukannya mengalami kesulitan dan kekurangan stok makanan, tapi itu tidak membuat semangatnya kendor mempertahankan Iskandariyah, bahkan beliau bersama pasukannya mempertahankan Iskandariyah mati-matian dan tidak menyerahkan sejengkal tanahpun kepada pasukan gabungan tersebut. Shalahuddin Al-Ayyubi pun akhirnya berhasil mempertahankan Iskandariyah.
Berkah kegigihan dan reputasi jihadnya yang gagah berani dalam menghadapi pasukan Kristen dalam Perang Salib, Shalahuddin Al-Ayyubi selanjutnya dipercaya menjadi orang kepercayaan (perdana menteri) Khalifah Fathimiyah, Al-Adhid. Di saat beliau berkuasa, Shalahuddin Al-Ayyubi mengganti seluruh hakim Mesir karena mereka beraliran Syi’ah dan sebagai gantinya ia mengangkat hakim yang baru dari kalangan madzhab Syafi’i.
Peristiwa ini terus berlangsung hingga wafatnya khalifah Al-Adhid pada tahun 567 H/1171 M yang juga menandakan berakhirnya ke-khalifahan Fathimiyah ini. Dan Dengan berakhirnya negara Fathimiyah di Mesir ini (yang berkuasa selama kurang lebih dua ratus tujuh puluhan tahun, dari tahun 296 H / 908 M hingga 567 H / 1171 M) maka berdirilah negara Sunni dengan kepala pemerintahan Shalahuddin Al-Ayyubi. Beliau menjalankan sunnah dan menumpas segala macam bentuk bid’ah serta memerangi pasukan salib hingga mereka terusir dari bumi kaum muslimin.
Perang Salib berlangsung selama kira-kira dua abad mulai tahun 490-669 H/1096-1270 M. Inilah peperangan sejati antara hak dan batil, antara kaum Muslimin dan pasukan Kristen. Perang Salib disebabkan oleh kedengkian orang-orang Kristen kepada Islam dan umat Islam atas keberhasilan kaum muslimin mensyi’arkan agamanya. Perang ini dinamakan Perang Salib karena tentara-tentara Kristen menjadikan salib sebagai obsesi suci mereka dan meletakkannya di pundak mereka masing-masing. Dalam Perang Salib ini, kaum muslimin mengalami kemenangan-kemenangan gemilang, selain juga menderita kekalahan yang mengenaskan.
Kegemilangan puncak yang dialami oleh kaum Muslimin adalah ketika mereka berhasil membebaskan Al-Quds, di bawah kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi. Pada hari Ahad, tanggal 15 Rajab 583 H / 1187 M, Shalahuddin Al-Ayyubi dan pasukannya tiba di sebelah barat Baitul Maqdis. Pasukan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi berjumlah enam puluh ribu lebih. Pasukan Salib pun telah siap, dan akhirnya kedua pasukan bertemu dan meletuslah pertempuran hebat. Para Mujahidin melihat banyak sekali salib dipasang di dinding-dinding kota dan salib yang terbesar diletakkan di Qubbatush Shakra’. Melihat pemandangan di atas, semangat kaum mujahidin semakin membara untuk bertempur dan membangkitkan ghirah Islam dalam dada mereka. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi bergerak menuju arah timur dari sisi utara benteng kemudian melubanginya dan membakarnya. Akhirnya benteng istana ambruk dengan disaksikan langsung pasukan salib. Mereka pun menggigil ketakutan dan khawatir dengan nasib mereka, untuk kemudian memohon perdamaian kepada Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.
Akhirnya perdamain ditandatangani dengan beberapa persyaratan. Shalahuddin Al-Ayyubi memasuki Al-Quds pada hari Jum’at tanggal 27 Rajab 583 H/1187 M. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi menetap di Al-Quds sejak hari penaklukkannya sampai sebulan kemudian. Beliau menertibkan urusan negara. Beliau menginstruksikan pembangunan rumah-rumah penampungan untuk orang-orang miskin dan sekolah-sekolah untuk pengajaran madzhab Syafi’i. Demikianlah, seorang pejuang Islam yang dalam masa pemerintahannya yang relatif singkat, mampu menaklukkan lima puluh negara-negara besar dan menunjukkan kemuliaan dan kebesaran syi’ar Islam. Beliau adalah Shalahuddin Al-Ayyubi, Pahlawan Perang Salib. Wallahu ‘alam bis showab !
Tweet
